Jurnal

Pecel Ayam

Dulu, dulu sekali, saya pernah berpikir bagaimana orang masih butuh obat untuk melancarkan ke belakang, makanan penambah serat, atau multivitamin sejenis. Mengapa? Karena saya yang anak dusun dengan mudah merampas dedaunan hijau untuk sehari-hari. Mulai daun singkong, daun ubi jalar, daun pepaya plus bunganya, kembang turi, daun lamtoro, daun sembukan, daun kelor, rembayung, rebung, sendetan, beluntas, bayam, kangkung, dan dedaunan lainnya yang bisa dimakan. Maka kondisi ini membuat kita tak butuh lagi yang namanya obat atau makanan penambah serat. Itu dulu.

Sekarang saat saya harus sedikit menjauh dari kebun belakang rumah yang menyediakan hijau-hijauan –bapak saya sering menggelakari kambing, kalau saya lahap makan urapan daun lamtoro-, barulah saya merasa bahwa makanan penambah serat demi lancar ke belakang itu penting. Waktu serba sempit, berangkat pagi pulang malam, yang tak sempat memasak sendiri, memaksa makan yang ada saja.

Beberapa hari lalu, saya benar-benar mendamba makanan sayur. Saya kangen sayur asem, urapan, pecel, bahkan tumis kangkung pedas yang bawang putihnya cukup banyak. Benar-benar kangen.

Suatu malam, saya yang sudah didera kangen sayuran banyak, mencari warung-warung dekat kosan yang belum pernah saya coba. Maka mata saya langsung terbelalak menemukan tulisan “PECEL AYAM”. Senyum mengembang dan dada dirayapi rasa senang, karena mungkin malam ini kangen saya atas sayuran akan terobati.

“Pesan pecel ayam, Bang!”

Saya tunggu sambil mainan hape dan mengamwasi para pelanggan lain yang begitu lahap makan. Dalam hati saya cukup beruntung karena makan di warung makan ramai, yang biasanya kalau tidak enak ya murah.

Beberapa menit, kemudian pesanan saya datang.

“Lah!” komentar saya seketika. Kenapa bisa? Dalam benak saya yang namanya pecel ayam adalah rebusan sayur -kacang panjang, bayam, tauge, sesekali ditambah kembang turi atau kobis, kemudian disiram sambal pecel kacang tanah. Karena pecel ayam makan saya pikir porsi itu dilengkapi dengan ayam goreng, sebagaimana si empu warung menyediakan wajan besar dan minyak panas serta sesekali mencemplungkan ayam baceman bumbu.

Tapi imajinasi saya itu bubrah. Karena yang saya dapatkan adalah ayam goreng, lalapan, dan sambel.

“Bang, mana pecelnya?”

“Itu pecel ayam.”

Saya terdiam sebentar. Mungkin ini karena tolok ukur pikiran saya dengan penjual pecel ayam itu berbeda. Saya mengutuk diri saya sekaligus menertawakan kekonyolan saya. Saya harus ingat pecel lele itu bukan pecel berlauk lele, tapi lele sambal saja. Maka pertanyaan super konyol saya malam itu, sekonyol pertanyaan seorang pembeli mie ayam yang memprotes penjual mie ayam karena tidak ada ayamnya. Seharusnya penjual pecel lele itu menjawab seperti jawaban “Apa saat membeli lem tikus juga ada tikusnya?”. Tapi mungkin si penjual itu sadar, saya sudah tampak payah dan wagu kalau diketusi lagi.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Pecel Ayam

  1. Hahaha ini juga kejadian yang mirip waktu pertama kali ada tukang pecel lele buka di dekat komplek rumahku di Bandung. Ekspektasi ibuku adalah sayuran bercampur bumbu kacang dengan potongan lele goreng. Semua pupus begitu makanannya datang. Hahaha. Berarti pecel ayam/lele itu dari Jawa Timur aja ya? Di Jogja nggak ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s