Cerpen

Pohon Menangis

(Suara Merdeka, 15 November 2015)

ilustrasi pohon menangis

Dahulu berharap agar Kentos berubah menjadi baik, sesusah mendamba hujan di tengah kemarau terik. Pancaran hidayah selalu saja melengos dari wajah Kentos. Kentos terkenal ugal-ugalan. Mulai dari gila alkohol, membangkang nasihat orang tua, bahkan tersiar kabar Kentos sering memalak pengendara motor di tengah hutan jati. Kentos bromocorah asli Kedungalas yang ditakuti sekaligus fardu ‘ain dijauhi.

Saban ada musibah melanda Kedungalas, nama Kentos tak boleh dilewatkan untuk didakwa sebagai penyebab utama. “Mesti gara-gara ada Kentos, bajingan paling ulung di Kedungalas,” demikian kata-kata mereka. Terutama Pak Kadin dan anak buahnya terus saja menjuluki Kentos sebab segala azab. Namun istilah orang sudah kadung basah, telinga Kentos seolah buntu dan ucapan Pak Kadin tak mampu menjebolnya. Banyak doa keburukan atas dirinya, agar Kentos dicinduk polisi, terlindas truk, atau segera dijemput maut.

“Tapi aku tidak mungkin berbuat nakal pada orang Kedungalas,” Kentos meyakinkan. “Toh hanya mulut Pak Kadin yang nyinyir.”

Sesiapa saja yang sudah dikehendaki jahat, maka takkan mempan usaha-usaha ceramah. Sebaliknya, bila sudah ditakdirkan bertaubat, ada saja jalan tak terduga menuju ke sana.

Orang-orang Kedungalas dikagetkan oleh perubahan sikap Kentos mendadak. Tanpa sangkan paran, sekarang Kentos tampak lebih rapi dan sopan. Dan yang semakin membuat banyak mata terbelalak adalah Kentos mau membawa parang sepanjang lengan orang dewasa, bersama orang-orang bayaran Perhutani, menjadi blandong.

“Aku mendengar lagu yang indah saat di tengah hutan. Seperti suara ibu yang meninabobokan bayi,” begitu kalimat Kentos. Matanya dikatupkan rapat. Meresapi angin yang membawa kedamaikan menyusupi pori-pori Kentos.

 “Apa kamu kerasukan setan alas, Kentos?” tanya seorang kawan.

Kentos menggeleng. “Hidup damai itu indah, Kang. Aku yakin, kalau kalian pernah menjadi bajingan, akan tahu bagaimana rasanya kedamaian saat di tengah hutan begini. Seperti alam dan hutan ini, nyanyian-nyanyian dari penghuni hutan adalah kesederhanaan sejati.” Saat Kentos taubat, kalimat-kalimatnya bermelodi.

“Tapi masih banyak yang tidak memercayaimu, Kentos! Apalagi Pak Kadin.”

“Aku tidak peduli omongan mereka. Sama seperti dulu yang tak acuh.”

Orang-orang saling bertatapan. Sebentar lagi, masa rehat rolasan akan purna. Kentos dan blandong-blandong lain harus menyelesaikan tebangan beberapa pohon jati di hutan Perhutani.

Masih dengan mata tertutup, Kentos merebahkan badan. Bekal makan siang dalam pincuk daun pisang berisi nasi putih dan orak-orak telur dan sayur pare, tersisa separuh. Badannya melengkung di gundukan tanah. Kedua tangannya di simpan di belakang kepala sebagai bantal. Kentos mendengar suara-suara kedamaian yang selama ini tak dihiraukan.

“Tapi aku dengar, Pak Kadin masih saja membenci Kentos. Bahkan sering mengembuskan gosip-gosip tidak jelas.”

“Ya jelas saja. Kalian dengar kan, anak gadis Pak Kadin yang batal kawain itu? Lima perjaka membatalkan lamaran karena tahu Kentos akan menjadi tetangga mereka. Ternyata dendam Pak Kadin belum juga padam.”

Pikiran mereka dirambati aneka prasangka. Banyak sulur tumbuh saling timpa.

***

“Aku pulang dulu, kawan! Besok aku akan menebang kalian. Puas-puaskan malam ini bersama kebebasan,” tepak Kentos pada sebatang pohon jati.

Kentos dan rombongannya seharusnya sudah tuntas menebang sepuluh pohon jati. Cuaca terik membuat tenaga mereka mudah ngos-ngosan. Sehari mereka hanya bisa menyelesaikan (mulai dari menebang, memotong-motong sesuai kubik pesanan, mengangkut ke truk Perhutani dan merapikan rencek) empat sampai lima batang jati sehari. Tapi itu sudah cukup cepat untuk ukuran Perhutani.

“Besok giliranmu, ibu jati,” kata Kentos, yang kemudian disusul tatapan selidik dari kawan-kawannya.

“Kamu bicara sama pohon itu?”

“Hanya membayangkan perasaan ibu jati ini. Besok dia akan tumbang,” mata Kentos tak mau lepas dari pucuk pohon jati yang berukuran paling besar tersebut. Kepala kawan-kawannya saling geleng.

Sebatang pohon jati hidup tak hanya untuk dirinya sendiri. Banyak nyawa terlindung di balik kegagahannya. Mulai dari burung srigunting hitam yang membuat sarang di dahan, ratusan semut angkrang di banyak ketombol daun jati, semut hitam di balik pelepah jati, ulat, dan banyak serangga di tanah. Bahkan daun, dahan tua, batang bisa membuat perut orang kenyang. Seperti kasih ibu yang mengayomi ratusan anak.

“Benar-benar sifat kasih seperti seorang ibu,” Kentos mengusap pokok jati kemudian menghambur bersama kawan-kawan blandong yang mulai menjauh dari area penebangan. Matahari hampir padam oleh malam. Kebahagiaan dalam dada Kentos tak kunjung muram, selagi esok dia masih bisa membawa parang dan mendengar suara alam di hutan.

***

Namun, hari ini Kentos tak seberuntung kemarin. Kemarin adalah terakhir kali dia menyaksikan hutan tampil utuh sempurna. Kini, hutan tempatnya mereguk kedamaian itu terbakar perlahan-lahan. Penebangan dihentikan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Api seolah bersekutu dengan angin. Selama angin berembus, api seperti tembok pejal tak tertembus semprotan air. Terik dan kering puncak kemarau semakin mempergosong lahan dan pohon-pohon jati. Entah dari mana muasal api pertama, banyak tangan berusaha memadamkannya tapi belum berbuah nyata.

“Siapa yang begitu tega membakar hutan?” Kentos melongo menyaksikan api bak tangan besi, perlahan menghanguskan. Matanya berkilat. Entah karena perih tertutup kabut atau dadanya sakit tersayat.

Tangan Kentos tak kuasa memadamkan. Kentos sesekali meronta kesal. Kepada siapa? Tak patut, mantan preman seperti dia, protes ke kemuliaan Tuhan.

Sesekali api tampak padam. Tapi sekam yang tersimpan masih tetap saja membara. Hari ini api padam, esok kembali muncul kobaran. Angin kering, terik di sekitar pohon, rontokan dedaunan ranggas dan semak mudah tersulut panas sekam. Kentos semakin menjauh, meski hatinya masih bertaut dengan sebatang pohon yang disebutnya sebagai ibu jati.

***

“Apa kalian lupa, di Kedungalas ada bromocorah?!” tutur Pak Kadin menampar Kentos.

Suasana rapat desa mendadak memanas. Seperti bara sekam menyambar siraman minyak. Kentos menunduk. Segelas teh di hadapannya mencetak wajahnya kuyu.

“Ini jelas teguran sekaligus hukuman! Karena kita masih menyimpan pendosa. Dosa Kentos belum termaafkan,” Pak Kadin terus menguasai pembicaraan. “Sekarang hutan terbakar, besok-besok api bisa saja menyambar permukiman!”

“Tapi, Kentos kulihat begitu sayang pada pohon-pohon jati,” kawan blandong Kentos membela.

“Apa kalian lupa, maling mana mungkin berkata jujur. Banyak tipu muslihat!” Pak Kadin seorang diri menghujati Kentos. Bisik-bisik beranak di barisan belakang. Kentos hanya mencoba tak tersulut emosi. Tangannya mengepal. Mimiknya memerah. Namun terus disembunyikan.

“Aku hanya memberi saran, kebakaran hutan tidak akan padam sebelum Kentos meminta maaf ke semua korbannya!” Pak Kadin njenggerat berdiri dari posisi sila. Dengan pongah, Pak Kadin membelah saf-saf warga Kedungalas yang melingkar di balai desa.

Semua mata menatap Kentos, menunggunya bereaksi.

“Malam ini aku hanya bisa menangis,” kalimat Kentos terputus. Hatinya begitu lembut dan getas bila tersentuh.

***

Api seperti kodratnya tak mudah dijinakkan bila sudah membesar. Konstan meluluh-lantakkan. Disebabkan gerak api-api itu begitu cepat, pohon jati yang terbakar pun cepat bertambah. Lebarnya semakin sulit diukur, hanya mampu dikira-kira. Kemarin hanya sekian, esoknya sudah sekian hektar bertambah. Bala bantuan turun hanya mendinginkan api, bukan memadamkan sekam.

Kentos bediri mematung menatap ibu jati yang kemarin disayang-sayang.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa memadamkan api yang membakar tubuhmu. Apabila kamu terbakar lantaran azab atas dosaku masa lalu, maafkan sekali lagi. Apa air mataku cukup kuat memadamkan apimu?” Kentos lantas tergugu.

Api semakin lama berkobar di mana-mana dan semakin luas menganguskan. Asap tebal berwarna kusam mencekau awan. Dada Pak Kadin semakin tersulut bara dendam. Matanya tertutup kabut amarah kepada Kentos. Logikanya tersungkup jerebu, hingga serta merta mendakwa Kentos. Sebaliknya Kentos terus saja menangisi pohon jati yang terus terbakar dan kekerdilan dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa. Alih-alih memadamkan.

“Hujan bak tangisan sebatang jati yang tak kunjung menghujani bumi.”(*)

catatan                    :

sangkan paran       : penyebab

blandong                 : orang yang pekerjaannya menebang kayu

rolasan                     : istirahat makan siang, jam 12-13 siang.

ketombol                 : sarang semut angkrang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s