Resensi

Alice Munro Duduk di Kereta dan Menulis Cerita

(Sastra Sumbar, 17 Januari 2016)

Versi terjemahan vs english

Ketika selesai membaca kumpulan cerpen Alice Munro ini, hanya ada satu nama penulis perempuan Indonesia yang terbayang di kepala. Ialah Nh Dini. Memang tidak sopan membandingkan keduanya, tapi setidaknya ada beberapa kesamaan antara Nh Dini dengan Alice Munro. Keduanya dalam menulis memilih menggunakan gaya penceritaan yang semi autobiografis. Kisah-kisah Nh Dini dan Alice Munro terasa hidup dan seolah menjadi bagian dari kisah penulis sendiri. Atau sangat mungkin kisah-kisah fiksi Nh Dini maupun Alice Munro adalah penggalan pengalaman hidup mereka. Pembaca dapat merasakan kejujuran dalam setiap tulisan keduanya. Kesamaan selanjutnya bahwa Nh Dini dan Alice Munro, yang sama-sama penulis perempuan, berusaha menyuarakan cerita hidup perempuan atau menyeruakkan aroma feminisme. Meski memang faktanya Nh Dini belum beroleh penghargaan setinggi Nobel Sastra pada Alice Munro di tahun 2013.

Ada yang mengatakan Alice Munro adalah penulis cerpen yang tidak pernah selesai belajar menulis novel. Sepanjang karir menulisnya, Alice Munro hanya menulis cerpen. Cerpen-cerpen Alice Munro bisa dikategorikan cerpen panjang dalam skala cerpen Indonesia. Berkisar antara 40.000-100.000 karakter dengan spasi. Bila di Indonesia cerita sepanjang itu masuk kategori novela atau cerita bersambung. Panjang ini terasa sangat melelahkan bila pembaca lebih suka membaca cerpen lokal Indonesia, yang rata-rata antara 10.000 karakter. (Standar cerpen KOMPAS dan media massa pada umumnya)

Saat Alice Munro dianugerahi hadiah nobel, banyak yang mengatakan ini adalah kebangkitan para cerpenis. Selama ini cerpen selalu dianggap berada di belakang novel. Namun Alice Munro yang sepanjang karir menulisnya hanya menulis cerpen, dianugerahi sebagai “master of the contemporary short story“ bahkan disebut-sebut sebagai Canadian’s Chekov “Chekov dari Kanada”. Dear Life adalah kumpulan cerpen terakhirnya setelah menggantung pena (red: pensiun menulis).

Sumber gambar di sini

Kelapangan dalam segi panjang ini memungkinkan Alice Munro membuat cerita dengan banyak tokoh dan eksplorasi karakter setiap tokoh mendalam.

Dengan cerita yang panjang ini pula, Alice Munro berkesempatan merekam kejadian beragam. Bahkan bermula dari sebuah adegan yang jauh terjadi sebelum kejadian utama. Misalnya dalam cerpen Leaving Maverley, yang diterjemahkan menjadi Meninggalkan Maverley, Alice Munro memulai cerita dengan kehadiran seorang penjaga bioskop Capital bernama Morgan, yang bertemu dengan gadis penjaga tiket Leah. Dan Leah inilah yang akan menjadi tokoh utama dalam cerpen tersebut.

Cerpen pembuka To Reach Japan, mengisahkan Greta beserta anaknya Katy, harus meninggalkan suaminya Peter yang bertugas di Lund. Sedangkan Greta bersama anaknya Katy akan tinggal di Toronto. Perpisahan ini membuat perasaan Greta terhadap laki-laki lain yang ditemui di Toronto berubah. Bahkan pertemuannya Bennett justru membuatnya merasakan kerinduan terlarang. Kau mengira Greta akan melupakan wajah Bennett, tapi nyatanya gambaran lelaki itu selalu muncul secara utuh, paras yang kusut dan kelihatan letih, getir, jenis lelaki yang suka berama-lama dalam ruangan. (hal.12).

Aroma perselingkuhan juga muncul di cerpen Dolly. Sepasang suami-istri yang sudah berumur bahkan sudah merencanakan bagaimana proses kematian yang mereka inginkan, tiba-tiba kehadiran tokoh perempuan bernama Gwendolyn. Gwen atau Dolly adalah teman mengajar di sekolah sang istri, juga merupakan kisah cinta lama semasa muda sang suami.

Kesan feminis atau minimal pembelaan terhadap kaum perempuan terasa sepanjang cerita-cerita Alice Munro. Tokoh-tokoh perempuan yang digambarkan Alice Munro memiliki banyak layer dalam kehidupannya. Sebaliknya tokoh laki-laki digambarkan sebagaimana laki-laki pada umumnya, bahkan beberapa digambarkan berperangai buruk terhadap pasangannya. Dalam cerpen Leaving Maverley, suami Leah memiliki kebiasaan minum alkohol dan berperilaku kasar pada Leah. Bahkan dalam cerpen Amudsen, kekasih Miss Hyde adalah lelaki yang tidak pernah disukainya.

Kesan laki-laki yang mendominasi juga tampak secara jelas dalam cerpen Haven (diterjemahkan menjadi Surga). Cerpen ini juga menjadi salah satu cerpen favorit saya. Paman Jasper, suami Bibi Dawn, bersikap konservatif, agamis, tidak suka musik, dan terkesan selalu ingin dihormati oleh istrinya. Bibi Dawn bahkan secara tegas mengatakan bahwa tugas terpenting seorang perempuan adalah menciptakan surga bagi suaminya.(hal.112) Sikap Paman Jasper terhadap saudara perempuannya Mona juga terkesan sangat kaku. Paman Jasper tidak setuju dengan pilihan Mona untuk menjadi musisi. Paman Jasper yang seorang dokter terhormat digambarkan mengalami titik balik saat kematian Mona.

Dalam cerpen Haven ini pula (cerpen Haven adalah cerpen favorit saya dalam buku ini), Alice Munro menyinggung persoalan agama di masyarakat modern. Tampak sekali urusan keluarga menjadi sangat urgent dalam cerpen ini. Kebanyakan orang modern menganggap agama hanya ada di tengah-tengah ritual dalam tempat peribadatan. Di rumah, di meja makan, dan kehidupan sehari-hari adalah dunia yang jauh dari agama. Namun Alice Munro menyindir hal ini dengan lembut, aku tidak pernah menunduk di atas sepiring makanan seumur hidupku. (hal.109). Kesadaran Paman Jasper juga mencuat ketika ada kejadian yang bersinggungan dengan keyakinan Tuhan, yaitu kematian.

Empat cerpen terakhir, yaitu Mata, Malam, Suara, dan Kehidupan Yang Berharga dikatakan oleh Alice Munro sebagai sebuah memoar kehidupannya. Dalam empat cerpen ini, Alice Munro berkisah tentang keluarganya. Mulai ketika masih kecil dengan seorang pembantu yang lebih dominan mengajarinya nyanyian gereja, kemudian ibu yang terkena kanker, kemudian ayah yang diam-diam mengenalkan wanita lain (red: calon ibu baru) kepadanya.

Kekuatan cerpen Alice Munro terletak bagaimana dia mengungkapkan pemikiran tokoh perempuan, serta kejernihan dalam bahasa, bila membaca versi english tidak akan menemukan banyak metafora yang lebay. Hampir semua ceritanya berkisah tentang perempuan dengan aneka persoalan. Alice Munro pula menyisipkan pembelaan terhadap perempuan.

Kejernihan bahasa yang realis menjadi kekuatan dominan Alice Munro. Gaya ini menguatkan pilihan tema Alice Munro, sehingga pesan akan tersampaikan tanpa distorsi. Kebanyakan cerita Alice Munro adalah deretan kejadian-kejadian dengan durasi yang panjang, atau para kritikus sastra menyebutnya bildungsroman. Saya sendiri membayangkan Alice Munro duduk di dalam kereta, kemudian menggunakan jendela kaca yang terus bergerak untuk menuliskan cerita. Sehingga ceritanya memiliki durasi yang panjang dan mampu merekam banyak kejadian. Sekarang kita menunggu kemunculan cerpenis perempuan Indonesia dengan gaya jernih, yang mengungkapkan kehidupan perempuan Indonesia.

Terima kasih kepada penerjemah, Mas Tia Setiadi dan dan Rini Nurul Badariah yang menerjemahkan dengan bagus. Tidak meninggalkan kesan sederhana tapi menyimpan daya ledak mengagumkan dari cerpen-cerpen Alice Munro. (*)

 12494973_1691166847766127_2698904762560544932_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s