Cerpen

Tamsil Kupu-kupu

(Tabloid Nova, 21-27 Maret 2016)
tamsil kupu-kupu - Copy - Copy

Seekor kupu-kupu terbang di ruang tamu. Lalu hinggap di gorden warna cokelat semu marun, yang terlipat acak. Sepertinya dia hendak keluar namun terhalang jendela kaca transparan. Mengerjap-ngerjapkan sayap, menendang-nendang jendela kaca. Kupu-kupu itu tidak menyadari meski transparan tampak tanpa batas dan seolah mudah ditembus, kaca tetaplah padat dan pejal. Mukini menyadari kehadiran serangga itu sejak pulang dari mushala. Hingga menjelang pagi, kupu-kupu itu belum juga pergi. Agak aneh memang menyaksikan seekor kupu-kupu beterbangan sepagi ini. Kepaknya perlahan. Mungkin sayapnya masih dibaluri sisa-sisa embun. Perlahan Mukini duduk, kakinya ditutupi selendang. Ada gejolak dalam pikirannya yang mengatakan bahwa kupu-kupu itu menandakan sesuatu. Tamsil tentang kehadiran seorang tamu. Bukankah banyak orang percaya kupu-kupu tanda akan kehadiran tamu?

“Desita, mungkinkah kita akan kedatangan tamu hari ini?”

Desita keluar sambil membawa rebusan kunyit putih dan pahitan daun ceplukan yang sudah diminum Mukini saban pagi selama tiga bulan terakhir untuk mengurangi nyeri di dengkul akibat kekurangan minyak sendi. Tidak ada yang kuasa menghalau keganasan usia tua dalam merampas kekuatan tubuh.

“Mungkin saja, Budhe,” Desita berkata sambil meletakkan gelas berisi jamu di hadapan Mukini. Desita sudah lama menemani Mukini. Menemani berarti menjaga, merawat, sekaligus memasakkan menu diet Mukini.

Bagi Mukini, tamu satu-satunya yang ditunggu adalah anaknya. Handoko. Usia tua membuat sentimentil berlebih pada Mukini. Rasa sepi lebih jahanam daripada nyeri di dengkul dan linu-linu akibat reumatik. Handoko anak tunggalnya yang bermukim di Jakarta adalah penawar rindu baginya.

“Apa masmu akan datang minggu ini?” tanyanya kepada Desita. Gelas berisi rebusan kunyit putih yang pahit luar biasa diminumnya dalam sekali teguk. Lidahnya sudah tawar dalam mengecap rasa pahit. Lalu pisang kepok rebus disajikan Desita dalam piring porselen. Kondisi tubuhnya sudah membatasi Mukini untuk makan dan minum sesukanya seperti saat Mukini muda. Banyak pantangan. Gorengan tidak diperkenankan. Mukini hanya diperkenankan menyantap makanan yang direbus dan dikukus, minim kolesterol.

“Mas Handoko baru dua minggu lalu ke sini. Apalagi sekarang Mas Handoko sedang sibuk pencalonan sebagai kepala kepolisian. Mungkin bulan depan baru ke sini,” Desita mencoba untuk tidak meyakiti perasaan Mukini. Masa tua adalah masa yang selalu ingin dimanja keluarga. Terlebih anaknya yang sudah mungkur, sukses dan hidup enak di kota.

“Lalu kupu-kupu ini tanda apa, Desita?”

“Mungkin kupu-kupu terjebak dan tak menemukan jalan,” Desita menimpali.

Mukini hanya manggut-manggut. Lalu diraihnya seotong pisang rebus untuk isian perutnya di pagi hari. Bila matahari sudah menampakkan semburat sinarnya, dia akan berjalan-jalan di sekiar rumah tanpa alas kaki bersama para lansia lainnya. Semacam olahraga kecil-kecilan untuk membuat tubuhnya tetap bugar. Dia juga sudah berjanji akan membatu Taris, lansia depan rumahnya, memetik bunga melati.

Meskipun tidak dikatakan, ada rasa rindu yang terus menggebu di dadanya. Pangkat tinggi membuat Handoko sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab.

Mukini teringat bagaimana Handoko kecil mengatakan ingin menjadi seperti almarhum bapaknya yang mengokang senjata demi negara. Suaminya adalah seorang polisi dengan jabatan terakhir wakil kapolsek. Sosok suaminya yang gagah dan bertanggung jawab diam-diam menginspirasi Handoko. Mukini terngiang nasihat suaminya kepada Handoko, bahwa bedil dan kekuasaan yang disandarkan pada aparat berseragam bukanlah hal istimewa. Itu tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban. Handoko yang masih kecil tidak mengerti apa maksudnya, hanya menganggukkan kepala mengiyakan.

“Bu, bagaimana kalau ikut ke Jakarta saja? Rumah biar diurus Desita,” lebaran kemarin Handoko mengusulkan demikian.

Mukini tersenyum. Bila dikelilingi anak cucu rasa bahagianya membuncah. Seperti ada kepak sayap kupu-kupu di sekitar perut yang mengubah cemberut dan kerut menjadi senyum merona.

“Aku ingin di sini saja. Kalau ke Jakarta justru tambah sepi. Kamu kerja. Anak-anak sekolah. Istrimu juga aktif berkegiatan. Aku bakal hanya ditemani sepi juga,” jawab Mukini.

“Minimal dekat sama keluarga. Kalau terjadi apa-apa itu, loh!” Handoko menimpali.

“Ada telepon dan pesawat. Desita juga telaten menjaga Ibu,” Mukini mencoba membuat percakapan tidak kaku.

Ketegaran yang ditampilkan Mukini di hadapan Handoko dan keluarga. Baru saat Handoko sekeluarga kembali ke Jakarta, kenangan dan aroma Handoko yang selalu ingin di rengkuhnya lebih erat. Telepon akan tidak berhenti berdering untuk memastikan Handoko sekeluarga selamat sampai Jakarta. Lalu sepi kembali menghunjami hati Mukini.

***

Selepas berjalan-jalan santai di sekitaran rumah dan membantu Taris memetik melati, Mukini duduk di teras. Dia masih berlangganan koran, tapi matanya selalu pedih untuk membaca tulisan kecil-kecil dalam kolom koran. Hanya beberapa headline yang berhasil di baca Mukini. Kakinya diayun-ayunkan di atas kursi. Sengat matahari pagi menghujani tubuh Mukini, menghangatkan tubuhnya yang dilanda sepi.

“Mungkinkah tamu yang akan datang ini tamu lain?” pikir Mukini. “Malaikat Izrailkah tamu yang akan datang hari ini?”Mukini menghela napas. Degup di dadanya terasa mengeras.

Kematian memang rahasia paling rahasia. Dalam hati, Mukini ingin meninggal di kelilingi anak dan cucu, didoakan dan diikhlaskan. Andai boleh memilih Mukini ingin meninggal tanpa harus didera sakit berbulan-bulan. Akan merepotkan bila harus terbaring lemas di kasur, buang air di kasur, makan di kasur, juga menanti kematian di kasur. Andai boleh, sekali lagi andai diperbolehkan Tuhan. Karena kematian hak prerogatif Tuhan.

Hati Mukini tiba-tiba bergemuruh. Memikirkan kematian di usianya yang sudah kepala enam adalah kewajaran. Namun tetap saja ada benih-benih tidak rela menerima.

***

Pukul dua siang, berita buruk itu tiba. Bukan dirinya, bukan pula Handoko. Tetapi dari Taris, tetangga depan rumahnya. Malaikat Izaril sudah menjemput Taris. Usia Taris memang dua tahun lebih tua dari Mukini. Padahal badan Taris lebih bugar dan tidak digelayuti penyakit tua, seperti reumatik maupun tremor. Pagi tadi Mukini membantunya memetiki beberapa kelopak melati di pekarangan rumahnya. Taris gemar meminum seduhan teh dengan putik melati. Mungkin secangkir teh melati pagi tadi adalah minuman terakhir Taris, sebelum ajal memutus kecintaannya pada aroma melati pada teh.

“Taris yang badannya lebih segar ternyata lebih dulu mati. Aku sepertinya tidak lama lagi,” gumam Mukini.

“Mau takziyah ke Budhe Taris?” tanya Desita.

“Tuntun aku, ya Desita. Aku gemetar mendengar kabar ini. Pagi tadi kami masih ngobrol tentang anak kucing yang berkeliaran di halaman rumahnya. Dan sekarang aku harus mengirim doa agar arwahnya tenang,” terdengar kegugupan dari nada bicara Mukini.

“Sudah takdir, Budhe” Desita menjawab setenang mungkin.

“Nanti kalau aku mati, jangan kuburkan sebelum Masmu Handoko datang. Juga kuburkan aku di dekat makam Pakdhemu,” pinta Mukini.

Desita mengangguk. Pembicaraan orang tua memang selalu begitu kalau berhubungan dengan kematian. Menggerus perasaan keluarganya yang lebih muda. Semacam permintaan terakhir sebelum dimakamkan.

“Desita, apa kupu-kupu pagi tadi tanda kematianku? Tamu itu adalah Izrail.” Terdengar gemetar suara Mukini.

“Budhe tidak usah berpikir macam-macam. Tanpa dipikirkan kematian pasti akan datang.”

“Ya, Desita. Habis mendoakan antar aku pulang segera ya. Aku tidak kuat menyaksikan tubuh Taris dikafani,” pinta Mukini.

Desita menganggukkan kepala.

Setibanya di rumah Taris, Mukini hanya menyingkap kain penutup mukanya ingin menyaksikan wajah Taris terakhir kali. Mukini ingin menyimpan kenangan akan wajah Taris dalam benaknya. Mukini menderas doa, lalu gegas pulang. Perasaannya begitu rapuh menyaksikan segala prosesi untuk merawat jenazah Taris.

Mukini dituntun Desita pulang, menyeberangi deretan kursi plastik para pelayat.

“Budhe mau disiapkan makan siang?”

“Tidak usah Desita. Tolong ambilkan alquran, aku ingin mengirim doa kepada Taris dari rumah,” pinta Mukini.

“Atau potongan bolu? Perut Budhe Mukini harus diisi.”

“Boleh,” Mukini mengalah.

Mata Mukini menatap lurus ke kerumunan tenda di depan rumah Taris. Beruntung Taris meninggal tanpa rasa sakit berkepanjangan dan dikelilingi oleh keluarga besar.

“Apakah aku juga akan mati sedemikian tenang mirip Taris?” tanya Mukini di dalam hati.

“Ini,” Desita meletakkan piring berisi beberapa potong bolu lembut untuk mengganjal perut Mukini. Juga segelas air putih hangat dicampur madu kegemaran Mukini. Berita kematian Taris membuat Mukini murung dan malas makan. Serta sebuah alquran besar untuk memudahkan Mukini membaca dengan kacamata.

“Desita, duduk sini. Temani aku,” pinta Mukini kepada Desita.

Desita duduk di samping Mukini. Mendengarkan suara Mukini tertatih membaca ayat suci. Beberapa jenak kemudian suara dering telepon. Desita minta izin mengangkat telepon.

“Ya, ada apa Mbak? Masyallah, kok bisa?” suara Desita gugup. Kemudian diam.

“Desita ada apa? Kok suaramu gugup begitu. Ada berita apa?” tanya Mukini.

Mukini masih diam belum menjawab. Yang membuat Mukini semakin gusar, tidak sabar mendengar kabar.

“Dari siapa Desita?”

Desita duduk. Bibirnya masih kelu menyampaikan kabar yang cukup mengejutkan itu. Andai Mukini diberi tahu, bisa jadi Mukini akan kaget. Dan tamu malaikat maut akan berpindah dari rumah Taris ke rumah Mukini. Berita bahwa kekayaan Handoko sedang diperkarakan, tentu akan menampar dada tua Mukini.

“Desita!” bicara Mukini meninggi.

“Dari Mas Handoko. Katanya….”(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s