Resensi

Perempuan dalam Tubuh Puisi

(Harian Nasional, 28-29 Mei 2016)

cjnq8shvaaal2kq

Presiden Soekarno pernah menyampaikan bahwa perempuan adalah inspirasi dari segala hal. Sosok hawauntuk adamtersebut menjadi samudera keindahan yang tak habis direguk. Maka sangat tidak wajar bila perempuan selalu menjadi bahan perbincangan, termasuk dalam puisi.

Cyntha Hariadi, penyair muda kelahiran Tangerang ini menjadikan sosok perempuan menjadi bait-bait puisi indah. Buku kumpulan puisinya Ibu Mendulang Anak Berlari menjadi kuasa perempuan termasuk dalam larik-larik puisi.

Menurut Aristoteles, puisi adalah ayat Tuhan yang terjatuh dan diterima oleh penyair. Tak jarang dalam bait puisi pembaca menemukan kebajikan luar biasa. Bahasa halus penyair, bahasa sederhana, dan pilihan diksi mengena menambah kesan suci dari tubuh puisi itu sendiri.

Cyntha membuka kumpulan puisi ini dengan puisi Anak Perempuan. Seorang anak perempuan yang semula dibanggakan ibunya, suatu kali pasti akan menjadi ibu juga. Tapi dalam bahasa Cyntha kubayangkan anak perempuanku tumbuh/ketika ibuku menginjak duri di kebun anaknya sendiri/dan menyesal telah mengajarinya bertanam. (hal.1) Pendidikan seorang ibu kepada anak perempuannya tidak hanya akan berhenti pada anak perempuan. Melainkan berlanjut hingga generasi setelahnya, karena anak perempuan itu kelak juga punya anak perempuan.

Ibuku melahirkanku sebagai seorang anak, anakku melahirkanku sebagai seorang ibu.

Tak ayal bila kita sering mendengar pepatah bahwa mendidik perempuan adalah mendidik satu generasi. Menyaksikan kondisi sekarang bahwa perempuan selalu rawan akan pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, hingga pembunuhan sadis. Puisi menjadi warning halus untuk pembaca.

Hal yang selalu identik dengan perempuan adalah eksplorasi tubuh dan sensualitas. Cyntha dengan gaya lugas dalam puisi Payudara, menyindir  tubuh perempuan dengan metafora payudaraa. Buah (dada) ini suka bibir, tangan, dan matamu, kecuali pompa susu. (hal.9) Proses mesinisasi sebuah kodrat perempuan menjadi hal paling menyedihkan dalam batin perempuan.

Menyusu yang seharusnya menjadi jalinan intim antara ibu dan anak, mendadak menjadi hal paling otoriter karena diatur sekaligus dipaksakan oleh mesin bernama pompa asi. Perempuan harus menjadi pabrik susu dan mengenyahkan jalinan batin ibu-anak.

Lelaki dan perempuan yang kemudian menjadi ayah dan ibu memiliki sumbu masing-masing. Bukan saja soal peran dalam rumah tangga. Ayah dan ibu juga memiliki kecenderungan berlainan dalam mengekspresikan kasih sayang. Dalam puisi Jarak, tersajilah bagaimana perbedaan keduanya. Ingat ayah menatap bulan, ibu menatap matahari? Ingat ayag merindukan kita dari amat jauh, dan ibu kerap memarahimu karena terlalu dekat? (hal.16)

Dalam buku ini Cyntha juga membedah protes halus perempuan dalam posisinya sebagai seorang istri. Cyntha menyatakan bahwa istri selalu berada di belakang garis suami. Dalam puisi Beres-beres, dijabarkanlah bagaimana seorang istri harus merendahkan dirinya untuk melayani suami. Semua dibereskan, mulai dari remah-remah roti, serpihan kertas, pisang busuk, remote kontrol, hingga sebelah tangan dan sebelah kaki harus dipunguti dan diletakkan di posisi semula, ketika ia (suami) sedang tidur. (hal.15)

Protes lebih satir dilontarkan dalam puisi Subyek. Sosok perempuan tidak bisa menuduh suami atau lelaki sebagai makhluk yang menguasai dan menjajah kalau aku tak henti menciumi kakimu? (hal.34) Selamanya perempuan harus kembali ke kodratnya, yakni sebagai istri yang mengabdikan hidup kepada suami. Hal ini yang disuarakan oleh Cyntha dalam puisi-puisi di buku ini.

Puisi lain yang begitu lembut mendedah bagaimana ketulusan seorang ibu kepada anak ialah puisi Ibu Mendulang Anak Berlari. Puisi yang kemudian dipilih sebagai judul buku ini benar-benar merepresentasikan seorang ibu yang tulus berkorban demi anak. Ketika kecil seorang ibu akan mendulang atau menyuapi anak. Tak lepas dari ingatan kita ketika seorang ibu menyuapi, maka tak jarang anak berlari ke sana ke mari. Dan ibu membawa makanan harus ikhlas mengikuti dan sangat mungkin hanya dimakan dua atau tiga suapan. Itulah cinta ibu yang sejati.

Sampai besar pun, ibu mendulang. Bukan nasi, tapi wejangan. (hal.89) Kasih ibu benar-benar tak ada ujungnya. Ketika anaknya sudah dewasa ibu menjadi muara ketenangan. Ibu akan rela mendulang nasihat kepada anak-anak. Maka pangkuan dan rengkuhan ibu adalah obat segala lapar dan gundah anak-anak.

Yang biasanya puisi tampil dengan bahasa dan metafora yang sudah dipahami orang awam, puisi-puisi dalam buku ini begitu mudah dipahami. Makna dan maksud yang dituju Cyntha begitu gamblang terbaca dengan gaya tutur dan diksi sederhana. Gejolak batin, ketersudutan istri, hingga kasih cinta seorang ibu begitu terasa. Tak aneh bila buku kumpulan puisi ini diganjar sebagai juara 3 dalam sayembara manuskrip buku puisi oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015.

Seperti perempuan pada nyatanya, puisi ini hadir dengan bahasa lembut nan indah. Namun sesekali garang karena sedang melontarkan protes atas ketidakadilan. Karena puisi-puisi ini meniupkan hidup di mulut kami sampai kami berkobar dalam bara badani dan hidup sekali lagi. (*)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s