Resensi

Menjaga Kehormatan Lisan

(Kedaulatan Rakyat, 2 April 2016)

resensi bencana lisan

Menurut penelitian, dalam sehari manusia berbicara 7.000 sampai 20.000 kata dalam sehari. Segala aktivitas manusia selalu berkaitan dengan kemampuan mengolah kata. Lisan dan kata-kata merupakan mata dengan dua pisau. Bila bijak menggunakan akan menaikkan derajat, bila gegabah bisa menjadi bumerang.

VBI Djenggoten menghadirkan buku berisi bagaimana bertindak bijak dalam berkata-kata. Penulis menghadirkan komik menarik sekaligus nasihat-nasihat mendidik bagaimana bijak dalam berkata. Dalam hipotesanya, satu saja kata buruk bisa memancing kerusuhan, menumbuhkan kebencian, dan memacu perang. Sebaliknya satu kata, semisal maaf, terima kasih, cinta, mampu mendamaikan perselisihan dan menyuburkan perdamaian.

Meminjam istilah, mulutmu harimaumu, penulis menderet beberapa hal yang harus kita hindari agar lisan tak menjerumuskan kita pada kenistaan. Hal yang harus dicermati adalah kebiasaan lisan mengatakan hal-hal yang kurang bermanfaat, tidak penting, dan kalau pun tidak dikatakan tak begitu esensial. Semisal basa-basi yang tidak penting, menyampaikan pertanyaan retoris yang sudah diketahui jawabannya. Kebiasaan ini memicu untuk ke hal-hal buruk oleh lisan.

Dari kerap membicarakan hal-hal bukan esensial, lisan akan terbiasa pula menuturkan keburukan. Menurut penulis ada beberapa keburukan yang wajid dijauhi oleh tururan lisan. Mulai dari membicarakan kecantikan wanita, kebaikan minum keras dan candu, memuji tindakan pendosa, dan mengenang-ngenang kebiasaan orang kaya. Jenis pembicaraan ini selain kurang bermanfaat, juga menupulkan sensitivitas dalam membedakan mana baik mana buruk.

Dalam fisiologi, lidah tak bertulang yang itu masih ‘dijaga’ oleh deretan gigi dan gusi, kemudian dijaga rapat oleh dua katup bibir. Dari sini saja, kita sudah harus yakin untuk terus berhati-hati dalam berkata. Apalagi bila kita sudah gemar berlarat-larat dalam perdebatan.

Debat kusir justru akan menjatuhkan intelektualitas pembicara. Debat sengit seperti itu akan berujung pada saling menjelekkan, mengungkapkan aib dan sumpah serapah. Debat harus didasari pada kebajikan ilmu dan keredanahan hati dalam menerima perbedaan sudut pandang.

Kebiasaan yang sangat mewabah adalah berbicara sok manis dan fasih. Fenomena seperti ini sering terlihat saat tiba masa kampanye atau selebritas televisi yang bermanis-manis tanpa didasari pengetahuan, hanya untuk menjaring perhatian massa. Selain tak elegan, tindakan seperti ini juga bisa menjerumuskan mereka yang percaya begitu saja. Alangkah bahayanya, bila perkataan lyp-sinc seperti itu tak memberi kebaikan justru menyesatkan.

VBI Denggoten juga mengurai betapa banyak lawakan-lawakan baik sehari-hari atau pun yang di televisi justru hanya berisi gojekan-gojekan primitif. Isinya mencela, mengejek, mencaci, menghina fisik, bahkan diselingi mengubar aib dan rahasia. Ini bencana lisan yang sesungguhnya. Selain tak patut ditonton, acara demikian juga berpotensi menjadi tuntunan bagi anak-anak yang menonton tanpa pengawasan orang tua.

Sebagaimana peribahasa bahwa bahasa menunjukkan bangsa, baik atau buruk lisan berbahasa menentukan bagaimana orang memandang derajat kita. Bila kita bisa mengendalikan lisan, maka kehormatan dan kedudukan tinggi didapatkan. Sebaliknya, bila lisan lepas kendali tidak jarang kita dimusuhi.

Maka VBI Djenggoten menegaskan bahwa sesekali kita harus memilih diam. Diamnya orang berilmu lebih baik, daripada banyak cakapnya orang fakir ilmu. Merujuk nasihat para bijak bestari bahwa singa ditakuti karena dia hewan pendiam, sebaliknya anjing dijadikan hewan piaraan sekaligus mainan karena kegemarannya menggonggong. Maka pilihannya ada di tangan kita, mau jadi singa atau anjing.(*)

Salah satu contoh tampilan dalam buku ini:

(Diambil dari FB penulis Veby Surya Wibawa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s