Resensi

Terkaman Agatha Christie

Identitas Buku:

Judul : The World’s Favourite – Karya Agatha Christie Pilihan Pembaca Sedunia

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama, Maret 2016

Hal :622 halaman

ISBN : 9786020326214

Satu kata yang cukup menggambarkan tiga kisah anggitan Agatha Christie ialah MENCEKAM. Dari ratusan kisah dan kasus-kasus kriminal, pembaca dunia memilih ketiganya yang kemudian dibukukan menjadi satu. Kalau dalam bahasa sederhana, terseram dari yang laing seram.

Tiga kasus dalam buku ini, yakni And Then They Were None, Murder on the Orient Express, dan The Murder of Roger Ackyord, dipilih oleh pembaca dunia sebagai tiga cerita terbaik dan termenakjubkan dari Agatha Christie. Bisa ditilik di web Agatha Christie.

Terbukti dari halaman pertama, di kasus pertama, tengkuk saya sudah meremang membayangkan betapa sepuluh orang tanpa saling mengenal sebelumnya harus menyeberang naik kapal menuju Pulau Negro.

Kisah pertama, ternyata dipilih oleh 21 persen dari semua pembaca Agatha Christie di dunia.

Pada kasus pertama ini, tidak ada tokoh fenomenal Agata Chritie, Hercule Poirot. Bahkan terkesan tidak ada si pembunuh dalam kasus ini. Bermula dari sebuah undangan misterius dari U.N.Owen untuk bermalam di Pulau Negro. Undangan ini diberikan kepada sepuluh orang yang di setiap undangan, memiliki spesifikasi masing-masing. Mereka mengira sebuah pulau pasti akan sangat romantis, tetapi ketika mereka telah merasakan tinggal di sana dan melihat kerugian-kerugiannya mereka akan segera menjualnya. (hal.13)

Undangan misterius, sepuluh tamu misterius, dan si tuan U.N.Owen (yang kalau dirangkai menjadi senada dengan pelafalan unknown-tidak diketahui) tidak teraba keberadaannya. Semakin misterius bahwa Pulau Negro itu sudah penuh dengan makanan kaleng, seolah memang diseting untuk sebuah adegan. Dan usai makan malam munculah sebuah suara menyeramkan tentang kesepuluh tamu yang ternyata memiliki kisah masa lalu yang suram perihal kematian seseorang.

Dan seketika, muncul pembunuhan pertama, Anthony Marston dengan racun sianida. Lantas Mrs.Roger yang diracun saat tidur. Dan berturut-turut kesepuluh orang itu mati di pulau dengan cara masing-masing. Cara pembantaian itu merujuk pada sajak sepuluh anak negro yang tertempel di setiap kamar dan semakin misterius dengan menghilangnya patung porselen negro satu demi satu usai pembantaian.

Sepuluh anak Negro makan malam; Seorang tersedak, tinggal sembilan
Sembilan anak Negro bergadang jauh makam; Seorang ketiduran, tinggal delapan
Delapan anak Negro berkeliling Devon; Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh
Tujuh anak Negro mengapak kayu; Seorang terkapak, tinggal enam
Enam anak Negro bermain sarang lebah; Seorang tersengat, tinggal lima
Lima anak Negro ke pengadilan; Seorang ke kedutaan, tinggal empat
Empat anak Negro pergi ke laut; Seorang dimakan nikan herring merah, tinggal tiga
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang; Seorang diterkam beruang, tingal dua
Dua anak Negro duduk berjemur; Seorang hangus, tinggal satu
Seorang anak Negro yang sendirian; Menggantung diri, habislah sudah. (hal.27)

Sajak itu begitu seram sekaligus menjadi rentetan cara bagaimana sepuluh orang di Pulau Negroo mati. Dan betapa mengejutkannya, bahwa pembunuhnya adalah satu di antara sepuluh orang itu. Siapakah dia?

Kasus kedua, Murder on the Orient Express, tidak kalah seram dan mengecohnya. Agatha Christie mengisahkan pembunuhan di kereta Orient Express. Pembunuhan terjadi sesaat sebelum kereta terjebak di jalur Pegunungan Balkan yang tertahan oleh reruntuhan salju.

Korban adalah Ratchett yang ternyata memiliki nama asli Casetti, seorang pembunuh dan penculik yang menyebabkan keluarga Mr.Amstrong kacau balau. Seorang penjahat yang dibunuh.

Poirot secara gamblang menangkap bahwa tidak mungkin si pembunuh melarikan diri. Pembunuh masih ada di kereta. Maka pencarian dimulai. Setiap orang dimintai keterangan. Dan beberapa mengatakan ada seorang lelaki hitam berbadan kecil yang bersuara menyerupai perempuan, berkimono merah dengan sulam naga.

Jelas tidak ada sosok demikian dalam gerbong. Poirot semakin penasaran dan menemuka titik terang bahwa penumpang-penumpang dalam gerbong memiliki nama-nama baptis masing-masing dan berbeda dengan nama yang dikenalkan. Maka terungkaplan bahwa mereka semua memiliki kaitan dengan kematian Amstrong.

Maka Poirot mengajukan sebuah penyelesaian, saya membayangkan sebuah dewan juri terdiri dari dua belas orang, yang mengangkat dirinya sendiri, yang menjatuhkan hukuman mati baginya dan yang karena perlunya hukuman itu dilaksanan dengan segera, lalu telah memaksakan diri mereka sendiri menjadi pelaksana hukumannya. (Hal.393)

Ya mereka telah bersekongkol untuk membinasakan Ratchett dan saling menguatkan alibi yang lain. Sehingga Poirot akan kabur dan tidak ada yang memiliki alibi kurang kuat. Great!!

Kisah ketiga, The Murder of Roger Ackyord, memiliki kejutan yang luar biasa. Ternyata oh ternyata!

Ini berkisah tentang kematian Roger Ackyord, seorang duda kaya raya, yang meninggal sesaat kekasihnya Mrs.Ferrars mati bunuh diri. Kematian Mrs.Ferrars sendiri dimulai dengan pemerasan yang dilakukan oleh seseorang, karena diketahui bahwa Mrs.Ferrars meracun suaminya sendiri.

Roger yang menerima surat dari Mrs.Ferrars yang diyakini berisi pengakuan siapa yang memeras, justru mati dengan menyisakan misteri. Sepucuk suratnya juga raib entah kemana.

Dr.Sheppard menjadi saksi kunci, karena dia yang terkahir bersama dengan Roger dan menyaksikan Roger membaca surat itu. Yang kemudian ditelepon oleh seseorang bahwa Roger telah meninggal.

Semua saksi dan orang di rumah Roger, memiliki alibi masing-masing dan berkelindan. Dan semakin diulik, terbuka fakta bahwa setiap orang di rumah memiliki kemungkinan sebagai pembunuh Roger. Poirot sendiri hampir saja percaya dengan kecohan-kecohan si pembunuh asli.

Dan di akhir ternyata terbukalah bahwa yang pembunuh adalah si Dokter Sheppard. Karena hanya dia yang mengetahui bahwa Mrs.Ferrars meracun suami dan kemudian memerasnya. Lantas merancang sebuah adegan pembunuhan dan rekayasa-rekayas mengerkan dan mengecoh Poirot. Keren sekali!

Ketiga kasus ini memang sangat mengejutkan. Pembaca tidak pernah mengira bahwa pembunuhnya adalah si dia. Agatha Christie sebagai ratu cerita kriminal sedang menikam pembaca dengan adegan-adegan seram nan canggih.

Di cerita ketiga, sosok Poirot dan pribadinya tergambar dengan cukup jelas. Poirot ternyata detektif partikelir yang sangat tanggung jawab. Uang selalu sangat berarti bagi saya, tetapi bukan itu yang saya inginkan. Kalau saya yang akan menangani persoalan ini, Anda harus mengerti satu hal dengan baik sekali. Yaitu, saya tidak akan meninggalkan kalau perkara ini belum selesai. (hal.461)

Keren. Poirot tak hanya cerdik dan jeli. Tapi juga memiliki tanggung jawab yang jempolan. Dan saya sepakat bahwa tiga cerita ini adalah cerita terbaik Agatha Christie dengan terkaman-terkaman yang mendirikan kuduk tengkuk. Bagi pembaca setia, tak salah kembali mengoleksi buku ini dengan kemasan yang lebih mewah. Bagi pembaca pemula, mulailah menikmati kisah Agatha Christie, sang ratu kriminal, dari tiga kisah ini. Dijamin akan candu dengan kisah-kisah lainnya. (*)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s