Jurnal

Ubat-ubet

Jangan menyerahkan segala sesuatunya kepada yang bukan ahli.

Sepertinya itu sebuah slogan yang selalu abadi dari zaman ia ditemukan sampai nanti, entah kapan. Dalam segala urusan jargon itu menjadi sangat representatif. Mau dari urusan menjahit kancing baju sampai urusan mengatur negara, jargon itu bisa jadi senjata untuk memilah. Ceritanya begini. Pekan lalu saya ada janji ketemuan sama orang bahasa kantornya meeting di Plasa Senayan, petang menjelang magrib. Saya bersama teman kantor, tentu harus mengantisipasi macet. Dipilihlah Grab-Car agar cepat dan kita masih bisa menyiapkan obrolan sebelum meeting. Berangkat lancar, kita sampai Plasa Senayan beberapa puluh menit sebelum janji itu. Tetapi insiden muncul saat pulang.

Kami pulang memaksa naik grab-bike, karena jalan sedang macet akan lebih gegas kalau memakai sepeda motor. Plasa Senayan ke Stasiun Sudriman, di google map tidaklah jauh. Tarif ojeg online itu pun hanya 8000. Sopir saya datang lebih dulu. Saya berangkat. Teman saya satu lagi berangkat 10 menit setelah saya. Saya hanya pasrah, karena saya belum paham betul medan Jakarta. Namun saya merasa kok lama banget ya, padahal di peta sepertinya cuma dekat. Tapi pikiran saya tenangkan dengan kelakar, kalau orang Jawa ada sak ududan, satu isapan rokok, tapi harus dilihat rokoknya siapa. Rokoknya gergasi jelas lebih lama. Mungkin dekat di map, tak cepat karena pengaruh jalanan Jakarta. Tapi….

“Kamu dimana?”

“Di jalan. Kamu sudah berangkat?”

“Aku sudah sampai?”

“What?”

“Emang kalian ke mana?”

“Mana kutahu.”

“Ya sudah kutunggu.”

Setelah semakin lama semakin jauh dan kok nggak sampai-sampai, aku bertanya ke sopir grab-bike. Dan terungkaplah fakta bahwa si bapak baru tiga hari jadi sopir dan belum mengerti medan. Dan parahnya lagi aku pun tak tahu-menahu bagaimana dan pilih jalan mana. Setelah ubat-ubet, tanya sana tanya sini, termasuk kepada sesama sopir grab-bike, saya sampai dengan diketawain teman saya. Saya pun kaku perut, karena merasa bodoh dan bertanya kepada orang bodoh. Hadeeh

Mungkin ya, begitulah. Kita harus jadi ahli dalam bidang kita. Orang ahli sadar dia ahli itu wajib. Orang ahli belum sadar dia ahli, itu nunggu waktunya saja. Orang newbie sadar dia newbie, itu harus. Dan sayangnya, kalau ada newbie tapi tak sadar dia newbie dan sialnya dijadikan patokan mencari solusi. Geger! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s