Resensi

Prosa Thriller Rasa Melayu

(Jawa Pos, 10 Januari 2016)

Tanjung Luka-1

NOVEL MELAYU kebanyakan berkisah tentang romansa percintaan berlatar budaya lokal. Sastra Melayu yang sudah berkembang lama, mengakar dengan genre demikian. Namun, Benny Arnas dengan novel Tanjung Luka terbarunya, membawa rasa berbeda dari novel berlatar dan bergaya Melayu. Tanjung Luka justru menyajikan kisah roman thriller berlatar mitos masyarakat Dukuh Ulakkungkung, Lubuklinggau.

Keseluruhan tubuh prosa dimulai dari pijakan sebuah mitos yang berkembang di Dukuh Uluakkungkung, bahwa siapa saja yang lahir di kandang babi sepanjang hidupnya akan dinaungi kesialan. Markonet dahulu lahir di kandang babi. Kemudian dia bertubuh bongsor, berkelakukan laki-laki, dan ditinggal oleh suami pertama Zawalib, karena prasangka bahwa Markonet tidak perawan sebab tidak ada darah di seprai ranjang pengantin (hal.17). Setelah menjanda hanya Barkumkum, garin masjid yang mau mendekati Markonet.

Kelahiran putra Markonet dan Barkumkum, Tanjungluka pun di dekat kandang babi. Di tanjung Sungai Kelingi dalam perjalanan menuju dukun bayi Mak Jakun. Rupanya babi-babi hutan itu juga berdiam dalam persembunyian, karena beberapa dari mereka hendak melahirkan. (hal.31) Lengkaplah sudah kutukan meliputi keluarga Markonet dan Barkumkum.

Mitos tersebut diimani sebagai kutukan yang terus diperbincangkan, karena mulut wanita adalah matahari yang dibekap kain. Seperti apa pun upaya untuk menutupi, sinarnya akan memancar kemana-mana (hal.35).

Kutukan pertama yang timbul di keluarga Markonet adalah isu bahwa Markonet bekerja di lokalisasi pelacuran Patokbesi. Isu ini jelas menampar Barkumkum yang bercitra lelaki salih. Puncak dari itu adalah terbunuhnya Mami Berong, di dalam rumah Barkumkum.

Pembunuhan pertama dengan memukul kepala Mami Berong dengan palu ini menjadikan Barkumkum mendekam di sel penjara. Yang disusul kejadian demi kejadian yang merusak keharmonisan keluarga kecil itu. Markonet melarikan diri, dikucilkan tetangga, dan lara berlarat-larat dalam dada Tanjungluka, si anak lelaki yang mencoba tidak percaya bahwa ayahnya membunuh.

Jangan-jangan Tuhan bersekongkol dengan orang-orang Kampung untuk memerudukkan keluarganya ke dalam kehancuran? Mati-matian Tanjungluka menghapus kutukan dari dalam kepalanya. (hal.60)

Benny Arnas memang sedang beranjak dari comfort zone dalam menulis prosa. Dia memfokuskan diri untuk menceritakan kisah pembunuhan demi pembunuhan bercampur gaya detektif, dengan latar dan bahasa melayu.

Jejak rasa melayu dalam tubuh novel ditandai dengan gaya Benny Arnas dengan kalimat penuh bunga-bunga serta dialek-dialek khas Melayu. Alamakjang, amboi, alebam, oi, bengak, acakadut, contohnya.

Ciri lain yang menjadikan novel ini sangat Melayu adalah dunia patrilinear, bahwa lelaki selalu lebih unggul dari perempuan. Benny Arnas lebih fokus pada kisah-kisah lelaki yang menjadi tokoh dalam novel ini. Bahkan dalam salah satu teks, Benny Arnas menyindir posisi perempuan tradisional Lubuklinggau yang dinomorduakan. Perempuan harus turut bekerja keras mencari uang. Awalnya Tanjungluka mengira perempuan-perempuan itu telah menjadi kacung suaminya yang sedang leyeh-leyeh di rumah. (hal.67)

Thriller Benny Arnas memang tidak jedar-jeder seperti film Barat. Namun cukup membuat kuduk meremang bila membandingkan dengan awalan dalam novel ini. Kejutan utama Benny Arnas adalah menjebak pembaca dengan ekspektasi disuguhi novel romantis manis, namun mendadak menjadi horor di bagian tengah hingga akhir.

Selama Tanjungluka mencari cara bagaimana membebaskan Barkumkum dan terus mengulik siapa sebenarnya pembunuh Mama Berong, terkuaklah fakta-fakta mengerikan. Perjalan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa tempat Barkumkum di rawat karena diduga gila, melarikan diri ke Binjai, bahkan mengorek kebenaran dari Markonet.

Usai berhasil melarikan diri dengan berpura-pura sakit dan gila itulah, pembunuhan pertama Barkumkum terjadi. Dia disaksikan Tanjungluka membunuh sopir angkutan yang membawanya ke tempat Markonet, yang tidak lain adalah kawan satu selnya dahulu.

Dan saat ketiganya berkumpul, mereka saling tuduh dan terkuaklah siapa yang membunuh Mak Berong. Dengan terlebih dahulu, Markonet meminta Tanjungluka menghantam kepala Barkumkum. Pada akhirnya ketiga tokoh utama dalam novel ini adalah pembunuh.

Kutukan untuk keluarga itu karena mitos kelahiran di kadang babi terbukti. Kutukan itu sama seperti iblis. Tak dianggap saja, dia ada. Apalagi sampai dibicarakan dan diaminkan, dia akan merasa terusik. Dia meledak! (hal.223)

Ketiadaan sosok protagonis dalam novel ini menjadi poin paling unik. Ketika kebanyakan novel mengunggulkan satu tokoh untuk menjadi pahlawan yang mengangkat tropi kemenangan di akhir, Benny Arnas justru membuat semua tokoh dalam novel memiliki sisi buruk menonjol. Semua orang memiliki sisi iblis yang mendominasi dalam sekali waktu.

Bukankah demikian manusia hidup? Sosok-sosok hero dalam pandangan manusia pasti memiliki sisi buruk yang kadang tersamar oleh silau pujian. Dengan memahami nilai dari novel Tanjung Luka ini, kita akan setidaknya melihat kebaikan dan keburukan orang secara sewajarnya. Tidak mendewakan orang yang berbuat baik, pun tidak mendakwa penghuni neraka yang kebetulan kurang baik. Manusia tak berhak menentukan surga dan neraka manusia, jangan banyak merutuk dan menyalahkan, apalagi sampai menyeret-nyeret surga-neraka. (hal.281) (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s