Cerpen

Suara Lain

(Majalah Ummi, edisi Mei 2016)

13048000_10208047291891919_5752981438632922277_o

Tenggorokanku gatal, bak tersedak koral dan pasir kasar. Padahal aku sedang tidak menderita radang. Barusan seorang jamaah wanita, memintaku berazan. Tubuhku menolak layaknya kanak-kanak yang dipaksa makan sayur. Tubuhku kotor penuh dosa, terlalu najis untuk sebuah panggilan suci. Aku berdiri di muka mikrofon, lalu tertatih melagukan seruan Tuhan. Aku lupa lafaz-lafaz yang diucapkan. Pikiranku menerawang sambil terus mengingat urutan lafaz suci dan berapa kali harus diulang.

Sekarang kecemasanku sampai ke kepala.

Imam tak kunjung datang. Apa azanku tidak terdengar? Apa aku lupa meng-on-kan mikrofon? Sudah! Aku bahkan sempat mematuk-matukkan jemari tiga kali untuk memastikan mikrofon sudah menyala sebelum kumulai. Jangan-jangan imam dan jamaah tahu akulah yang berazan. Akulah, si lelaki berandal. Tidak sah panggilan suci dilakukan oleh lelaki brandal yang dipanggil anjing kudisan oleh istrinya sendiri.

Kuharap akan segera datang imam dengan kepribadian baik.  Aku jadi makmum saja. Lekaskan Tuhan! Aku tidak mungkin menjadi imam. Tidak sah salat diimami bajingan.

Tuhan, apa di rumah suci-Mu doaku terlalu pelan?

Dimana Pak Kiai? Ustad? Mengapa aku dijebak dilema seperti ini saat aku baru sekali ke masjid? Pikiranku terjerat benang imajiner. Benang itu mengikat erat, semakin rapat, ketika jam semakin mendekati batas maksimal untuk iqomah.

Sore tadi, istriku pergi sambil memaki. Enam bulan lalu kunikahi siri, tanpa restu dari orangtuanya. Aku tetap tidak bisa menjadi suami baik, seperti janjiku sebelum menikah. Aku tetap berjudi dan minum alkohol. Pertengkaran hebat berujung pada kata-kata menembus sumsum.

“Aku capek! Hidup serumah dengan pemalas kayak kamu!”

Aku diam saja.

“Benar. Kamu anjing! Buluk! Suami yang tidak berguna!”

Aku anjing? Aku tidak memamah tulang mentah, lidah juga tidak kujulurkan keluar, tidak menyalak juga berekor. Apa aku senajis anjing? Sebisa kubela harga diri, karena hanya itulah yang kumiliki.

Dia justru menyalak. Dia keluar membanting pintu. Aroma segar menyesakkan dada, mengangakan luka. Segelas teh yang dua jam lalu manis, kutelan hambar. Muncul bintik pahit. Keresahan itu tanpa sadar menyeretku menuju masjid. Aku ingin tenang. Mungkin di rumah Tuhan akan kudapatkan ketenangan.

***

Ruang-ruang di sekitarku dipenuhi aroma kekhawatiran. Aku manusia sampah, tak layak didaur ulang. Mungkin benar aku anjing liar, suspek rabies.

Jalan raya yang membentang seperti aorta lancar. Mobil saling balap. Klakson mengagetkan. Aku menjangkung dekat mihrab imam. Sendirian. Mungkin bersama Tuhan yang dikerubuti Malaikat. Kulirik jam.

Di ruang salat wanita, sudah ada tiga suara berbeda. Tidak mungkin wanita jadi imam salat. Tuhan jangan pojokkan aku dalam dua pilihan si malakama.

Pertama iqomah dan menjadi imam tiga wanita. Itu petaka! Tidak mungkin salat dipimpin lelaki brandal yang suka menegak arak. Bukankah imam itu dimintai pertanggungjawaban? Bagaimana bisa? Aku mempertanggungjawabkan diriku sendiri saja kepayahan, apalagi harus ditambah dengan beberapa makmum. Aku tidak pantas, Tuhan. Aku tidak mau mengajak makmum terjerembab dalam neraka-Mu. Cukup aku saja yang hidup dalam nerakaku.

Atau…

Aku tidak iqomah. Aku pergi dan bergeming di pinggir trotoar. Kutinggalkan saja tiga jamaah wanita itu. Biar saja masjid ini sia-sia tak ada yang meramaikan.

Tuhan, waktu iqomah sebentar lagi. Tapi mengapa belum juga kau datangkan satu pun orang.

“Kapan mau iqomah?” tanya seorang wanita dari tempatnya yang ditutupi kain hijau tebal, setinggi 2 meter.

“Sebentar. Kita tunggu imam.”

Puluhan mobil mewah lewat. Tiba-tiba terdengar klakson motor kencang. Seorang lelaki dengan gerobak jagung rebus menyeberang tanpa aba-aba. Aku memanjangkan kepala, mendengar pengendara motor menyebut-nyebut binatang melata.

“Menunggu siapa?” tanya mereka kembali.

“Aku menunggu imam.”

“Ayo lekas iqomah, kalau tidak kita keburu isya,” suara wanita lain, sedikit parau, renta.

“Sudah kamu saja imamnya, tidak mungkin kami kan?” suara itu seperti teror.

Tolonglah aku, Tuhan. Kumohon. Apa doaku terlalu lemah, hingga tak mampu menerobos lapisan langit? Aku tidak mau memandang lagi jarum jam. Aku tidak mau menerima terornya yang halus, tetapi terus menghunus pedang. Menebar kekhawatiran. Waktu tidak akan berhenti. Meski kusangkal habis-habisan.

“Kita tunggu sebentar lagi.”

Terdengar bisik-bisik suara menggerutu.

Aku modar-mandir. Kakiku mulai tak tahan berdiri tegak. Mataku mencari-cari motor, mobil siapa yang akan berhenti. Gelap mulai memenuhi udara.  Tuhan, apa Engkau rela masjid-Mu diimami aku yang tidak pernah mengingat-Mu?

Dari kejauhan sayup iqomah mengalun. Tetapi, aku masih ragu. Takut. Gamang untuk kembali berdiri di depan mikrofon. Siapa yang imam? Aku? Tidak mungkin. Istriku memakiku anjing. Temanku bilang aku bajingan. Tetangga rumah mengumpati sampah. Apa sabda Tuhan? Aku kira tidak jauh dari hal-hal itu, karena tidak pernah mengingat-Nya.

Aku meremas tangan. Gugup. Kakiku tak henti menghentak lantai berlambar karpet warna hijau. Tuhan, di situasi kepepet seperti ini, apa tidak Engkau turunkan keajaiban? Cukup datangkan seorang yang pantas menjadi imam di rumah ibadah-Mu ini.

Hingga tidak lagi terdengar iqomah, aku belum berani. Ada segerombol keberanian mengambil risiko terburuk. Aku iqomah. Sebelumnya kumatikan saja speaker luar, agar tidak ada orang yang mendengar. Aku iqomah dengan suara sangat pelan.

Aku menjadi imam, tetapi tidak di mihrab imam. Di saf makmum. Mihrab imam terlalu istimewa untukku. Aku masih takut. Aku terlalu hina menjadi pemimpin ritual ibadah ini.

Kutakbirkan kebesaran-Mu, Tuhan. Kubaca alfatihah masih dengan suara perlahan. Aku harap malaikat-Mu tidak menulis kesalahan pembacaan ayat dan melafalan tajwid. Aku tidak pernah ada dalam situasi gugup seperti ini. Tuhan, maafkan aku yang masih kotor, lancang menjadi imam salat di rumah-Mu. Kulirik baris di belakangku. Masih kosong.

Mungkin begini rasanya mati dan sendiri. Sepi hingga aliran darah terdengar. Detak jantung seperti suara sirine kereta. Jelas terdengar. Dengus napas hangat terasa seperti sakaratul maut. Deru-deru mobil di jalan raya terbendung oleh sekat sepi.

Ketika selesai alfatihah, seketika remangku hidup. Serempak amin mengambang dari saf belakang, serasa lebih kencang dari suara tiga wanit yang memang harus perlahan mengaminkan. Mungkinkah malaikat ikut mengaminkan alfatihah-ku? (*)

Advertisements

4 thoughts on “Suara Lain

  1. Keren, Mas. Saya pernah beberapa kali di posisi seperti ini. Belum layak menjadi imam salat yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s