Jurnal

Wicis

Baru-baru ini saya menjadi Homo Jakartanensis, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma untuk manusia-manusia yang tinggal atau beraktivitas di Jakarta. Terjadi perubahan besar-besaran dalam ritme waktu pada diri saya dan bagaimana gaya komunikasi orang-orang ibukota.

Pola tutur masyarakat Jakarta memiliki dua karakter yang cukup kuat. Pertama, lu-guwe. Bahasa gaul atau slank yang lazim dipergunakan menjadi hal yang sering kita dengar. Bagi mereka yang baru saja menjadi penduduk Jakarta, bukan hanya soal logat daerah yang masih kentara, kegagapan dalam melafalkan lu-guwe menjadi penanda jelas dia belum sah sebagai homo jakartanensis.

Hal kedua yang kini mulai mewabah di Jakarta adalah pencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Bukan sedang dalam percakapan dengan bule atau orang asing, mereka sedang bercakap-cakap sesama orang Indonesia yang lebih kenal nasi daripada rice. Which is, for your informastion, thanks, sorry, dan frasa-frasa lain yang memang mudah dipahami telinga awam.

Belum sah sebagai warga Jakarta yang dikenal sebagai kota berperadaban tinggi dan modern, bila tak mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa wicis itu. Hingga telinga kita bisa menangkap wicis-wicis itu mulai di stasiun kereta, kedai kopi, meja makan, hingga ruang-ruang seminar di hotel berbintang.

Wajar bila masih tetap menggunakan istilah asing bila memang belum ada padanan kata dalam bahasa Indonesia. Tetapi bila tutur cakap keseharian masih diucapkan dalam bahasa Inggris ini semakin membuat bahasa Indonesia semakin ompong di hadapan bangsanya sendiri. Memakai bahasa modern yang tidak kampungan lebih penting daripada tampak ketinggalan perkembangan.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang adaptif terhadap perkembangan istilah. Para pakar bahasa selalu berusaha menemukan atau membuat padaan dari istilah bahasa asing. Mouse, perangkat komputer, memiliki padanan tetikus. Download punya unduh, upload ada unggah, bahkan selfie sudah punya padaan istilah yakni swafoto.

Apa ada hal yang kurang pas dengan temuan saya ini? Saya tidak punya wewenang dalam menilai. Tapi ada sesuatu yang menjadi uneg-uneg hingga saya meluangkan waktu untuk menumpahkannya di postingan ini.

Seolah dengan menggunakan bahasa campuran wicis obrolan kita semakin mendewa dan berkelas lebih atas. Saya yang lebih banyak dididik oleh Jogja, merasakan bahwa selama saya duduk di kelas bernama Jogja, intelektualitas bukan hanya diukur dari sebagaimana fasih kita melemparkan frasa-frasa inggris.

Maka kemudian ada pengkastaan urban dan rural, kota dan udik, gaol dan ndeso. Yang kesemuanya lagi-lagi hanya dipatok dari sekadar lapisan luar. Meski sebenarnya lapisan luar tidak mencerminkan lapisan terdalam. (Termasuk isu hangat yang sedang memanas yakni sastrawan sosialita dan sastrawan pertapa).

Kalau kita tarik garis lebih panjang, efek ini sepertinya berimbas kepada bagaimana novel-novel karya penulis kita. Khususnya yang bergenre metropop. Hampir semua pasti menggunakan judul-judul berbahasa inggris.

Untuk ini saya memiliki pengalaman agak wagu, dua tahun lalu, saya memiliki teman dari Filipina yang kebetulan belajar bahasa indonesia di UGM. Suatu hari dia mengajak ke toko buku. Dia ingin membeli buku bacaan, yang tentu berbahasa inggris agar dia bisa menikmati cerita.

Namun setelah kita berpisah mencari masing-masing, dia membawa dua novel berjudul bahasa inggris namun dia kebingungan karena sinopsis di belakang memakai bahasa indonesia.

“Ini novel bahasa Indonesia atau terjemahan?” tanyanya.

Maka saya geragapan menjelaskan, bahwa ada fenomena nginggris menyerang juga di prosa panjang. Novel. Hingga membuat banyak orang asing yang juga kecelik seperti kawan saya itu.

Mbacot saya kira cukup. Saya bukan pakar bahasa indonesiam, ahli linguistik yang peduli pada kegagahan bahasa indonesia. Di penghujung, saya hendak mengutip kalimat Eko Endarmoko, penyusun Kamus Tesaurus, bahwa Bahasa Indonesia yang kita pakai itulah alasan pertama masing-masing dari kita bisa menyebut diri sebagai orang Indonesia. Mungkin kita sesekali benar-benar menggunakan bahasa Indonesia penuh kebanggaan.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Wicis

  1. dulu jaman aku SMA, kalo ga ngomong lo-gue ke lawan jenis akan terindikasi ada sesuatu “spesial” di antaranya kak. wkwk. padahal kalo orang jawa denger ini mesti mikirnya kasar ya, jane iki yo bahasa daerah betawi sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s