Cerpen

Reuni

(Republika, 15 Mei 2016)

reuni-rendra purnama

Saya baru merasakan kalau waktu itu seperti mengejar ekor layang-layang putus. Sampai napas ini hampir habis, tak sekali pun dia mau mampir di tangkapan. Hari seperti berlari. Pekan tak sampai dikejar. Bulan menggelinding penuh kecepatan. Dan tahun yang lewat membuat semua tubuh ini makin rapuh. Bukan hanya soal waktu yang tidak bisa diputar bak piringan hitam belaka. Menikmati waktu pun perlu usaha ekstra.

Saya masih mengingatnya betul. Di ujung-ujung perpisahan, kami bertiga berjanji untuk sesekali menelepon, mengirimkan pesan, atau sengaja mengatur janji bertemu bisa jumpa dengan jeda liburan. Tapi, hidup kami ternyata lebih susah diatur. Mula-mula kami masih sering bertelepon seminggu sekali di tengah kesibukan kerja. Juga saling kunjung. Kegembiraan kami masih sama, seperti saat kami masih di kota yang sama dulu, Jogja.

Tetapi, bisa disebut sebagai ceruk yang pertama-tama membuat kami jauh, ialah saat kami beruntun saling mengirimkan undangan pernikahan. Kami mulai sibuk dengan urusan keluarga kecil masing-masing. Dan yang lain pun mulai takut-takut untuk sekadar menelepon menjelang malam, karena khawatir menganggu masa-masa intim bersama keluarga. Yang dahulu ketika lebaran, masih bisa di hari ketiga atau keempat sekadar berkumpul menghabiskan opor ayam, kini kami harus mulai mengatur jadwal safari lebaran. Mulai dari rumah orang tua dan kerabat, juga ditambahi dengan deretan sesepuh dari keluarga mertua. Belum habis, mendadak masa cuti lebaran sudah tipis. Jadilah sapa dan salam lebaran hanya kami sampaikan lewat pesan pendek atau suara dari kejauhan.

“Mas, jangan sampai lupa!” Intan, istri saya selalu mengingatkan untuk tak lupa memberi ucapan selamat lebaran kepada dua kawan saya itu. Selalu saya iyakan, tapi jarang sekali kami benar-benar berkumpul bertiga secara fisik.

Kami adalah kawan yang benar-benar seperti asam dan garam yang diperjumpakan di belanga sayur asam. Kami kuliah bukan di jurusan yang sama, bukan dari kota yang serupa, dan entah mengapa waktu mendadak mempertemukan dan mengakrabkan. Fardan dan Seto. Kadang Saya merasa kebingungan dari titik mana kami harus mengisahkan keakraban kami yang seperti mukjizat itu.

Usai kuliah, kami mendadak harus kembali menjadi asam dan garam yang balik ke peraduan asal. Saya kebetulan harus menetap dan bekerja di Jakarta. Fardan kembali ke Balikpapan, tempat kelahirannya dan kemudian menjadi salah satu pejabat kedinasan. Dan Seto, mungkin dia satu-satunya dari kami yang tak berdomisili satu. Setelah bertualang untuk melanjutkan studi ke Norwegia dan Swedia, kemudian bekerja tiga tahun di Singapura dan akhirnya kembali ke Jogja, garis awal pertemanan kami berasal.

Saya dan Seto masih sering berjumpa. Kalau kebetulan saya sedang ada acara atau liburan keluarga di Jogja, tentu Seto adalah kawan yang harus saya jumpai. Begitu sebaliknya. Tapi kalau Fardan, karena jadwal sebagai pejabat yang begitu padat, tak kongruen dan selalu selisih dengan kami berdua. Jadilah mungkin hanya tak lebih dari sepuluh kali, kami bertiga bisa kumpul bersama sepanjang hampir 40 tahun kami berpisah.

Mata mendadak hangat membayangkannya. Ujung mata basah. Dua Minggu lalu saya mulai memasuki pensiun. Waktu yang dahulu begitu susah dan terasa sempit, mendadak berubah wujud seperti sabana lapang yang saya tak tahu dari mana harus memulai untuk menghiasinya. Tampak waktu begitu banyak dan saya sampai-sampai kehabisan ide untuk itu. Maka, membayangkan reuni bersama Fardan dan Seto adalah pilihan yang mengasyikkan.

Saya kirim pesan kepada keduanya. Sekadar untuk menyapa juga mencari tahu apakah ada kemungkinan saya bisa menghabiskan masa-masa awal pensiun dan pesangon untuk bersua dengan keduanya.

Fardan membalas bahwa sedang umroh dan mungkin akan tiba di tanah air minggu depan. Jelas tidak mungkin, saya membatin. Saya membalas pesan Fardan dengan doa keberkahan dan serentet titipan doa yang harus Fardan panjatkan. Lantas saya mulai tak berani mengirim lagi, takut menganggunya.

Seto, seperti para dosen kebanyakan, terlalu sibuk dengan aneka pekerjaan. Saya maklum bila pesan saya baru dibalasnya dua malam kemudian.

“Aku ke Jakarta besok,” suara parau Seto terkirim via telepon.

“Ayo kita sarapan. Lama kita nggak sarapan bareng,” jawab saya.

“Ok,” sahut singkat Seto.

Lantas kalimat-kalimat kami terlontar seperti mata ketapel. Meluncur tanpa kendali dan membayangkan aneka hal yang harusnya kami perbincangkan. Tapi, kalau boleh saya jujur, saya mulai canggung mengajaknya bergurau. Selain Seto yang sudah menjadi guru besar, profesor, juga karena saya merasa tidak terlalu etis bila bercanda di telepon tengah malam padahal sangat mungkin Seto ingin gegas istirahat. Lantaran besok Seto harus mengajar dan kegiatan padat.

“Seto, nanti kabar-kabar ya,” kalimat saya berusaha menutup percakapan.

“Siap. Aku kangen sarapan sama kamu. Salam buat Intan,” ujar Seto.

Lantas salam kami saling berbalas. Suara klik tanda telepon tertutup terdengar. Mendadak sunyi merayapi hati. Kurasakan kesepian yang halus namun begitu dalam merasuk ke lubuk perasaan. Saya benar-benar ingin berkumpul bersama dengan Fardan dan Seto. Mengenang kebersamaan yang begitu dalam kami kenang.

***

“Mas, jadi mau sarapan sama Pak Seto,” Intan pagi sekali mengingatkan.

Saya masih memandang beberapa headline koran sambil menunggu pesan dari Seto. Selesainya mengisi seminar semalam, Seto bilang akan memberi kabar untuk jam waktu sarapan. Seto memang telah memberi lokasi hotel dimana dia menginap. Tentu hotel bintang lima.

“Kalau tidak, ini kubuatkan setangkup roti isi,” Intan masih mengejar jawaban saya.

Saya berdiri dari kursi. Koran saya lipat menjadi empat, kemudian saya geletakkan di meja dekat vas bunga plastik. Saya mengulum senyum untuk Intan. Kicau burung kenari dari teras tetangga sudah cukup membuat pagi bertambah ceria.

“Palingan, Pak Seto ketiduran. Atau buru-buru hingga belum sempat memberi kabar,” kalimat Intan berusaha menyiram rasa tenang.

Saya mengiyakan sambil meraih roti isi dan mengigitnya perlahan. Intan menemani makan. Dia begitu semangat menceritakan segala hal yang mungkin dia lupa bahwa semalam sebelum tidur, dia telah mengungkapkanya. Mulai dari Arkana, cucu kami paling sulung yang minggu depan dikhitan. Anak kedua kami yang hamil dua bulan sedang tesis masternya akan disidangkan. Juga para ibu-ibu lansia di kompleks yang hendak membuat acara workshop pengolahan sampah plastik. Saya mendengarkannya begitu saksama. Bukan karena saya tua dan lupa semua detail cerita Intan. Melainkan saya tidak ingin membuatnya kecewa karena keasyikannya bercerita saya potong begitu saja. Saya sesekali mengangguk sambil mengomentari sekenanya.

Selesai sarapan, seperti hari-hari biasa, saya menyalakan laptop. Membuka dan saya tidak tahu harus mengerjakan apa. Buka sana, buka sini tanpa kejelasan. Akhirnya hanya membuka sebentar, lantas ditutup kembali. Menghapus beberapa file yang tidak perlu, membersihkan recycle bin, memindah folder dan merapikan nama file. Sesuatu yang tidak perlu dan buru-buru dikerjakan.

Tanpa saya sadari, Intan sudah pulang dari pasar.

“Pak Seto belum memberi kabar?” tanyanya. Seplastik belanjaan sayur dan lauk diletakkan di atas meja. Keringat membuat bagian belakang blusnya basah. Saya hanya menggeleng.

Jam di dinding sudah tepat di angka sepuluh. Sudah lewat untuk waktu sarapan. Mungkin memang belum jodoh untuk bersua dengan Seto. Saat saya hendak masuk ke kamar berganti pakaian yang lebih santai, mendadak suara klakson mobil mengagetkan. Taksi berhenti di depan pagar. Saya melongok ke luar.

“Seto!” suara teriakan saya cukup kuat. Saya gegas ke pekarangan. Intan yang di dapur pun ikut-ikutan keluar.

Kami berpelukan lama, berharap semua rasa rindu itu luntur dalam satu rengkuhan. Kami sama-sama sudah tua. Badan kami pun tak seramping dulu lagi. Seto mengenakan setelan lengkap, jas dan dasi, mungkin bersiap untuk acara selanjutnya. Saya mempersilakannya duduk.

“Wah, minta maaf. Tadi sarapan nggak jadi. Dan sekarang aku buru-buru ke bandara untuk flight jam 2.”

“Tapi masih bisa buat ngeteh kan?”

Lantas kami tertawa. Banyak obrolan, dari yang lucu sampai soal-soal serius.

“Kita nunggu Fardan selesai umroh saja. Fardan kita paksa buat ke Jogja. Kalian akan kujamu,” tawar Seto.

“Bener loh ya. Sudah diiyakan, nanti kamunya ke luar kota ngisi seminar.”

“Nggak. Sana sms Fardan!”

Setelah cukup memaksa Fardan untuk mengosongkan jadwal usai umroh, kami bertiga sepakat untuk seminggu lagi, akan bereuni di Jogja. Tempat kami dahulu merampungkan sarjana dan berkawan. Akan menjadi akhir pekan yang sangat menyenangkan. Seperti acara napak tilas semua tempat yang berkesan di hati kami.

Meski berat, saya akhirnya harus mengantar Seto sampai pagar dan melanjutkan ke bandara untuk kembali ke Jogja. Semua telah memiliki labuhan masing-masing. Nelayan tahu betul kapan harus menurunkan layar dan kembali ke pantai untuk bersandar.

Dada ini rasanya ditumbuhi sebatang ilalang. Menyeruak dari akar kering yang sudah lama terbakar. Seminggu lagi, kami akan bersua bertiga. Seminggu lagi. Saya bergumam.

Masa-masa yang dahulu kami cintai akan kembali lagi. Reuni tiga karib di masa-masa tua pensiun. Fardan mengirimkan foto-fotonya selama di tanah suci. Seto juga sudah merancang aneka jadwal wisata dan kudapan kuliner kenangan semasa kami menjadi mahasiswa. Tapi, angin kadang memutuskan benang layang-layang.

“Fardan sakit sepulang umroh,” telepon Seto.

Mendadak dada ini nyeri seperti luka yang tersiram limau. Saya terdiam sebentar. Ujung suara Seto pun senyap. Kami berdua sama-sama terdampar di gurun penuh fatamorgana. Rencana bertamasya sekaligus reuni di Jogja harus kami undur sampai waktu yang kami sama-sama tak mengetahui.

Saya melepas napas serta beban yang seperti bongkahan batu menyumbat dada.

“Ya sudah. Kita undur saja, Seto,” saya menjawab lirih.

“Tidak mungkin kita senang-senang, sedangkan Fardan sakit di rumah sakit.”

“Betul. Kalau pun kita tak bisa reuni di Jogja, mungkin kita akan reuni di surga.”

Kalimat itu mendadak membuat senyap semakin membekap. Kami sama-sama tahu, tuwo adalah nunggu metune nyowo, tua itu menunggu ajal tiba. Kematian memang akhir normal dan sah bagi setiap orang. (*)

Advertisements

2 thoughts on “Reuni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s