Cerpen · Jurnal · Resensi

Seno dan Senja

SSUP-02

Memang terlalu mainstream bila mengidolakan Seno Gumira Ajidarma dalam dunia percerpenan. Penggemarnya sejak zaman dahulu hingga sekarang masih sepanjang Anyer-Panarukan. Banyak banget. Tapi memang, tidak ada alasan untuk tidak mengidolakan Seno. Coba sebutkan alasan logis untuk mengurangi kekaguman kita pada sosok Seno. Dia keren, rambut panjang dengan selir-selir putih, dia anti medsos yang menjauhkannya dari kesan alay-alay atau terlalu murahan (ini pendapatku saja). Apalagi tulisan-tulisannya. Mak nyes, adem, dan dalam.

Saya pertama kali mengenal Seno (jujur saya lebih dulu mengenal Agus Noor dengan kumpulan cerpen Selingkuh Itu Indah dan Bapak Presiden yang Terhormat) saat tiba-tiba menemukan buku Pelajaran Mengarang-Cerpen Pilihan Kompas 1993. FYI, di tahun buku pilihan 1993 ini ada empat judul cerpen Seno yang termaktub, yakni Pelajaran Mengarang, Sepotong Senja untuk Pacarku, Telinga, dan Maria. Cerpen milik Seno ini didaulat sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 1993 dan setelahnya ada dua judul cerpen Seno lain yang didaulat sebagai cerpen terbaik Kompas, Cinta di Atas Perahu Cadik (2007) dan Dodolitdodolitdodolibret (2010), ditambah deretan judul cerpennya yang masuk sebagai list terbaik Kompas setiap tahunnya.

Semenjak membaca buku Pelajaran Mengarang, saya lantas berburu semua buku Seno dan sederet judul buku cerpen pilihan Kompas setiap tahun. Alhamdulillah, komplit.

Di buku Pelajaran Mengarang itulah saya pertama kagum dan terpukau, atau menemukan momen freeze saat membaca cerpen Seno. Seperti ada kepak sayap di dadaku. Heeheee. Cerpen Pelajaran Mengarang seperti memberi tikaman di akhir cerita. Sepotong kalimat Ibuku seorang pelacur, jelas membuat pembaca terperangah. Dalam hati kala itu “Ini Seno, kurang ajar sekali!”.

Masih di buku yang sama, mendadak Seno mengajak kita ke ranah surealis pada cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku. Bagaimana seseorang kekasih mengirimkan senja di pantai, lengkap dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan berkas cahaya keemasan. Duh ini benar-benar bikin kita merinding disko. Untuk Alina kekasihnya, seorang lelaki mengirimkan senja tanpa ada tambahan kata-kata. Mungkin demikianlah pengorbanan untuk orang terkasih, apa pun akan di lakukan, meski bom nuklir mengguncang, gunung krakatau meledak, atau mendadak matahari beranak-pinak. Semua demi kekasih akan dilakukan. Seperti tokoh ‘aku’ yang mengiris senja, dikejar banyak orang, buronan polisi, hanya untuk kekasihnya Alina.

Dalam Sepotong Senja untuk Pacarku itu, kebanjiran adegan-adegan mokal, yang hanya akan hadir di dunia fiksi. Semisal begini: Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku.

Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” (Duh, harga senja Cuma seribu tiga)

Adegan ini: awas, hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Adegan ini yang mirip satu potongan adegan di film Jumanji, saat mendadak muncul air bah dan aneka keajaiban dari sebidang papan permainan itu.

Sepotong senja telah menjadi sebidang arena penuh imajinasi dan keajaiban. Saya sendiri membayangkan betapa kagetnya Alina mendadak mendapatkan kiriman senja nan romantis dari kekasihnya. Meski di cerpen Telinga, Seno justru mengubah kirim-kiriman antar kekasih menjadi sejenis pisau terselubung sutra, teror yang bikin lena.

Lalu apakah Seno sekadar main-main dengan senja dan kata-katanya? Ehhm, saya kurang mengerti. Tapi dari bagaimana Seno berkata-kata sedemikian indah, tentu Seno ingin menghadirkan sebentuk bacaan menggugah. Selain itu mungkinkah senja adalah metafora? Mengingat Seno memiliki novel Negeri Senja yang sangat sarat kode, simbol, metafora akan sebuah tirani orde baru. Mungkinkah cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku adalah bentuk keputusasaan untuk menghadirkan kisah romantisme? Embuh!

Dahulu kala, saat zaman postcard mengirim surat menjadi tradisi antar kekasih, maka cerpen ini menjadi sangat romantis. Tetapi sekarang, di zaman selfie dan pamer foto alam di aneka jejaring media sosial, mungkinkah generasi sekarang mampu mengapresiasi alam sedemikian romantis seperti senja di cerpen ini? Karena sepasang kekasih lebih senang mengirim chat lewat japri, tidak ada lagi tradisi seromantis surat-menyurat lagi.

Tetapi menarik saat menemukan sebuah kode dari Seno yang dilemparkan kepada pembaca. Lewat kalimat ini: Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A harap menepi. Di kalimat ini Seno memainkan kode nama dan tanggal lahir, Seno Gumira Ajidarma yang lahir 19 Juni 1958. Apik kan?

Tetap, Seno adalah si empu senja. Siapa saja yang menulis senja dewasa ini dipastikan tidak akan menyamai apalagi menandingi Sepotong Senja untuk Pacarku dan banyak prosa lain dengan tema senja milik Seno. Seno beralih wujud menjadi Pangeran Senja di dunia prosa Indonesia.

Dan saat judul cerpen ini menjadi tajuk kumpulan cerpen yang merangkum beberapa cerpen Seno dengan tema senja, buku ini menjadi laris manis. Dan selalu menjadi incaran para pemburu buku-buku Seno.

cover baru
cover baru
cover lama
cover lama

Anw, saya membaca buku kumpulan cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku yang edisi pertama tahun 2002, dengan cover yang saya punya sudah koyak. Ada cap perpustakaan sebuah daerah, tapi isi buku masih lengkap. Maka, saat buku kumpulan cerpen ini akan diterbitkan ulang (apa akan ada perubahan isi dan format baru di cetakan baru, kita belum tahu), kegembiraan saya membuncah. Seneng banget.

Maka tulisan ini hanya ocehan ngalor ngidul saya untuk merayakan dan mengungkapkan kegembiraan saya atas cetak ulangnya kumpulan cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku. Covernya menarik seperti amplop surat dengan perangko berupa cover lama buku yang sama. Kalau meminjam kata-kata Zacky Zulhazmi di Jawa Pos, 24 Januari 2016 lalu, mungkin ini adalah usaha untuk Menghidupkan yang Mati Suri. Sudah banyak fans Seno yang mencari buku ini. Langka, jelas. Kalau pun ada di perpustakaan kampus yang hanya bisa dibaca tak bisa dimiliki. Atau kalau pun kebetulan ada yang melepas koleksi pribadi, harganya kadang tidak masuk akal, saking mahalnya. Penerbitan ulang ini perlu dirayakan dengan kegembiraan luar biasa.

Di akhir ocehan saya mau menasihati diri sendiri yang kali ini sudah kepanjangan berceloteh. Potongan ini juga ada di cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku.

Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain. Mereka berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihann kata-kata tanpa makna.

Kita tunggu tanggal buku itu akan menghiasi rak toko buku, dan gegas membeli sebelum bukunya ludes.

TG26790A

Advertisements

3 thoughts on “Seno dan Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s