Film · Jurnal

AADC#2: Kegairahan Sastra

Komentar saya hanyalah, ini bukan sekadar sekuel kelanjutan AADC. Bila film yang melanjutkan film sebelumnya, hanya berkisah bagaimana kisah selanjutnya. Di AADC #2 ini kelanjutan kisahnya seperti loncatan. Karena jeda 14 tahun, hingga semua tokoh telah melakukan banyak hal. Alya meninggal karena kecelakaan di tahun 2010. Karmen sempat kejerat obat terlarang karena ditinggal suaminya kabur dengan wanita lain. Milly yang ternyata menikah dengan Mamet. Juga si Maura yang sudah brojol tiga anak. Lantas bagaimana dengan Rangga dan Cinta? Dikisahkan secara sekilas –lewat selembar foto Rangga dan Cinta berlatar Amerika, dan dialog dalam percakapan. Bahwa Cinta pernah menyusul Rangga ke Amerika bersama keluarga. Sambutan hangat. Namun saat Cinta kembali ke Indonesia, Rangga menjauh dan puncaknya surat pemutusan hubungan asmara antara dia dan Cinta. Bisa dibayangkan dong… Remuknya hati Cinta diputuskan oleh kekasih lewat selembar surat, tanpa pernah merasa melakukan hal keliru, juga Cinta tak pernah tahu kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Rentang jarak yang panjang membuat segalanya bisa terjadi. Hingga di awal film AADC#2 ini Cinta mengumumkan bahwa dia telah bertunangan dengan Trian. (Ini adalah kejutan luar biasa yang disuguhkan sejak awal. Bagaimana mungkin disebut sekuel AADC#1 yang diharapkan mampu memberi jawaban hubungan Rangga dan Cinta, tetapi justru memberi fakta bahwa sudah ada Trian yang melingkarkan cincin di jemari manis Cinta?). Cinta, Maura, Milly, dan Karmen akan ke Jogja menyaksikan pameran seni Eko Nugroho. Sedangkan di Brooklyn sana, Rangga sedang galau karena adik tirinya datang dan mengabarkan bagaimana kondisi keluarga, khususnya Ibu di Jogja yang kangen kapadanya.

Dan seperti sudah diketahui bersama, dua kutub itu bersatu. Rangga dan Cinta akhirnya bertemu, meski ada jeda yang rasanya sudah. Tentu saya sendiri menunggu adegan komplit saat Cinta bilang ke Rangga, “Jahat!” Adegan ini benar-benar membuat geeer seluruh teater. Kemudian, rasa lama kembali berkelindan dan…….. (ditonton sendiri)

Banyak adegan lucu dan spontan di film itu. Cinta yang antara ogah dan pengen terhadap Rangga. Juga Milly yang punya keluguan dan kepolosan. Mungkin kisah cinta Rangga dan Cinta platonik dan biasa saja, tapi pengemasannya luar biasa. Aktor dan Aktrisnya juara, settingnya manis dan penuh nostalgia, berhasil membuat penasaran dan mengantre hampir satu jam di XXI cukup terbayarkan.

Tetapi, sebagai yang kebetulan suka sastra saya menikmati bagaimana di film ini sastra disajikan sebagai seni pertontonan yang indah dan nggak berat. Puisi yang katanya adalah ayat Tuhan yang ditangkap penyair, menjadi begitu dekat dengan publik. Kalau di AADC#1, penonton yang menyasar anak SMA dipaksa untuk tahu apa itu buku puisi ‘Aku’ Sjuman Jaya. Sekarang mau tidak mau, penonton akan tergila-gila dan mencari puisi-puisi manis yang diucapkan Rangga dalam beberapa adegan film. Panas di kening, dingin dikenang, sebagai contohnya.

Rangga, yang ditampilkan sebagai pemuda yang begitu dekat dengan puisi dan sastra ternyata menyukai banyak buku-buku keren. Ada buku Haruki Murakami: Colorless Tsukuru Tazaki and His Year of Pilgrimage, 1Q84, dan judul lain yang tak jelas terbaca. Juga ada buku puisi Aan Mansyur, Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Ceria, dengan sampul yang sangat remarkable. Rangga secara tidak langsung juga menjadi Aan Mansyur dalam film ini. Aan Mansyur yang menerbitkan buku puisi terbaru Tidak Ada New York Hari Ini, diperagakan seolah Rangga menulis dan memotret fotografi yang romantis dan indah itu.

Kalau dicermati, Rangga memiliki tutur dengan Bahasa Indonesia yang sangat baku. Apakah kaku? Terlihat begitu. Tapi ini justru menjadi pengembalian khitah bahasa yang benar. Tidak melulu harus dengan bahasa gaol Jakarta, bahasa yang dicampuri diksi Inggris, wicis, dsb. Mungkin ini ingin mempertegas karakter Rangga yang cool dan pendiam. Tapi kalau mengutip kalimat Pramoedya, bahwa bahasa adalah politik. Maka ini juga bisa dijadikan campaign bahwa bahasa baku tidak melulu menjemukan dan membosakan. Buktinya Rangga sudah mempraktikannya. Dan tetap cool.

Mungkin tidak berlebihan kalau film AADC#2 bisa jadi perayaan sastra. Bacaan sastra, kalimat puitis. Selain ceceran budaya dan destinasi wisata Jogja yang tercecer sepanjang film berdurasi dua jam ini. Selamat menonton dan selamat menyukai puisi-puisi Rangga.(*)

13119022_10154201935029923_9103271937181500916_n

(Buku puisi Aan Mansyur Tiada New York Hari Ini yang mulai edar 28 April 2016)

 

 

Advertisements

6 thoughts on “AADC#2: Kegairahan Sastra

    1. Wah, makasih sudah mampir. Dan mohon maaf kalau kebanyakan spoiler, lain kali diperbaiki nulisnya. INi hanya karena kegemasan saya….. it means bagus. 😛

    2. setuju euy, baru baca berapa kalimat langsung gajadi lanjut baca dulu. mungkin nanti kali ya kalo udah sempat nonton, baru balik lagi kesini.

  1. Keren mas teguh tulisannya. Saya suka spoiler nya krn kebetulan baca tulisan mas teguh setelah nonton film nya.
    Emang aneh, kisah cinta yg sebenarnya biasa, bisa diingat dengan begitu indah dan manis.
    Baca tulisan mas teguh sama mengingat film nya bikin senyum-senyum sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s