Resensi

Sejarah Perkebunan Teh Priangan

(Versi pendek dimuat di Kedaulatan Rakyat, 26 Maret 2016)

Novel Sang Juragan Teh (Heren van de thee) ini dapat kita masukkan dalam kategori indische romans atau roman dengan mengambil latar sejarah Hindia-Belanda, yakni mengambil latar waktu masa kolonialisme. Sang Juragan Teh mengambil setting rentang tahun 1869-1918. Bahkan Haasse mengatakan bahwa novel ini tidak seutuhnya sebagai novel fiksi berbahan imajinasi belaka. Haasse menyusun prosa ini berdasarkan surat-surat dan dokumen dari Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia Belanda.

Novel ini menyuguhkan sajian yang tidak hanya apik dalam narasi, tetapi juga padat dalam isi. Haasse menyajikan petilan-petilan peristiwa sejarah Hindia-Belanda, terutama sejarah perkebunan teh, bisnis kina, pembukaan jalur kereta api, letusan Krakatau, hingga literasi Sunda.

Sang penulis, Hélène Serafia Haasse lahir di Batavia, 2 Februari 1918 dan tutup usia di Amsterdam, 29 September 2011. Ayahnya, Willem Hendrik Haasse adalah pejabat kolonial, dengan jabatan terakhir inspektur keuangan. Ibunya, Käthe Diehm Winzenhöhler, adalah seorang pianis. Haasse menempuh pendidikan rendah dan menengah di Batavia, Buitenzorg (nama kolonial Bogor), Bandung, dan Surabaya.

Rudolf Eduard Kerkhoven, tokoh sentra dalam novel ini, dikisahkan sebagai pemuda cerdas dengan menyandang title sarjana teknik dari Universitas Politeknik Delft, golongan elite terpelajar, yang bila berkehendak, Rudolf bisa bekerja di perusahaan bonafit di daratan Eropa.

Namun, Rudolf menyimpan keinginan untuk menyusul ayah dan keluarga besarnya di Hindia. Jawa selalu hadir dalam kehidupan keluarganya. (hal.25) Rudolf merasa terpanggil, terlebih ada misi sosial yang selalu ditanamkan oleh sang ayah, Rudolf Albert Kerkhoven. Sang ayah mendukung kemajuan dan perkembangan kesejahteraan masyarakat kecil di Hindia. Motif keberangkatan keluarganya adalah untuk menurunkan tingkat pengangguran di tanah air dan meningkatkan kesejahteraan material dan spiritual populasi di seberang laut. (hal.34)

Pergilah Rudolf ke Hindia dengan segudang impian dan angan-angan akan eloknya tanah Pasundan. Sesampainya di Priangan, Rudolf masih harus menimba banyak ilmu perihal perkebunan teh dari beberapa juragan teh sebelumnya. perjuangan dan kegigihan Rudolf membuahkan hasil dan sukses mendirikan perkebunan teh dan kina di Gambung.

Jatuh bangun mendirikan perkebunan teh dan kina di Gambung, mulai bertemu dengan goncangan. Rudolf dan keluarga kecilnya harus menerima beberapa kali rugi karena alam Gambung yang masih begitu liar, penduduk yang belum terlalu kooperatif, juga penerimaan keluarga Rudolf dan golongan pengusaha Belanda akan dirinya. Rudolf merasa terasing di tengah keluarganya dan keluarga mertuanya.

Belum lagi, di akhir-akhir kejayaan perkebunan Gambung, Rudolf harus menelan pil pahit karena kehilangan istri terkasih. Lantas pembagian warisan yang tidak adil, serta lambat laun perkebunannya tak menghasilkan untung besar.

Non-Pribumi

Mevrouw Haasse memang sedang menarasikan sejarah perkebunan teh Priangan di bawah Rudolf. Tak banyak tokoh pribumi yang hadir dalam buku ini. Hal inilah yang menurut Joss Wibisono, kritikus sastra yang tinggal di Belandaa sebagai satu hal terlemah dalam novel ini.

Mevrouw Haasse menihilkan peranan tokoh-tokoh pribumi yang pasti ada dalam sejarah perkebunan teh Priangan. Sesuai judulnya Sang Juragan Teh, secara lebih dominan narasi ini berkisah tentang para juragan, tanpa satupun tokoh inlander (baca: buruh teh) yang berarti. Memang, orang-orang Inlander ditampilkan sebagai figuran, bukan sebagai karakter penuh yang memiliki peranan penting dalam cerita. Tidak seperti Pramoedya Ananta Toer yang tidak menghapus total peranan Belanda totok dalam tetralogi Pulau Buru. Robert Mellema, Robert Suurhof bahkan Magda Peters hadir dalam kisah pribumi sebagai tokoh penting.

Ketidakberimbangan ini bisa ditengarai karena Haasse memakai surat-surat dari para kolonial sebagai acuan utama. Sehingga sumber dari orang pribumi semasa itu tidak memiliki porsi yang sepadan.

Verba Vollant, Sripta Manen

Seperti yang diakui Mevrouw Haasse dalam catatan penutup buku ini, bahwa data-data dalam novel ini didapatnya dari surat-surat serta dokumen pemerintah Belanda semasa zaman kolonial. Sejarah perkebunan teh tidak akan lahir di meja pembaca bila tidak ada tradisi pendokumentasian di masa itu.

Segala yang tertulis akan lebih awet dari segala jenis ucapan. Mevrouw Haasse menegaskan hal demikian. Tokoh utama, Rudolf pun secara tersirat menyinggun betapa penting budaya dokumentasi dan tulis menulis ini. Ketika Rudolf di Belanda, kemudian hijrah ke Gambung dan jatuh cinta Jenny, semua dilakukan dalam surat-menyurat dan terlacak tanggal dan teksnya. Meski di beberapa bagian, Rudolf harus bertengkar dengan keluarga dan mertuanya juga lantaran surat-menyurat yang saling menyudutkan.

Novel semi sejarah yang pertama terbit 1992 ini setidaknya membuka pandangan lain dalam membaca sejarah perkebunan teh Priangan sekaligus sejarah kolonialisme Belanda. Tidak semua penjajah Belanda merobek luka. Beberapa, seperti Rudolf dan keluargnya, menyisakan warisan baik yang masih bisa kita temui hingga kini.(*)

resensi sang juragan teh - Copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s