Jurnal · Resensi

Menyisir Luka Gadis Pantai

IMG_20160418_160248

Setiap kali membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer (PAT) dada ini serasa dijejali landak atau godam sesak. Sakit sekali membaca kisah-kisah tokoh PAT. Kesan ini mungkin didasari oleh kisah-kisah tokoh dalam karya PAT yang tampil begitu nelangsa, kalah, atau tertekan oleh sistem yang tak memihak pada kemanusiaan.

Bulan April ini, Klub Baca (@klubbaca) bekerjasama dengan Radio Buku (@radiobuku) menyongsong #HaulPram di akhir April nanti, mendahului dengan membaca Gadis Pantai. Dan agenda itu terlaksana Minggu, 17 April 2016. Tidak berlebihan, selain dalam rangka menyongsong #HaulPram juga bertepatan dengan 21 April. Karena dalam Gadis Pantai tersiar gelombang perlawanan seorang wanita terhadap kekangan kasta sekaligus gugatan atas penempatan perempuan yang tak sepadan.Sejujurnya saya ingin membaca karya-karya PAT dengan suasana yang tenang, tanpa sekali pun terserang ‘teror’ PAT. Menikmati teks sebagaimana teks, menikmati bahasa yang indah dan memesona. Tetapi itu tidak biasa. Mengapa? Ini yang saya temukan, bahwa PAT tidak suka bermetafora untuk menunjukkan makna atau ketragisan tokoh. PAT gamblang, blak-blakan. Tidak seperti penulis prosa lain yang lebih suka berlindung di balik metafora, simbolisasi, atau majas bahasa untuk menyampaikan ‘pesan’ dari prosanya. Di Gadis Pantai, pembaca diteror tentang kisah tragis si Gadis Pantai. Semakin diperjelas dengan kehebatan PAT dalam memotret kisah. Membaca karya-karya PAT selayaknya menonton sebuah film. Saya sendiri membayangkan PAT membawa kamera atau perekam kemudian dinarasikan.

Gadis Pantai, usia 14 tahun dinikahkan oleh orang tuanya dengan sebilah keris. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. (hal.12) Teror di halaman-halaman awal dari buku ini sudah membuat kuduk menegang. Bagaimana mungkin seseorang dikawinkan dengan sebilah keris, yang itu mewakili seorang bendoro agung yang tak sekali pun pernah dijumpai oleh Gadis Pantai. Bingung? Iya. Sedih? Belum tentu, karena Gadis Pantai masih terlalu belia untuk mengerti apa itu kesedihan. Yang dia pahami adalah setelah pernikahan itu, dia akan diantarkan oleh bapak, ibu, kepala kampung, dan paman-paman dengan dokar kretek menuju ibukota Rembang dengan kebaya, jarit mahal, kalung berbentuk medalion jantung dan gelang emas.

Gadis Pantai akan dipisahkan dengan dunia kanak yang selama ini menumbuhkan keceriaannya. Bisa dibayangkan, Gadis Pantai umur 14 tahun yang begitu cerita harus dipisahkan dari lingkungan pantai, keluarga, dan menjadi istri seorang Bendoro.

Motif? Bisa jadi hanyalah harta. Tetapi bila ditelisik lebih dalam bahwa Gadis Pantai tidak serta merta ‘ditukar’ dengan harta, yang menjadikan Bapak-Emak menjadi kaya usai menjadi mertua Bendoro. Bapak-Emak hanya dibekali salinan lawas, beberapa tembakau, saat pulang mengantar Gadis Pantai. Lantas?

Kalau dicermati, dalam budaya Jawa yang dahulu masih mengenal pengastaan ‘priyayi-santri-abangan’, dikenal budaya ngenger. Yakni budaya menitipkan anak yang biasanya berasal dari kalangan kawulo, bawahan, abangan kepada keluarga terhormat, bendoro, priyayi, santri, untuk belajar kehidupan, ngangsu kawruh. Motif utama adalah mengangkat derajat semar munggah mbale, kalangan kawulo. Harapannya dengan mengerti bagaimana orang terhormat hidup, kalangan kawulo meniru dan menjadi.

Bisa ditengok dari beberapa novel yang konsen terhadap budaya Jawa, Para Priyayi (Umar Kayam), Suti (Sapardi Djoko Damono), Pariyem (Linus Suryadi AG), juga Gadis Pantai milik PAT ini. Meski means (cara) dan ends (tujuan akhir) setiap tokoh dalam setiap novel berbeda. Spirit ngenger itu tetap kental terasa.

Gadis Pantai ngenger dengan menjadi Mas Nganten bagi Bendoro. Belajar bagaimana manner seorang bendoro ayu, ngaji agama karena lingkungan nelayan jauh dari nilai islam, membatik, juga belajar bagaimana seorang istri.

Selain sebagai tokoh terhormat, Bendoro juga memiliki kedalaman dalam urusan agama. Orang alim, dua kali pernah naik haji, entah berapa kali khatam Qur’an. (hal.14).

Ars tatio naturae, seni adalah potret alam/kejadian sesungguhnya. PAT mencungkil-cungkil perasaan pembaca dengan sepotong kisah yang menohok. Saat Gadis Pantai harus berhadapan langsung dengan Bendoro di meja makan. Makanan yang tak sekali pernah ditemui Gadis Pantai terhidang. Roti, aneka selai, cokelat, kembang gula, dan segalanya. Gadis Pantai tak hanya tak bisa menggunakan sendok garpu, dia juga harus dijajah rasa ‘ingin makan tapi tak bisa melahap semua’. Betapa sedih ini. Di hadapan kita terhidang aneka makanan yang tampak lezat namun entah oleh rasa inverior kita tak berani untuk menyentuh. Karena Bendoro memiliki budaya dan porsi makan yang tak sama dengan Gadis Pantai. Bahkan dalam benak Gadis Pantai, tersirat mungkin makanan itu terlalu enak hingga sekerat roti dan cokelat sudah mengeyangkan. Hingga Gadis Pantai harus kembali ke kamar dengan lapar melilit perut.

Kekejaman sistem pengastaan seperti ini bukan hanya membuat orang dari kalangan kawulo harus menjadi sahaya, selalu siap disalahkan (bisa ditengok dengan bagaimana Bujang harus diusir dari rumah saat mengadu soal pencurian uang Mas Nganten), tetapi juga membuat hubungan yang dahulu akrab menjadi sangat protokoler.

Hal ini terwujud dari bagaimana, ketika Gadis Pantai pulang untuk pertama kali setelah tiga tahun tinggal di rumah bendoro. Emak dan Bapak bersikap tidak lagi sebagaimana orang tua kepada anaknya, melainkan bagaimana sahaya melayani bendoro. Gadis Pantai kembali bukan lagi sebagai gadis pantai yang sederajat dengan mereka, tetapi sudah menjadi Bendoro terhormat. Bajingan sekali itu pengastaan!

Seekor nuri saja bebas menentukan di dahan pohon apa mereka membuat sarang. Di titik seperti ini, posisi Gadis Pantai, saya merasa kadang burung nuri lebih manusia. Bendoro dan Gadis Pantai memiliki aturan yang memisahkan di posisi apa, bertindak bagaimana, yang itu sangat bergantung kamu sahaya atau bendoro.

Gadis Pantai hanyalah Mas Nganten bukan menjadi Bendoro Ayu. Hingga di titik paling tragis, saat Gadis Pantai melahirkan anak pertama Bendoro. Gadis Pantai harus menelan pil super pahit bahwa karena bayi yang dilahirkan adalah perempuan, maka Bendoro memulangkan Gadis Pantai. Kembali menjadi gadis dari pesisir laut lagi. Tak diberi kesempatan membesarkan anak, bahkan tak boleh menyusui di isapan terakhir.

Bagaimana pun dia pernah suamiku. Sebentar tadi dia masih suamiku. Mana mungkin dia begitu angkuh terhadap emak dari anaknya sendiri? (hal.261)

Gadis Pantai kini menjadi nelangsa. Nasib sebagai sahaya menghempaskannya begitu dalam. Duh Gadis Pantai, sekarang engkau sadar wanita dari kalangan sahaya hanyalah pelampiasan bendoro.

Selain kesesakan membaca kisah Gadis Pantai, ada juga beberapa hal menarik yang saya catat dari karya-karya PAT. Bahasa yang dipergunakan PAT memiliki kekhasan tersendiri. Di buku ini kita masih bisa merasakan bahasa begitu menunjukkan kelas: matari, mas nganten, sahaya, bujang. Yang bila ditengok di KBBI memiliki arti yang berbeda dengan penggunaan PAT. Misalnya mas dan bujang. Tetapi sesuai khutbah dari Gus Muh (Muhidin M Dahlan) bahwa PAT adalah peneliti bahasa yang jeli. Bahasa di tangan PAT bukan sekadar ekspresi lahiriah, melainkan juga mengandung muatan politik. Sangat mungkin bila dipaksakan untuk dikontekskan sebagaimana bahasa sekarang, ketragisan itu akan berkurang.

Satu lagi, yang disampaikan Gus Muh di acara Klub Baca kemarin, bahwa karya-karya PAT adalah kisah keluarga. Seperti Gadis Pantai ini adalah kisah sejarah keluarganya. Kenapa? Karena kalau bukan kita, siapa yang akan mengabadikan sejarah keluarga kita? (NOTED!!!)

Ini sekadar catatan. Keseruan-keseruan dan cie-cie selama acara Klub Baca hanya bisa dirasakan bila datang. Ingin ikutan? Ikuti saja linimasa @klubbaca untuk update agenda selanjutnya. Karena membaca seorang diri itu terlalu biasa, kalau bersama sangat mungkin ada aura yang berbeda. Kalau tak selesai membaca, minimal ada kawan baru yang menggoda mata.

Terimakasih untuk Radio Buku, dan kawan-kawan yang hadir.(*)

13015302_10154060217052416_1697200921293003296_n13055374_10154060216962416_677089168183755453_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s