Resensi

Jejak Petinju Harry Haft di Era Nazi

(Harian Nasional, 30-31 Januari 2016)

[Ini merupakan buku komik atau novel grafis kesukaan saya, setelah “Rampokan Jawa dan Celebes” punya Peter van Dongen. Mengapa? Gambar-gambarnya sederhana, namun mengisahkan horor mencekam. Kekejaman Nazi digambar dengan begitu simbolik. Dan kalau dicermati ada bagian dimana Nazi mengubah tahanan Yahudi menjadi kanibal karena keterbatasan bahan makanan dalam kamp. Apalagi kalau dikisahkan bagaimana Haft melawan sesama tahanan yang sudah hampir sekarat demi kepuasan tontonan tentara Nazi, sejenis pentas gladiator yang taruhannya adalah hidup atau mati. Silakan dibaca hasil pembacaan saya dan dibeli bukunya]

resensi sang petinju

Tentara Schutzstaffel(SS) Nazi Jerman menyerang Polandia pada 1939. Puncaknya Belcathow berhasil dikuasai Nazi pada Maret 1939. Kota kecil itu kemudian dipisahkan menjadi dua konsentrasi, Pusat Pemerintahan Umum dan Daerah Jajahan. Yang sebenarnya diperuntukkan untuk memisahkan warga Jerman dan keturunan Yahudi.

Kehidupan kota berubah drastis. Semua serba terlarang bagi kaum Yahudi. Kami bisa dipanggil kapan saja untuk kerja paksa. Kami tidak diperbolehkan bepergian dan diberlakukan jam malam. (hal.22) Juga kekurangan bahan makanan. Termasuk Keluarga Hertzko “Harry” Haft, yang ketika itu berusia 14 tahun. Pasokan bahan makanan diselundupkan Aria, kakak tertua, dari Pusat Pemerintahan Umum tak jauh dari daerah jajahan.

Jerman menyebar poster seolah merekrut tenaga kerja muda. Namun sejatinya poster-poster itu adalah taktik untuk menangkap dan menjadikan pemuda Yahudi budak di pertambangan. Aria termasuk yang tertarik. Hertzko ingin menghalangi kakaknya. Namun nasib sial menhampiri Hertzko, karena justru dia yang tergiring bersama banyak lelaki Yahudi ke kurungan ghetto. Hertzko muda meninggalkan keluarga dan Leah, kekasihnya.

Mulai sekarang aku sendirian. Kesepian melanda layaknya hantaman ombak. (hal.36) Hertzko dan tawanan lain berpindah-pindah camp, lahan kerja paksa, berebut makanan tak seberapa, kematian begitu akrab, hingga Hertzko mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tuhan, lihatlah sekelilingmu. Apakah kau akan membiarkan hal keji seperti ini, jika memang kau ada? (hal.67)

Tentara SS tak henti-hentinya mementaskan atraksi keji. Diceritakan bahwa setiap tawanan memiliki barcode angka yang dirajah di tangan. Hertzko mendapatkan angka 144738. Pasokan makanan hampir tak ada memaksa tawanan saling mencuri dan menyelundupkan makanan. Bahkan di halaman 87, divisualkan bagaimana antar tawanan saling membunuh dan memakan. Nazi telah menyulap manusia menjadi kanibal.

Tentara SS juga gemar menonton olah raga, yakni sepak bola dan tinju yang memiki aturan sendiri. Dalam tinju hanya ada dua pilihan, menang dengan membunuh atau kalah terbunuh di atas ring. Hertzko yang masih berusia belia menarik perhatian beberapa tentara. Hertzko ditawari untuk menjadi atlet tinju, dengan jaminan diperlakukan lebih manusiawi di antara tawanan lain.

Tinju ada di hampir setiap konsentrasi Jerman. Pakar sejarah bahkan mengatakan pada enam bulan pertama 1940-an, sejumlah petinju ditahan dan dianiaya di kamp Nazi. Namun, bukti soal pertandingan-pertandingan hidup dan mati itu terlupakan akibat minimnya data.

Hertzko terlindungi karena berlagak seperti anjing peliharaan petugas. Jika kau ingin melolong bersama serigala, gunakanlah bahasanya. (hal.69) Seperti anjing aduan, Hertzko harus melawan sekaligus menghantam enam tawanan yang hampir mati.

April 1945, tentara Uni Sovyet menggempur pertahanan Nazi. Kamp konsentrasi kocar-kacir, ribuan tawanan berkali-kali dipindahkan. Hertzko berhasil melarikan diri. Ini dilakukannya demi keluarga dan cinta pertamanya, Leah. Lantas Hertzko hijrah ke Amerika.

Berbekal pengalaman menjadi petinju amatir, Hertzko memberanikan diri menjajal kemampuan di ring tinju profesional Amerika. Hertzko yang kemudian memakai nama panggung Harry Haft juga ingin memperoleh popularitas sehingga Leah cepat mengenalinya.

Namun karir Hertzko redup dan memaksanya gantung sarung bahkan sebelum bertemu dengan Leah. Kekahalannya dengan Rocky Marciano, petinju kelas berat yang dikenal tidak pernah kalah sangat memukul. Hertzko meyakinin kemenangan Rocky diskenario dan penuh politik uang. Pada tanggal 18 Jui 1949, di ronde ketiga, Hertzko resmi mengakhiri karirnya.

Sampai akhir hayat, Hertzko yakin permainan hari itu penuh manipulasi dan kerja para mafia. Namun, tidak ada bukti otentik untuk membenarkannya.

Trauma hebat tampak pasca Hertzko pensiun. Dia menjadi ayah yang sangat ringan tangan dan pemurung terhadap Alan, sulungnya. Dan fakta bahwa Hertzko buta huruf sepanjang hidup. Kekerasan selama di kamp konsentrasi Nazi telah mengubah hidup Hertzko. Terlebih, fakta bahwa Leah kekasihnya baru ditemukan saat usia sudah renta dan Leah sedang berjuang melawan maut akibat kanker.

Buku biografi yang dikemas dalam bentuk komik ini dibuat atas dasar kisah Hertzko Haft yang ditulis Alan Scott Haft dalam buku Harry Haft: Auschwitz Survivor, Challenger of Rocky Marciano. Kisah tragis hidup Hertzko baru terkuak setelah dia berusia lanjut dan memendam pedih hidupnya seorang diri. Lantas Reinhard, komikus asli Jerman, membuat versi komik.

Pertama kali muncul sebagai komik berseri di koran Frankfurter Allgemeinen Zeitung Maret-September 2011, dengan judul Der Boxer. Kemudian dikemas dalam bentuk buku dan meraih penghargaan buku nonfiksi terbaik pada German Children’s Literature Award 2013, Best German Book Award Munich Comic Festival 2013, dan Grand Prix De Lyon.

Trauma akan kekejaman Nazi di kamp konsentrasi telah membuat Hertzko ringan tangan terhadap anaknya, Alan. Hari-harinya dalam teror luka perang yang tak pernah hilang. Kisah hidupnya sekaligus terus merenungkan manfaat kekuasaan orotiter bila hadirnya justru merusak hidup orang. Cukuplah Hertzko Haft sebagai korban. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s