Resensi

Lanskap Alam Dan Renungan Kawabata

(Jawa Pos, 3 Januari 2016)

Kawabata

YASUNARI KAWABATA(1899-1972) menjadi sastrawan sekaligus peraih nobel asal Jepang yang begitu dekat dengan pembaca Indonesia. Karya-karyanya sudah lama diterjemahkan dan hadir di ruang baca kita. Novel puncaknya, Yukiguni (Snow Country) dialihbahasakan dalam banyak versi. Kini pembaca Indonesia disuguhkan kembali dengan kompilasi cerita pendeknya dengan tajuk Daun-daun Bambu.

Dalam buku ini, terdapat tujuh cerita pendek dan sebuah pidato ketika Kawabata dianugerahi nobel sastra. Cerpen dalam buku ini tidak melulu diartikan sebagai cerita berukuran pendek. Cerpen Burung-burung dan Satwa Liar memiliki panjang yang cukup untuk dikategorikan sebagai novelet. Namun di lain tempat, Kawabata juga menghadirkan cerpen super pendek seperti Daun-daun Bambu. Perbedaan ini tak begitu mengganggu, karena pembaca Indonesia pun sudah terbiasa dengan perubahan panjang-pendek sebuah cerpen. Kita sudah terbiasa dengan cerpen panjang ala Budi Darma, juga enak saja membaca cerpen mini anggitan Agus Noor.

Kawabata menyuguhkan prosa dengan tipe naturalis penuh renungan falsafah hidup. Dalam tulisannya, Kawabata tidak menyuguhkan teknik bercerita jungkir-balik, namun lebih menampilkan kesederhanaan dan keluguan. Bahkan di beberapa cerpen, Kawabata seolah sedang berkisah tanpa arah. Namun dari kesederhanaan itulah, Kawabata menghadirkan sebuah renungan akan hidup.

Dalam cerpen Burung-burung dan Satwa Liar, berkisah tentang bagaimana lelaki dalam cerita bersinggungan dengan aneka hewan peliharaan, mulai dari aneka jenis burung dan seekor anjing. Misalkan bagaimana Kawabata mengambil metafora seekor Burung Kikuitadaki, yang digambarkan begitu setia terhadap pasangannya. Burung ini hidup berpasang-pasangan di alam, jantan-betina. Suatu kali burung jantan lepas dari sangkar dan meninggalkan betina. Maka lambat laun, betina ini gelisah dan bertemu ajal.

Ikatan antara manusia diibaratkan sekuat demikian. Ikatan suami istri, orang tua dan anak, saudara lelaki atau pun perempuan: ikatan itu tidak mudah terputus bahkan bagi orang yang paling membosankan. (hal.39)

Dalam memilih hewan peliharaan, si tokoh dalam cerpen memilih burung yang lekat dengan sikap hidup orang Jepang daripada burung yang memakan padi-padian namun bergaya barat. (hal.55) Kawabata menyodorkan sebuah renungan akan benturan budaya Barat dan Jepang. Bahwa manusia sesekali berpolah angkuh demi merasakan kesunyian yang lebih dalam dan mandiri di tengah hingar-bingar kehidupan.

Renungan lebih dalam tampak dalam cerpen Sang Juru Makam. Kawabata membicarakan kematian. Tokoh aku yang mendapat julukan juru makam selalu hadir di setiap upacara kematian. Semakin jauh kekerabatan justru membuatnya semakin rajin datang. Dia hadir bukan hanya sekadar pelayat tapi juga khusyuk berdoa. Upacara pemakaman sering memberi inspirasi padaku untuk memperhitungkan hidup dan matinya orang-orang terdekatku. (hal.72)

Selain renungan, cerpen-cerpen Kawabata juga menyuguhkan lanskap alam Jepang. Di banyak prosa, Kawabata memang tidak mendiskripsikan suasana secara detail. Tetapi Kawabata membawa satwa endemik khas Jepang yang unik, sebagai contoh, Burung Higara, Burung Misosazai, Burung Hitaki, Burung Kikuitadaki, Burung Komadori, dsb.

Pilihan Kawabata ini merujuk bagaimana sikap Jepang dalam dunia internasional. Kawabata menekankan bahwa Jepang memiliki budaya luhur yang tidak kalah dengan budaya Barat. Bahkan dalam pidato penganugerahan nobelnya, Kawabata disinggung dengan cukup keras bagaimana persinggungan budaya Jepang dan Barat. Karya-karya saya sendiri bisa dikatakan sebagai kehampaan, tapi ini tidak berasal dari nihilisme Barat (hal.24).

Sikap Kawabata ini juga tercermin dari bagaimana Jepang memberlakukan politik dumping untuk melindungi produk dalam negeri. Meski keterkaitannya perlu diteliti lebih rinci, namun sikap Kawabata pun sastrawan-sastrawan lainnya menjadi titik runcing untuk menandaskan budaya Jepang di tengah rimba dunia.

Dalam cerpen Tahi Lalat dan Burung Higara, mengingatkan pada lukisan Dance in The Country karya Auguste Renoir (1841-1919). Bahwa objek yang berukuran besar, yakni pasangan berdansa justru tidak menjadi main object lukisan. Tokoh utamanya adalah gadis pengintip di pojokan. Dalam kedua cerpen ini pun terkesan demikian, sentra tokoh justru ada pada tokoh sampiran.

Bahwa cerpen Burung Higara memang berkisah tentang Matsuo yang membeli beberapa burung tanpa sepengetahuan Haruko, istrinya, bersama wanita lain. Namun sebenarnya cerpen ini menyorot kegundahan Haruko sang istri. Kawabata mendedah sikap dan posisi perempuan dalam keluarga tradisional Jepang.

Bagi Haruko, lebih baik jika suaminya mengingat si wanita daripada seekor burung. (hal.119) Juga perihal bagaimana istri selalu berada di posisi nomor dua, posisi mengalah terhadap sikap suami. Suami tidak selamanya benar dan selalu sesuai dengan ucapan, meski ia pernah mengatakan tak bagus jika terlalu memupuk kemewahan, namun ia sendiri memperturutkan selera pribadinya. (hal.122)

Pembelaan serupa juga Kawabata sampaikan dalam cerpen Tahi Lalat. Perempuan hanya dinilai dari kesempurnaan fisik belaka. Wanita harus tampil sempurna di hadapan suami. Padahal di benak perempuan, banyak sekali keinginan yang enggan diutarakan.

Kesederhanaan tidak selalu biasa-biasa saja. Kesederhanaan bahasa dan cerita Kawabata justru menyeret pembaca untuk menilai dari banyak kemungkinan. Banyak kalimat dalam cerita yang mudah ditangkap dan dirasakan suasananya, namun menyimpan beragam tafsiran. Mungkin inilah yang membuat karya-karya Kawabata tetap enak dan menghadirkan pemaknaan baru hingga sekarang. Bila sebuah karya yang telah bertahun-tahun lampau ditulis, serta masih menumbuhkan keinginan untuk dibaca, dapat dikatakan karya tersebut bermutu dan klasik. Sebuah padanan untuk karya yang akan kekal dan melintasi zaman.(*)

Judul : Daun-daun Bambu
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerbit : EA Books, Yogyakarta
Tebal : 154 halaman
Cetakan : I/ Desember 2015
ISBN : 9786021318195

Bila hendak memiliki buku ini bisa kontak Pojok Cerpen maupun Penerbit EA Books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s