Cerpen

Pohon Menangis #2

(Tabloid Nova, 4-10 Januari 2016)

pohon menangis nova - Copy

Malam itu, Bisai tidak bisa tidur karena cerita yang baru selesai dibacanya terus bergentayangan di kepala. Buku itu bercerita seorang anak gadis kecil yang berubah menjadi monster kantong semar dan menelan utuh kedua orang tuanya. Bisai tidak mengerti betul alur ceritanya. Bagaimana mungkin seorang anak tega menelan mamanya? Sedangkan Bisai sendiri tak pernah sekali pun memarahi Mama. Tapi Bisai pernah sekali mendiamkan Papa karena salah membelikan robot. Bisai ingin robot yang bisa menembak sendiri, tetapi Papa membelikan yang hanya bisa berbunyi sendiri.

Suara pendingin ruangan memenuhi telinga, Bisai masih disandera oleh tokoh dalam buku, ketika terdengar suara jeritan.

“Diam! Ini sudah malam,” suara Mama menimpali. Suaranya keras namun tertahan dinginnya malam. Mama seperti membentak peminta-minta di perempatan jalan.

Jeritan kembali terdengar. Rentetan ceracau tak terlalu jelas tertangkap. Bisai berjalan mendekati pintu dan menempelkan telinga. Suara makin tidak jelas. Hanya pekikan dan suara Mama untuk menyuruh diam.

“Kita butuh tidur!” bentak Mama.

Bisai mengintip dari lubang kunci pintu. Mama memakai piyama biru muda, rambutnya digulung rol, dan mengenakan sandal jepit. Mama berdiri di depan ruangan yang selalu dirahasiakan. Setiap kali Bisai bertanya, Mama hanya menjawab ruangan itu berisi barang bekas tidak terpakai dan belum sempat dibuang atau diloakkan.

Mungkinkah suara itu milik monster kantong semar dan hendak mencaplok Mama dan Papa? pikir Bisai.

Mama memukul pintu itu dua kali. Suara meronta itu berhenti. Sambil menggerutu Mama kembali masuk menuju kamarnya. Suara dari ruangan di bawah tangga sekali lagi menderu, tapi kali ini seperti suara dengkuran orang tidur. Bisai terus memerhatikan ruangan di bawah tangga. Beberapa jenak kemudian gagang pintu bergerak-gerak seperti ada seseorang dari dalam ruangan itu yang sengaja menggerakkan pintu, berontak ingin keluar. Gerakan itu menumbuhkan remang di tengkuk muda Bisai.

Bisai melompat ke ranjang ketakutan. Selimut ditarik hingga kepala. Pasti monster kantong semar, simpul Bisai. Meskipun matanya malam itu susah sekali terpejam, tapi akhirnya Bisai tertidur karena kelelahan. Esoknya Mama membangunkan dengan tepukan lembut dan aroma roti isi selai kacang yang harum menusuk hidung.

Pagi harinya, Bisai tidak berniat bertanya kepada Mama siapa yang ada di ruangan rahasia itu. Tidur semalaman membuat Bisai memiliki otak baru saban pagi.

“Hari ini kamu les Matematika jam 2. Lalu jam 4 kita ke tempat les bahasa Mandarin,” Mama mengingatkan. Meski sebenarnya Bisai lebih menyukai melukis di taman belakang sekolah. Mama mengatakan pandai matematika lebih menjanjikan daripada mahir melukis.

“Boleh tidak, kalau Bisai hari ini libur? Bisai ingin merampungkan lukisan sebuah pohon, Ma,” dia merajuk pada Mama. Tapi seperti biasa, Mama adalah tembok pejal, susah digoyahkan perihal les. Alasan yang sering dipergunakan Mama anak kecil harus nurut sama Mama.

“Bisai, minggu lalu kamu libur karena sakit. Jangan sampai minggu ini kembali libur. Habis itu kita makan donat, suka kan?”

Bisai mengangguk-angguk sambil menyeruput susu dan menuntaskan gigitan terakhir roti isi selai buatan Mama. Tetapi dalam pikirannya, Bisai sudah menyusun rencana lain.

***

Hari ini sekolah pulang lebih awal. Murid-murid diminta menyambut lawatan Bapak Presiden. Selama mereka bersorak-sorak sambil mengayun-ayunkan bendera, Bisai akan membawa buku gambar dan pensil warna menuju kebun belakang sekolah. Di sanalah sebatang pohon yang sudah lama ingin Bisai lukis berdiri tegak, dengan tajuk tebal dan dedaunan rindang. Sebuah keluarga srigunting hitam yang menyimpan sarang di celah-celah cabangnya.

 Bisai duduk persis di hadapan pohon. Buku gambar dan pensil warna tersebar di depannya. Dia selonjoran memangku buku. Tangan bergerak-gerak. Mama pasti keliru, tangan Bisai luwes memainkan pensil.

“Bagus sekali, Bisai.” Suara itu mendadak mengagetkan Bisai. Suara itu seperti merpati terjepit daun pintu. Seorang gadis berseragam sekolah, mungkin usianya tak terlalu jauh berbeda dengan Bisai menghampiri lalu duduk di sampingnya. Rambutnya merah dikuncir kuda. Mata bulat kelereng dan pipi penuh bulat seperti donat kentang.

“Terima kasih. Mamaku marah kalau tahu aku suka gambar, makanya aku menggambarnya sembunyi-sembunyi.” Anak kecil memang tidak bisa berkata dusta. Pun terhadap kawan yang baru dikenalnya.

“Mamaku juga. Mama ingin aku jadi dokter, padahal aku lebih suka menari. Namaku, Selia.” Bisai menerima uluran tangan dan saling menyebutkan nama.

“Aku menyebutnya pohon menangis,” ujar Selia.

“Pohon menangis? Aku tidak pernah mendengarnya.”

“Daun dan ranting kecilnya akan berguguran bila disapu angin, mirip gadis kecil yang menangis,” kata Selia. Perkataannya seperti perkataan gadis yang lebih tua dari usianya.

“Lihatlah!” Selia menunjuk guguran daun karena terampas angin. Daun-daun kecil itu seperti lelehan air mata. Seperti pohon yang menangis, karena sudah tua dan dikucilkan. Dunia di kepala anak-anak memang lebih luas dari semesta raya.

“Aku selalu ke sini sepulang sekolah untuk menari. Sebelum Mama menjemputku dan mengantar ke tempat les matematika, inggris, fisika, kimia, semuanya. Rasanya lebih bebas di bawah pohon menangis ini,” Selia menambahi.

Selia melepas sepatu. Tangan direntangkan dan memulai gerakan menari. Selia masyuk ke dalam dunianya. Sedangkan Bisai masih saja mengakrabi kertas gambar dan pensil warna. Keringatnya mengilatkan leher dan bahu. Matanya bercahaya lebih terang. terus menggambar. Gambar pohon sudah selesai.

“Selia, aku pulang dulu. Nanti Mamaku marah.”

“Aku mau menari di sini. Kamu bisa menemuiku di sini kapan pun.”

“Akan kubawakan roti. Pasti kamu lapar setelah menari.” Sikap dan wajahnya terlihat ramah tanpa menyiratkan niat berbuat jahat.

Selia balas mengangguk. Semenjak itu Bisai selalu membawakan Selia roti dan minuman usai sekolah sebelum Mama menjemput. Setiap ada kesempatan bolos les, Bisai menghabiskan sore bersama Selia di bawah pohon menangis sambil terus melukis dan melihat Selia berlatih tari.

***

Bisai menggeletakkan sepeda di dekat semak ilalang. Lalu berlari menuju Selia yang duduk menekuk lutut di bawah pohon. Rambutnya kali ini digerai. Air matanya merembesi pipi, seperti daun-daun tua pohon menangis yang terlepas dari ranting.

“Selia, kubawakan roti kesukaanmu,” Bisai menawari roti isi stroberi. Dada Bisai berlarian. Napasnya masih terengah-engah karena bersepeda. Sikap seseorang di sekitar kita memang mudah sekali menular, termasuk Selia yang didera kesedihan.

Selia menggigit sekali dan mendorongnya dengan seteguk jus jeruk dingin. Lalu kembali menangis. “Mamaku akan memindahkanku. Katanya aku harus fokus pada pelajaranku. Mamaku membenci kalau aku menari.”

Seketika, Bisai merangkul Selia.

“Kapan kamu pergi Selia?”

“Malam ini.”

Wajah Bisai tampak kebingungan. Harus bertindak seperti apa ketika dipertemukan dengan perpisahan. Ini pertama kalinya Bisai merasakannya. Rasanya seperti kehilangan sebuah warna merah dari deretan pensil warna. Kurang sempurna untuk memindahkan senja ke dalam kertas gambar.

“Kapan kamu bisa kembali? Apa kita bisa bertemu lagi?”

Selia menggeleng tidak yakin.

“Bisai, aku lebih mencintai pohon ini daripada apapun. Karena di sini aku bisa menari. Sedang di dekat Mama, aku hanya dipaksa untuk menghapal semua isi buku. Kepalaku mudah sakit.”

Bisai merangkulnya lalu sama-sama menangis. Pohon keriput merontokkan daun-daun yang seolah berasal dari air mata Selia. Tanah sekitar pohon menangis yang semula hijau dan merona karena bunga warna-warni, menjelma semak belukar.Tanah gersang.

***

Bisai telentang di bawah selimut. Belum terlalu malam, tapi Bisai ingin segera tertidur melupakan Selia. Semoga tidur bisa melupakan semua kesedihan perpisahan.

“Bisai sudah tidur?” suara Papa terdengar parau.

“Dia bilang kecapekan. Dia tidur lebih awal.”

“Sudah dibereskan?”

“Beda sama Bisai, bocah yang itu memang lebih rewel.”

 “Tapi sudah beres kan Ma?”

“Sudah. Pagi tadi saat Bisai ke sekolah. Aku tidak ingin Bisai sampai tahu, kalau kakaknya seperti itu.”

Mendengar namanya disebut, Bisai bangkit mendekati pintu dan mengintip dari lubang kunci.

“Mungkin ini solusi terbaik buat Bisai dan Selia. Rencana kita punya anak dokter tidak terlaksana. Semoga Bisai kelak mau menuruti semua keinginan kita.”

Bayang-bayang Selia dan sebatang pohon menangis membuka ingatan Bisai pada komik tentang hutan hangus dimakan api yang sangat lapar. Pohon kering, tua, nan rapuh.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Pohon Menangis #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s