Resensi

Pelajaran Pinggir Jalan

(Harian Bhirawa, 15 Juli 2016)

resensi bengkel buya

BIJAK BESTARI menasihati untuk unzur maa qola, wala tanzur man qola –lihat apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Nasihat ini menegaskan untuk tidak berlaku arogan dan memandang manusia secara seimbang. Siapa pun, apa pun pangkat dan jabatan selalu bisa menjadi guru kebajikan.

Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan hal demikian. Buya Syafii Maarif yang sudah malang-melintang dalam banyak bidang, dikenal sebagai negarawan dan tokoh nasional yang kerap dimintai pandangan atas problematika bangsa, menjadi murid atas guru-guru jalanan. Guru-guru yang ditemui Buya Syafii dalam keseharian tanpa pilah-pilih, mulai dari pemilik bengkel sepeda, sopir taksi, marbot masjid, hingga seorang tukang reparasi kompor gas.

Ketua PP Muhammadiyah era 1998-2005 ini memiliki hobi bersepeda. Bila bepergian tidak jauh, Buya Syafii memilih menggunakan sepeda kayuh dengan alasan menghemat BBM sekaligus olahraga. Dalam sebuah perjalanannya, Buya menemukan sebuah bengkel sepeda yang dipenuhi antrean.

Kebetulan ada sedikit masalah di ban sepeda Buya. Maka mampirlah Buya ke bengkel tersebut. Buya menyaksikan pemilik bengkel itu terampil, ramah, dan tak seperti kebanyakan pemilik bengkel yang memanfaatkan segala kesempatan untuk meraup untung besar.

Pemilik bengkel itu jujur. Selalu memberitahukan onderdil mana yang memang soak dan butuh pengganti. Urusan tarif tak sekalipun memiliki niatan untuk mengemplang. Kejujuran tampak di lapisan masyarakat bawah.

Kejujuran dan kerja keras juga diajarkan oleh Pak Marsudi dan Pak Kunto, sopir taksi yang kebetulan mengantar Buya Sayfii dari bandara ke rumah. Kerja keras pantang menyerah demi keluarga telah mengakar, yang kemudian dibarengi dengan etos totalitas dan kejujuran kepada pelanggan. Maka tak heran bila Buya Syafii menaruh kagum dan mengatakan bahwa keduanya adalah contoh kesuksesan ekonomi di tengah terpaan krisis ekonomi, bahkan menjadi elite dan panutan di lingkungan sopir taksi hingga seputaran rumah mereka berdua.

Teladan lain lagi diterima Buya Syafii dari seorang marbot sepuh bernama Tugimin. Tugimin sudah bertahun-tahun menjadi marbot masjid  Syuhada, Kota Yogyakarta. Masjid yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tugimin sehari-hari mengendarai sepeda dari rumahnya di kawasan Ngestiharjo ke Masjid Syuhada, menyapu dan menyelesaikan administrasi ringan.

Gempa Jogja 2006 yang merobohkan rumah Pak Tugimin tak sedikit pun mengurangi kerja keras serta semangatnya untuk mengabdi kepada kemakmuran Masjid Syuhada. Kerja keras Tugimin itu yang menyentuh sanubari Buya Syafii hingga merekomendasikan nama Tugimin untuk ikut program haji gratis yang diselenggarakan rekan Buya Syafii. Kerja keras dan ikhlas selalu menuai buah manis. Soal cepat atau lambat berbuah, itu seni tersendiri.

Tokoh lain yang juga adalah korban Gempa Jogja 2006 adalah Parmin. Parmin merasa malu bila harus mengekor cara tetangga-tetangganya usai gempa merampas harta benda. Bila kebanyakan menjadi pengemis dan penadah bantuan, Parmin justru terus bekerja dengan tidak mau merendahkan harkat dirinya. Meski pincang akibat terluka, Parmin terus saja keliling untuk menjajakan keahliannya dalam mengasah pisau dan benda tajam lainnya. Parmin adalah sosok tangguh yang menampar rasa malas.

Kerja keras dengan menjunjung etika kejujuran, keikhlasan, totalitas, dan pantang menyerah menjadi kunci penngajaran jalanan yang didapat Buya Syafii. Orang-orang kecil yang ditemui Buya Syafii secara langsung mengajarkan untuk tak mengeluh kepada kesempitan. Selalu ada celah, laiknya air yang mampu merembes pada kapiler-kapiler paling kecil sekalipun.

Buya Syafii menegaskan bahwa sika-sikap mereka tak bisa lepas pada kokohnya pohon iman. Tanpa sinar iman, tak mungkin pribadi-pribadi dalam buku ini mampu menampilkan sebuah episode kehidupan yang layak diteladani. Buya Syafii sebagai tokoh besar tak enggan berinteraksi dan mereguk hikmah dari orang-orang kecil, yang sangat mungkin berpendidikan jauh di bawah Buya Syafii.

Pelajaran bisa didapat dari siapa saja, di mana saja, tak melulu bangku kelas. Jika orang punya mata batin bening, tak usah bicara perihal besar yang rumit. Dari percakapan Buya Syafii dengan wong cilik, selalu terselip pelajaran berharga. Selalu ada kebaikan atau ayat Tuhan pada peristiwa alam dan fenomena sosial. Pada air serasah yang terjun, pada semut yang beriring,  pada lebah yang bergantungan, pada bunyi siamang ketika subuh, atau pada kicau murai di pagi hari. (hal.18) Lantaran ruang kelas terbesar adalah kehidupan beserta fenomena di dalamnya.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s