Cerpen

Sakit Gigi

(Femina, 28 November-04 Desember 2015)

ilustrasi sakit gigi

GERAHAMKU yang bontot, urutan kedelapan sedang rewel dan membengkakkan gusi. Dia tumbuh pada posisi kurang mengenakkan, miring dan mendesak molar nomor tujuh. Dokter gigi menyarankan untuk dicabut saja, karena posisi geraham melintang justru rawan berlubang karena tidak maksimal tersikat. Namun, operasi kecil itu baru bisa dilakukan ketika bengkak gusi sudah kempes. Kira-kira membutuhkan masa redam tiga hari. Selama itu aku harus terus minum asam mefenamat tiga hari sekali untuk meredakan nyeri. Perkara satu geraham saja, semua menjadi runyam. Menyelesaikan pekerjaan tidak nyaman, tidur tidak nyenyak, dan mudah sekali naik pitam. Badan gemreges, tidak fit.

Aku memilih makanan yang tak butuh kerja geraham mengunyah. Bubur halus atau jus buah-buahan. Demi kenyamanan di kantor, kusiapkan sendiri kotak makan siang berisi kentang tumbuk keju, pepaya, kiwi, dan tentu sekaplet asam mefenamat. Karena tidak mungkin memesan makanan-makanan tersebut di kantin kantor. Tidak masalah, hanya tiga hari, pikirku. Setelah itu aku bebas dari penjara rasa sakit.

Pagi ini rasanya benar-benar tidak ingin beranjak dari kasur. Selimut lebih ketat menjerat tubuhku. Gerahamku masih senat-senut. Sinar cerah pagi menerobos sela-sela gorden membuat garis imajiner cahaya. Aku semakin tidak memercayai kalau sakit gigi lebih mendingan daripada sakit hati. Setahun lalu, ketika Aditya menyampaikan kalau hubunganku dengannya berakhir, aku tak menderita kesakitan seperti ini. Aku masih bisa makan, bahkan kuantitasnya tidak terkontrol. Aku bisa melahap dua dada ayam, sebaskom sayap ayam pedas yang kupesan, atau seloyang cheese cake.

Kesakitan makin mendera, saat semalam Ibu menelepon tak seperti biasa. Aku baru menghaluskan buah merah dan avokad, televisi sedang menayangkan sinetron norak yang tidak menarik, kecuali wajah pemain yang segar dan muda. Suara dering telepon genggam dikalahkan oleh suara putaran blender dan dialog kaku di televisi. Ibu menelepon berulang kali. Baru setelah jus buah kutuang dalam gelas, nada dering panggilan terdengar. Aku meraih telepon genggam.

“Tumben Ibu telepon? Uang bulanan sudah kutransfer ke rekening Bapak,” kalimatku keluar begitu saja. Agar kasar memang. Efek samping sakit gigi adalah mudah sekali marah.

Eladalah! Ibu telepon, kok, malah begitu. Ibu pingin tahu kabarmu. Kamu sehat kan, Karani?” Ibu bertanya dengan nada datar seperti biasa. Sudah kubayangkan wajahnya yang sepuh dengan tahi lalat besar di dekat hidung. Beberapa helai uban menutupi keningnya.

“Maaf Bu. Karani lagi sakit gigi. Makanya agak uring-uringan,” kurendahkan nada kalimat, sedikit merajuk.

Di ujung telepon sana, ibuku justru tertawa keras. Apa yang lucu dari sakit gigi?

“Kamu ini mirip bapakmu, kalau sakit giginya kambuh mudah marah.”

Mendengar itu, aku juga turut terbahak keras.

“Kok, Ibu bisa tahu kalau Karani sakit, bu?”

“Perasaan Ibu tidak enak. Tadi telur ibu di kulkas tiba-tiba busuk. Terus ibu kepikiran kamu. Jangan-jangan kamu ada masalah atau sakit. Jebul temenan.”

Ternyata ibu meneleponku untuk memastikan firasatnya. Firasat seorang ibu memang sekuat tarikan besi berani. Ketika sebutir telur membusuk dan berbau basin dari jejeran telur dalam kulkas, membuatnya dikepung firasat buruk. Pikirannya melayang kepada kesehatan anggota keluarganya. Telur yang mendadak busuk itu tanda kalau Karani, gadis sulungnya sedang kurang enak badan.

Lewat telepon, kujelaskan keadaanku. Aku juga harus makan-makanan lembut dan minum asam mefenamat. Dan tiga hari lagi dokter akan mencabutnya.

“Kamu operasi? Kapan? Enggak masalah kan?” Nada bicara ibu penuh khawatir. Setelah kujelaskan bahwa operasi cabut gigi hanya bedah minor kecil kurang dari satu jam, nada bicara ibu mulai tenang. Senang rasanya mendapatkan ibu dengan penuh kekahwatiran seperti itu. Andai di rumah, aku pasti bisa bersimpuh di pahanya dan minta dielus-elus.

Selama setengah jam, ibu berbicara basa-basi. Aku merasakan ada sesuatu yang hendak disampaikan kepadaku. Mungkin perihal penting.

“Oiya, Ibu boleh tanya sesuatu?”

Benar. Dari nada Ibu yang sedikit ragu dan minta izin dahulu, ini pasti hal besar.

“Karani, kamu sudah dapat pengganti Aditya?”

Mengapa ibu tidak bisa melupakan nama orang yang sudah lama ingin kuhapus dari ingatan itu. Kenangan takkan bisa membahagiakan orang.

“Ibu ini tanya apa sih? Karani lagi sakit gigi.”

“Bukan begitu Karani, adikmu mau menikah.”

Tiba-tiba aku kehilangan rasa. Dengung pendingin ruangan lebih kencang dari biasa. Wajah Karin, adikku yang baru selesai sumpah sebagai apoteker itu, terbayang di hadapan. Memang sudah waktunya dia menikah. Karin dan Lian sudah menjadi sepasang kekasih sejak tahun pertama kuliah.

“Kamu harus menikah dulu, Karani. Jangan ada plangkahan di kelaurga kita.” Kalimat ibu membuat molarku berdenyut semakin nyut-nyut sakit.

“Karani? Ibu tahu ini tidak baik untukmu. Ibu juga bingung. Ibu ingin kamu dahulu yang menikah, baru adikmu. Ora elok! Apa ya kamu tidak ada rencana menikah? Kamu kurang apalagi? Sudah waktunya menikah.”

Perkataan ibu terus keluar seperti rentetan bosku yang kurang ajar menagih deadline pekerjaan.

“Ibu ini apa-apan, sih!” Ibu tentu tahu aku sangat tidak suka kalau diperintah-perintah untuk segera menikah. Kalau Karin mau duluan, ya tidak masalah!” nada kalimatku memang lebih tinggi.

“Karani, kamu jangan marah begitu. Ya, sudah, biar adikmu ngomong sama kamu sendiri.”

Aku masih mendiamkan semua perkataan ibu. Lalu ibu berjanji akan menengok ke Jakarta besok atau lusa untuk menemaniku operasi gigi. Bukan. Sudah bisa kupastikan bahwa tujuan Ibu ke Jakarta hanya ingin mendesakku untuk segera mencari jodoh. Lalu Ibu akan mengungkit-ungkit usiaku yang sudah lewat kepala tiga.

Usai menutup telepon, tidak hanya molarku yang terasa sakit. Ada dentuman di kepala, lalu menjalar hingga ke dada. Sakit. Perkataan Ibu lewat telepon tadi tidak meredakan sakit di gerahamku, tetapi juga mencungkil-cungkil aneka perasaan lain. Apa firasat bahwa telur di kulkas yang busuk adalah tanda gadis sulungnya akan menjadi busuk karena tidak segera menikah dan dilangkahi adiknya? Aku duduk termangu di meja makan menghadapi segelas jus.

Besok ibu naik kereta ke Jakarta. Enggak usah dijemput. Kamu butuh teman pas operasi gigi. Ibuku mengirim pesan. Aku tidak membalas karena terlanjur marah dengan ibu.

***

Aku berangkat ke kantor ogah-ogahan. Mentari pagi dan kicau burung kenari tak lagi menyemangati. Sampai kantor, gedung lantai delapan itu seperti berdiri pongah di tengah rimba beton Jakarta. Sapaan pagi dari resepsionis dan satpam tak kuhiraukan. Pikiranku sudah berkelana ke ibu yang pagi tadi kembali menelepon bahwa sudah berada di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Mejaku rapi di hiasi pot anggrek. Komputer. Kertas-kertas berisi laporan. Aku duduk saja. Kadang aku menyesal mengapa karirku sebagai redaktur majalah cepat melesat. Tak lebih dari tiga tahun, aku naik dari staf redaktur menjadi sekretaris redaktur. Tak jarang aku menyesalinya. Terlebih detik-detik menjelang ulang tahunku. Setiap penambahan umur, pertanyaan kapan menikah akan selalu datang menghunjam tanpa ancang-ancang.

Kuraih buku agenda. Kuteliti hal-hal yang harus selesai hari ini. Beberapa bisa kuselesaikan hanya dalam waktu satu dua jam saja. Mataku memebelalak ketika artikel wawancara seorang penulis novel yang bukunya bakal difilmkan, belum ada di meja. Rae mendapatkan tugas untuk urusan wawancara. Efek samping karena sakit gigi tiba-tiba kumat. Kutelepon meja Rae tidak dibalas. Aku gegas menuju meja Rae.

“Rae, mana?” pertanyaanku masih belum tinggi.

“Dia tidak hadir. Dia pulang ke Batam.”

“Kok bisa? Mengapa? Seenaknya saja bolos.”

“Ibunya meninggal.”

Suasan menjadi lain ketika berita duka terdengar. Berita kematian selalu terdengar mendayu menyentuh rasa kewanitaanku.

“Lalu bagaimana dengan artikel wawancaranya?”

“Rae sudah mengirimkannya. Tinggal saya revisi sebentar.”

Aku menghela napas dan kembali melepaskannya. Lega. Kemudian kuminta mereka mengedarkan kotak sosial yang biasa diputar ketika ada salah satu karyawan tertimpa musibah. Rae juga karyawan dengan kinerja bagus dan bukan antisosial.

“Rae sudah diberi firasat akhir-akhir ini, Bu Karani.”

“Firasat apa?”

“Tiga hari lalu Rae bermimpi gigi serinya tanggal. Ternyata itu tanda ibunya bakal pergi selamanya.”

“Tuhan punya rencana sendiri.”

Percakapan itu terus mendengung di relung telinga hingga aku kembali ke ruangan. Saat pintu ruangan tertutup, fragmen bersama ibu diputar seperti film lawas. Semua gejala alam adalah bahasa alam atas perintah Tuhan. Telur ibu di kulkas tiba-tiba busuk dan berbau anyir. Bagi sebagian orang itu adalah kejadian alamiah, tetapi ibu memaknainya bahwa itu tanda kalau gadis sulungnya sedang sakit. Sakit gigi dan lara hati. Lebih jauh dari itu, aku seperti telur busuk karena didahului Karin menikah atau mungkin aku akan memilih untuk tidak menikah selamanya. Lalu apakah ada makna lain tersirat dari gerahamku yang tiba-tiba sakit luar biasa ini? Adakah ini tanda alam untuk sebuah kabar buruk atas perjalanan ibu dengan kereta ke Jakarta pagi ini?

Aku lemas terduduk. Mataku perih menatap jarum jam meja yang bergoyang ke kanan-kiri secara teratur, seperti cerewetnya ibu saat mengingatkanku untuk segera mencari pasangan. Meski lebih sering aku jengkel atas nasihat ibu yang lebih tepat disebut perintah ketimbang masukan.

Gegas kuraih telepoon, kutekan nomor ibu. Berulang kali tanpa jawaban. Jendela kaca meloloskan sinar matahari pagi, lalu melelehkan kuncup-kuncup air mata.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s