Resensi

Kisah Rudy Hingga Menjadi Habibie

(Koran Jakarta, 20 November 2015)

resensi RUDY Koran Jakarta-20.11.2015

“Kamu harus jadi mata air. Kalau kamu baik, semua yang di sekelilingmu juga akan baik. Kalau kamu kotor, semua yang di sekitarmu akan mati,”(h.49) demikian nasihat Alwi Habibie kepada Rudy kecil. Nasihat ini secara langsung maupun tidak langsung, menjadi pondasi Rudy yang kelak lebih masyhur disebut Habibie untuk terus menjadi mata air yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Rudy kecil tumbuh di tengah keluarga yang sudah melek pendidikan. Alwi Habibie, papi Rudy adalah keturunan keluarga Habibie. Keluarga terpandang di Gorontalo. Karena posisi inilah, Alwi Habibie berhasil sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School), kemudian melanjutkan ke sekolah menengah pertama MULO-AMS di Tondano. Dan   Middlebare Landbouw School (MLS) sekolah pertanian menengah atas di Bogor.

Sedangkan maminya, Raden Ayu Toeti Saptomarini, adalah perempuan Jawa dari keluarga Dr.Tjitrowardojo. Kondisi demikian membuat Rudy kecil sangat akrab dengan dunia akademis dan tradisi ilmu pengetahuan. Keluarga Rudy selalu mengutamakan pendidikan. Dengan pendidikan bukan perkara hidup dan masa depan saja yang lebih cerah. Namun kesempatan menjadi ‘mata air’ besar dan bermanfaat pun terbuka lebar.

Rudy kecil adalah bocah dengan kebiasaan aneh. Rudy kecil adalah anak yang selalu ditumbuhi aneka pertanyaan dan akan terus memburu hingga ditemukan jawaban memuaskan. Rudy akan mencarinya sendiri. Bila tidak mampu, papi adalah muara segala pertanyaan Rudy. Sayang, Alwi Habibie terlampau sibuk dengan pekerjaan, hingga waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sempit dan lebih sering dimandatkan kepada ratusan buku. Setiap satu pertanyaan menemukan jawabannya, maka satu jawaban itu akan selalu menghasilkan pertanyaan baru. Rasa ingin tahunya membuat Rudy terus bergerak maju. (h.15)

Sejak itu Rudy lebih sering berkawan dengan buku-buku di kamar dan tidak menyukai permainan luar. Dunia Rudy kecil adalah sepetak kamar dengan ratusan buku yang membuka gerbang ilmu pengetahuan. Buku menjadi cinta pertama Rudy dan membaca adalah hidupnya. (h.19)

Rudy membaca beragam buku, mulai dari ilmu pengetahuan, ensiklopedia, buku-buku Leonardo Da Vinci, cerita fiksi ilmiah Jules Verne, puisi Goehte, buku filsafat Dostoevsky. Hal ini membuat Rudy kecil gagap bicara, tidak lancar berbahasa Indonesia, serta kesulitan bergaul dengan temannya.

Persinggungan pertama Rudy kecil dengan pesawat adalah saat meletus pertempuran adalah menjelang akhir 1941, seiring memuncaknya Perang Dunia II. Parepare sebagai salah satu kota penting Belanda di Sulawesi Selatan menjadi sasaran tembakan bom oleh Tentara Jepang. Rudy tidak jarang mendengar dentuman, ledakan bom yang muntah dari pesawat. Dalam benak Rudy, kapal terbang adalah benda yang kejam karena membawa bom sehingga bisa mencelakakan dan memisahkan dirinya dengan buku serta mainan di kamarnya (h.44).

Titik penting adalah saat Alwi Habibie wafat. Perekonomian keluarga terguncang, ditambah kondisi agresi militer yang menutup sekolah-sekolah Belanda tempat Rudy bersekolah. Mami beranggapan bahwa pendidikan terbaik masa itu adalah yang diselenggarakan oleh Belanda dan katolik. Maka satu-satunya usaha agar Rudy tetap bersekolah adalah memindahkannya ke Jawa.

Rudy berangkat ke Jakarta dengan kapal laut. Namun karena tidak betah, Rudy terpaksa pindah ke Bandung. Di Bandung, Rudy bersahabat baik dengan keluarga Bestari, ayah Ainun. Yang kemudian membawa Rudy mencecap pendidikan Teknik Elektro di ITB sebelum pindah kuliah ke Jerman.

Membaca Rudy adalah membaca sejarah Indonesia. Bukan hanya karena Rudy tumbuh bersama perkembangan momen-momen penting Indonesia, namun Rudy sendiri terlibat dalam percaturan sejarah Indonesia.

Pendidikan tinggi, otak super cerdas, jejaring Rudy dengan orang-orang penting masa itu membuatnya terus bergasing di lingkarang nasionalis. Orang-orang yang tidak hanya memikirkan kenyamanan diri belaka. Bahkan saat Rudy menuntut ilmu kedirgantaraan di Jerman, nasionalisme Rudy terus terpatri. Butuh tiga hari naik kapal dari Makasar ke Jakarta. Bila memakai kapal terbang, sudah sampai Jerman, rutuk Rudy.

Kenyataan bahwa Indonesia negara kepulauan juga menambah keyakinannya untuk menekuni dunia dirgantara dan pulang membuat pesawat untuk Indonesia. Kita adalah generasi pembangunan, takukah kita akan tanggung jawabnya? Kita harus punya visi besar untuk pembangunan.(h.160-161)

Bersama teman-teman mahasiswa di Jerman, Rudy menyelenggarakan Seminar Pembangunan. Melalui even besar itu Rudy semakin yakin untuk pulang dan membuat kapal terbang. Bibit teknokrat sudah tampak saat pendidikan di Jerman. Rudy sangat bebas dari kisruh politik di Indonesia. Rudy hanya fokus pada pendidikan dan bagaimana cepat pulang untuk merealisasikan cita-citanya.

Tahun 1962, saat Rudy pulang pertama kali ke Indonesia, dan betapa sedihnya ternyata kondisi Jakarta kacau-kacaunya akibat kondisi sosial politik menjelang peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Mata Rudy terenyuh karena negara ini bukan sedang membutuhkan pesawat, namun pengentasan dari melarat.

Di titik inilah, sosok Ainun muncul. Ainun menjadi kawan diskusi menyenangkan dan mampu mengimbangi cita-cita pembangunan. Kesadaran kembali tumbuh saat Rudy tahun dengan pesawat distribusi kesejahteraan dapat lebih merata. Hingga cinta Rudy labuhkan ke Ainun dan mereka kembali ke Jerman untuk menyelesaikan pendidikan S3 Rudy.

Sejarah Rudy adalah sejarah penting negeri ini. Rudy tidak hanya meneladankan bagaimana kerja keras menggapai cita-cita. Namun menekankan bahwa tugas seorang terdidik adalah mengabdi untuk masyarakat bangsa dan negara. Meski sering kali berujung buntu, Rudy meyakinkan niatan baik pasti ada jalan keluar. Keluarga dan kawan dekat menjadi penyokong utama. Hingga kelak Rudy akan lebih sering dipanggil Habibie, yang terkasih.(*)

resensi-rudy

Juga dimuat di Radar Surabaya, 15 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s