Resensi

Catatan dari Guantánamo

(Koran Tempo, 7-8 Mei 2016)

Sejak resmi berdiri pada tahun 1903, Penjara Guantánamo menjadi bagian dari sejarah Amerika dalam penumpasan terorisme. Penjara yang semula diperuntukkan sebagai pangkalan militer Angkatan Laut Amerika di Teluk Guantánamo, Kuba itu secara khusus menampung tahanan khusus terorisme.

Kesan tertutup dan kejam sangat kentara lantaran kisah-kisah yang bocor ke telinga dunia. Hingga banyak protes ditujukan kepada pemerintahan Amerika, dan buntutnya saat pemerintahan Presiden Obama, terjadi mogok makan oleh 100 dari 166 penghuni penjara tersebut. Tanggal 30 April 2013, Presiden Obama memberikan janji untuk menutup fasilitas penahanan itu.

Buku Guantánamo Diary ini merupakan memoar sekaligus kesaksian atas perlakuan militer Amerika. Perlakuan semena-mena terhadap muslim yang sepanjang hidupnya tidak pernah terlibat kasus teroris.

Mohamedou Ould Slahi lahir 1970 di Rosso, kota kedua terbesar di  Mauritania. Mohamedou anak kesembilan dari 12 bersaudara. Ayahnya seorang peternak unta dan lembu meninggal saat dia berusia 13 tahun. Lantas keluarganya pindah ke kota Nouakchott. Tahun 1988, Mohamedou mendapatkan beasiswa untuk belajar teknik elektronika di University of Duisburg, Jerman. Kemudian sempat bekerja sebagai insinyur listrik di perusahaan Jerman.

Tahun 2000, Mohamedou hendak kembali ke Mauritania dari Amerika. Itu adalah perjumpaan pertamanya dengan militer Amerika Serikat. Sempat dinterogasi dan ditahan hingga 19 Februari 2000. Konsen pertanyaan adalah hubungan Mohamedou pada Plot Milenium. Namun Mohamedou kembali harus berurusan dengan pihak militer sesampainya di Mauritania.

Sempat dinterogasi selama dua minggu oleh pihak militer Mauritania, Mohamedou dibebaskan karena tidak bersalah. Namun pada 20 Novmber 2001, Mohamedou dijemput di rumahnya usai pesat perkawaninan adiknya. Penjemputan itu adalah lambaian selamat tinggal Mohamedou terhadap keluarga dan kemerdekaan yang tidak pernah dibayangkannya.

Mohamedou sempat diinterogasi  Amman, Yordania. Kemudian dipindahkan ke Bagram, Afganistan. Hingga ujungnya pada tanggal 5 Agustus 2002, Mohamedou resmi menjadi tahanan Guantánamo.

Tuduhan sementara soal keterkaitan Mohamedou pada Plot Milenium tidak berujung. Mohamedou masih saja ditahan. Lantas saat bom WTC 9/11 terjadi, Mohamedou lantas dihubungkan dengan itu.

Militer Amerika menuduh Mohamedou terlibat serangan 9/11 karena Mohamedou beberapa kali melakukan kontak telepon dengan sejumlah anggota Al Qaida, sepupunya disebut-sebut sebagai penasihat spiritual Osama bin Laden, dan pada bulan Oktober 1999, saat masih di Jerman Mohamedou bertemu dua pembajak 9/11, Marwan al Shehhi dan Ziad Jarrah, dan orang ketiga yang dituduh membantu memfasilitasi serangan-serangan, Ramzi bin al Shibh.

Tetapi fakta bahwa Mohamedou terlibat langsung tak pernah ada. Dan selama itu, Mohamedou harus mendekam bersama tahanan lain kasus teroris di Guantánamo. Menerima siksaan baik fisik maupun psikis dari pihak CIA juga Militer Amerika di Guantánamo. “Saya tidak pernah melakukan kejahatan terhadap AS, begitu pun AS tidak pernah mendakwa saya atas suatu kejahatan. Oleh karenanya, saya menuntut dibebaskan sesegera mungkin,” tukas Mohamedou.

Kesewang-wenangan militer Amerika bukan hanya soal menjebloskan Mohamedou yang tidak bersalah ke penjara terkejam Guantánamo. Tetapi bagaimana militer Amerika menyiksa tahanan. Mulai kondisi penjara yang tidak layak, sempit, dengan kakus yang dekat tempat tidur. Makanan tidak layak untuk manusia. Juga penindasan psikis lainnya, ditelanjangi, dilarang ibadah, juga hubungan seks sesama jenis.

Belum lagi, Mohamedou harus menghadapi fakta bahwa keluarga di Mauritania harap-harap cemas menanti. Ibunya harus meninggal karena kehilangan harapan. Aneka bentuk penipuan dari pihak militer Mauritania yang berkata bisa membantu.

Mohamedou menulis Guantánamo Diary sebagai bentuk pelantang atas ketidakadilan Militer Amerika. Hingga sekarang, 15 tahun dari Mohamedou dijebloskan penjara, Mohamedou tak diberi kebebasan. Usulan pembebasan ditolak oleh mahkamah dengan alasan masih ada kemungkinan Mohamedou terlibat. Selama itu pula, Mohamedou harus terus mendekam dan menerima siksaan.

Bukti ketidakadilan militer Amerika yang sangat kentara adalah bagaimana pihak militer Guantánamo berusaha melakukan sensor terhadap catatan Mohamedou. Catatan Mohamedou diterima oleh Larry Siems, editornya, yang kemudian diterbitkan dalam buku ini, mengalami sensor ketat. Terdapat 2500 stabilo hitam untuk mengaburkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyiksaan. Dan tetap dibiarkan sebagai bukti nyata perlawanan.

Mohamedou bisa jadi hanya satu dari sekian banyak kebengisan dan ketidakadilan Militer Amerika. Penyiksaan dan serampangan menangkap seorang tanpa didasari fakta sebenarnya. Selain berhasil membuat tengkuk bergidik ngeri membayangkan, buku ini berhasil memperkeras teriakan Mohamedou. Teriakan untuk sebentuk keadilan yang harusnya sudah cukup membuat publik dunia tercengang dan bertindak. Sekaligus membuat Amerika malu telah bertahun-tahun menyembunyikan kisah horor dari Guantánamo ini.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s