Resensi

Distopia 2050

(Harian Nasional, 5-6 Maret 2016)

resensi hujan harnas

George Orwell pernah menggegerkan dunia Inggris dengan novel 1984. Novel itu, membuat banyak orang takut menghadapi tahun 1984. Orwell menulisnya pada tahun 1949, tetapi mampu membangun visual lengkap akan perubahan sosial masyarakat di tahun 1984. Meski berbeda tensi dan gaya, sekarang publik Indonesia disuguhkan novel berupa prediksi kedistopiaan dunia tahun 2050 karya Tere Liye dengan tajuk Hujan.

Dalam novel ini, Tere Liye mencoba meramal kondisi dunia 2050. Hal pertama yang genting adalah pertumbuhan penduduk dunia yang luar biasa. Penduduk dunia mencapai 10 Milyar. Jumlah ini menimbulkan kelangkaan bahan makanan, air, tempat tinggal dan udara bersih. Thomas Malthus dalam esai terkenalnya An Essay on the Principle of Population, menyimpulkan bahwa angka produksi pangan sesuai deret jumlah (1,2,3,4,5….) sedangkan pertambahan populasi manusia menyesuaikan deret hitung (1,2,4,8,16,32,…). Ketimpangan ini membuat ketersediaan pangan tak sepadan dengan pertumbuhan penduduk.

 Umat manusia sejatinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak cepat menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tidak ada yang tersisa. Mereka rakus sekali. (hal.16)

Di tengah kondisi seperti ini, ada sebuah gagasan mengerikan untuk memangkas ledakan manusia di bumi. Perang, wabah penyakit, atau kematian lantaran digerogoti tua tidak mampu mengurangi jumlah populasi. Para ilmuwan mengharapkan datangnya bencana besar, yang mampu memangkas jumlah populasi.

Bencana datang pada Mei 2042. Gunung purba meletus dengan skala letusan 10 VEI (volcanic explosivity index), sebagai pembanding letusan Gunung Toba adalah 8 VEI dan Gunung Tambora 5 April 1815 hanya 7 VEI.

Letusan mahadahsyat mengurangi populasi manusia (population bottleneck).  Penduduk bumi hanya bersisa 10%. Tetapi persoalan tak berhenti sampai di sini. Bencana susulan yang digambarkan serupa dengan kiamat kecil, mulai dari penurunan suhu bumi sampai 15 derajat, kekurangan bahan pangan akibat lahan pertanian dan kandang peternakan rusak, juga soal kerusakan alam dan mayat manusia yang bergelimpangan menimbulkan pencemaran.

Di bagian inilah muncul bumbu percintaan khas Tere Liye, sosok Esok yang menolong Lail kelak akan menjadi cinta pertama, laiknya adegan sinetron televisi. Kemudian terjalin kisah melodramatik tentang percintaan Elok-Lail, persahabatan Maryam-Lail, dan juga kegigihan untuk rela berkorban.

Dunia 2050, menurut Tere Liye adalah dunia dengan kecanggihan teknologi. Nalar manusia sudah sedemikian maju, sehingga seolah mampu merekayasa segala keinginan. Beberapa potongan narasi merepresentasikan sebuah kecanggihan teknologi 2050. Serba praktis, serba ringkas. Tidak ada jam tangan konvensional, melainkan layar sentuh berukuran kecil, yang menunjukkan pukul 07.46 (hal.12), contohnya.

Tere Liye juga menggagas sebuah terobosan perihal kehidupan manusia. Di tahun 2050, manusia dapat mengutak-atik lapisan stratosfer di langit. Rekayasa ini dilakukan untuk mengubah kondisi iklim bumi pasca ledakan.

Bila kita melihat beberapa film distopia selalu ada usaha hijrah dari bumi yang mulai hancur. Mencari sebuah lokasi baru untuk memulai perdaban dan kehidupan manusia. Misal dalam film The Giver, Interstellar, atau The Martian, selalu ada solusi meninggalkan bumi yang hancur. Pesawat canggih tempat penampungan sementara.

Akibat perubahan lapisan stratosfer, iklim bumi menjadi labil dan ekstrim. Esok dan para ilmuwan merancang pesawat rahasia dengan jumlah penumpang terbatas yang akan pindah dan memulai kehidupan baru di luar bumi.

Namun Tere Liye sepertinya terjebak dalam keasyikan bumbu melodrama. Kisah Lail-Esok-Maryam justru menjadi suguhan utama. Napas distopia dan sebuah ramalan 2050 mendadak lenyap dan digeser drama mereka bertiga. Porsi narasi bagaimana dunia, teknologi, dan kacaunya dunia 2050 disingkirkan. Novel ini lebih serupa kisah percintaan dengan latar sebuah tahun 2050.

Memang masih sangat jauh bila dibandingkan dengan 1984 milik George Orwell. Seharusnya Tere Liye sedari awal konsisten dengan premis distopia, ramalan 2050, kehancuran bumi, dan kegaduhan dalam hidup manusia kelak. Sehingga Hujan akan hadir bukan sekadar uji-coba genre baru dalam deretan karya Tere Liye, tetapi sekaligus ‘teror’ terhadap pembaca bila tidak memerhatikan lingkungan dan kehidupan sedari sekarang. Namun usaha Tere Liye untuk menyuguhkan rasa lain bagi pembaca patut diapresiasi. (*)

Versi pendek resensi ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, 31 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s