Cerpen

Operasi Penggantian Isi Kepala

(Tribun Jabar, 31 Januari 2016)

16TJ31012016.pmd

Almuri begidik ngeri membayangkannya. Mata bur melubangi tempurung tengkorak, selang disesalkan ke dalam, lantas isi kepala dikeluarkan. Rasa ngilu menjalar hingga pangkal leher lalu membangkitkan imajinasi seram. Amplop berisi sebuah poster, formulir pendaftaran kesediaan serta pernyataan asuransi, dan sekeping VCD berisi potongan adegan operasi membuat istirahat siang itu berongga. Tulisan besar “Operasi Penggantian Isi Kepala” semakin menghunjam. Kepala seseorang yang kebetulan isinya sudah kadaluarsa dikeluarkan, cairan pekat hitam mengucur ke wadah tembaga di bawah ranjang operasi, kemudian dokter menggantikannya dengan isi kepala yang baru.

Almuri mengelus bagian belakang kepalanya. Masih utuh. Kemudian timbul kembali rasa sakit yang selama ini dideritanya. Sakit luar biasa bak dihantam martil, bayangan pudar, lantas membuat jalan gemetar.

“Sudah waktunya, Pak,” Mahmudi, asistennya bersuara dengan sedikit ketakutan. Duduk di kursi seberang Almuri, kakinya rapat, degup jantungnya berpacu cepat.

“Risikonya bagaimana?”

Mahmudi menarik napas mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan apa itu “Operasi Penggantian Isi Kepala”.

“Jadi Dokter X, entah sengaja atau tidak, semua orang hanya menyebutnya Dokter X. Dokter X akan memeriksa keparahan isi kepala pasien. Bila memungkinkan hanya akan dilakukan terapi pemulihan atau pencangkokan neuron. Untuk cangkok digunakan sepotong dendrit kemudian dianakkan dalam larutan kimia di laboratorium khusus. Enam sampai delapan bulan. Saat sudah beranak, baru akan ditanam di kepala,” Mahmudi menjelaskan.

“Jadi apapun yang akan terjadi, kepala kita akan dibedah.”

“Ya, kalau tidak mengalami kerusakan tidak akan dibedah, Pak.”

Almuri menelan ludah. Lantas menjangkau secangkir kopi di depannya, meneguk beberapa kali untuk mencairkan ketegangan yang menggumpali dada.

“Kalau parah?”

“Kalau sudah tidak bisa ditolong, maka isi kepala akan dipaksa keluar. Kemudian diganti dengan isi yang baru.”

“Baru? Dari apa?”

“Ya, baru. Pak Almuri bisa memilih sendiri. Beberapa orang membeli isi kepala ilmuwan yang sudah mati. Tentu semakin bagus kondisi isi pengganti, biaya makin mahal.”

Almuri diam mencermati.

“Meski sembunyi-sembunyi, Operasi Penggantian Isi Kepala sudah memiliki sertifikasi internasional. Jadi dipastikan aman,” Mahmudi menyiram ketenangan.

“Aku ragu, Mahmudi. Tapi, kepalaku benar-benar sakit dan tidak bisa berpikir jernih sekarang ini.”

“Memang itu keputusan Bapak. Dan formulir itu adalah kesediaan dilakukan pembedahan atau pengeburan kepala dan tentu agunan asuransi.”

“Mahmudi…,” Almuri berhenti, tidak menlanjutkan lagi.

Almuri  menelan ludah perlahan. Ludah yang biasa manis mendadak hambar. Pikirannya terjebak pada keraguan yang mulai berpinak di benak Almuri. Mahmudi beranjak pergi, menutup pintu perlahan dan membuat suasana ruangannya dihinggapi senyap. Ratusan berkas membisu menunggu tanda tangannya. Tapi Almuri tidak sedang bernasfu untuk lekas menyelesaikan semuanya. Dia lebih ingin memikirkan tawaran Mahmudi tadi. Siapa tahu usul Mahmudi mampu mengusir nyeri, sesekali dicampuri godam-godam seolah ada raksasa yang merasuk dalam kepala Almuri.

***

Almuri mendadak pingsan. Vertigonya kumat. Semenjak kepala Almuri menjadi sangat sensitif dengan perubahan suhu. Bila panas mulai meninggi, seperti ketel uap, kepala Almuri akan mendadak mendidih. Sesekali uap panas berkepul-kepul dari lubang telinga dan hidung. Bila sudah demikian, Almuri tidak bisa lagi merasakan keberadaannya. Tubuhnya seolah terombang-ambing dalam ayunan angin. Matanya tak kuasa dibuka. Mulut tak pernah kering dari lantunan zikir. Seperti diujung sakaratul maut.

Paracetamol dan asam mefenamat sesekali berhasil mengurangi nyeri dan pedih di kepala Almuri. Tapi tak mempan lama. Setiap obat habis, Almuri meringis kesakitan. Dan keanehan itu semakin menjadi bila Almuri mulai berpikir keras. Sakit di kepalanya berkongsi dengan penat pekerjaan. Makin penat kepala Almuri sakit kepala makin jahat menjerat.

“Semakin tinggi jabatan, bukan semakin tenang malahan semakin ditekan banyak kepentingan,” keluh Almuri diam-diam. Suaranya dibekap agar tidak merembes keluar ruangan kerjanya. Dinding, atap, dan lantai bertelinga dan mampu menyebarkan keluh dan protes meski diucapkan samar.

“Hari ini proyek ini. Besok proyek itu. Semua harus digolkan,” Almuri membuka-membuka proposal yang memang diajukan sebelum masa lelang tander.

Semua proyek selalu lebih dahulu bocor bahkan saat masih dalam proses rembukan. Dinding, atap, bahkan lantai keramik benar-benar memiliki mulut panjang sehingga mampu menembus sekat dan membocorkan rencana. Sayangnya kebocoran itu hanya mengalir ke satu muara. Muara paling landai dan paling dekat dengan kantor. Siapa lagi, kalau bukan antek-antek pimpinan pusat.

“Berapa sih anak perusahaannya? Sepertinya, semua proyek bisa ditanganinya,” Almuri kembali mengembuskan pertanyaan muskil.

Sayangnya ujung dendrit yang satu kadang tidak bersepakat dengan yang lain. Beberapa melontarkan nada berontak, yang lain mengiyakan karena didera ketakutan. Ketidak seiya-sekata inilah yang membuat kepala Almuri semakin sakit bila dipojokkan.

“Jangan sampai kebenaran dan prinsipmu dilindas oleh keserakahan mereka. Kalau ini terbongkar, bukan hanya pimpinan yang tergerus. Kamu pun bisa musnah. Atau bahkan kamu yang dijadikan tumbal,” suara dari sisi yang begitu teduh. Setiap kalimatnya ditegaskan dengan keramahan, wangi ujung bambu, dan enak di telinga. “Jangan sampai ibadah umrahmu menjadi tak bermakna!”

“Tak apa, Almuri. Toh kamu tidak menilap semuanya. Bahkan kamu sendiri membuang sisipan-sisipan amplop ke hal-hal yang tidak bermanfaat. Tidak kamu bawa ke rumah. Jadi kamu akan tetap aman. Andai kamu memberontak, bukannya untung kamu justru akan buntung. Kenapa? Karena belum apa-apa pimpinan akan memutasi atau menurunkan jabatanmu. Iya kalau cuma itu. Kalau dipecat?” mendengar suara itu Almuri bergidik. Tidak mudah merintis karir di zaman susah seperti ini. Suara kedua ini meski sedikit memekak, berbau apak, dan intonasi tak begitu enak tetap ada benarnya.

Keduanya bergema dari dua polaritas berbeda, panas dan dingin. Bak dua gajah saling seruduk, Almuri seperti menjangan lemah tak berdaya terkena tusuk gadingnya. Suara-suara saling berkebalikan ini membuat ini kepala Almuri semakin kacau berkelahi. Satu memakai jurus silat, satu lagi memakai tendangan kaki Tae Kwon Do. Akibatnya, otak yang memang didesain lemah, perlahan-lahan mengalami kerusakan.

Puncaknya sekarang. Bila rebahan miring, naik turun tangga, atau berlari Almuri akan meraskan ada yang terkocak dalam kepala. Almuri akan duduk lama dan memijat-mijat kepala untuk menghalau kepilau. Meski hasilnya zero.

“Mungkin sudah saatnya isi kepala ini kuganti,” simpul Almuri. Lantas memencet nama Mahmudi di layar telepon genggam, membuat janji, dan mengusir bayangan ngeri dan sakitnya mata bur membuat jalan di tengkorak kepala. Tengkuk Almuri meremang. Wajahnya kuyup masai oleh keringat dan ketakutan yang tak bisa disimpan.

***

Bersama Mahmudi, Almuri mendaftarkan diri sebagai salah satu pasien Dokter X. Meski dadanya bergemuruh oleh rasa takut, Mahmudi terus meyakinkan bahwa tidak ada keganjilan dalam pelaksanaan operasi tersebut.

“Banyak orang besar melakukan operasi ini juga,” Mahmudi mencoba menenangkan. Degup jantung Almuri lamat-lamat terdengar oleh Mahmudi.

Seperti klinik-klinik kesehatan lainnya, ruangan tersebut dominan putih, wangi lembut, dan perawat hilir mudik tanpa banyak bergosip. Almuri mencoba mengamati, siapa tahu salah satu dari antrean pasien adalah karib kerja atau sejawat kenalannya.

Kesan yang kentara adalah rahasia. Banyak pasien sengaja memakai tutup muka, kacamata hitam, atau memakai kerudung panjang. Antar pasien tak banyak tumbuh keakraban, saling sapa, apalagi guyonan. Mungkin karena ini berurusan dengan hal paling tertinggi di tubuh manusia, isi kepala. Banyak orang merasa harus menjaga rahasia bila kebetulan tahu isi kepalanya rusak dan membutuhkan pengganti.

Mendadak dari pengeras suara mengabarkan bahwa klinik akan tutup sementara. Dua sampai tiga jam. Seluruh antrean pasien diharapkan meninggalkan klinik. Banyak suara protes bersahutan seketika senyap, saat suara sirene menerobos klinik. Puluhan pasang mata melongok mencari tahu siapa yang harus dikepung pengawal bersirine itu. Lelaki-lelaki bersafari hitam, sebuah earphone menyumpali telinga, dan saling memberi koordinasi kondisi. Mau tidak mau Almuri bergabung dengan banyak pasien yang harus diungsikan sementara tamu istimewa melakukan Operasi Penggantian Isi Kepala.

“Ini siapa sih? Merusak antrean dan harus diistimewakan,” Almuri menggerutu sambil menepi ke balai-balai di luar klinik. Matanya menangkap sosok yang dipagari lelaki-lelaki muda nan tegap. Matanya ditutupi kacamata dan mukanya sengaja ditundukkan menghindari mata orang.

“Bukannya dia?” celetuk Almuri terhenti. Sontak membuat puluhan pasien lain terhenyak. Bagaimana mungkin orang paling terhormat di kota ini mendatangi Operasi Penggantian Isi Kepala? Almuri tersenyum.

“Pantas belakangan, keputusannya selalu aneh. Mungkin isi kepalanya perlu diganti,” simpul Almuri.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s