Resensi

Budaya Tana Toraja di Persimpangan

(Seputar Indonesia, 15 November 2015)

Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu. Dan relevansi dengan zaman sangat penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan itu. Acuan untuk tetap melakukan atau tidak, dan saya pikir zaman sudah tidak relevan dengan yang kalian pertahankan. (hal.20)

Budaya dalam sebuah entitas kesukuan menjadi sebuah identitas pembeda dengan yang lain. Keberadaanya menjadi sangat penting untuk kelanggengan sebuah suku. Dalam novel Puya ke Puya, penulis sedang menyorot bagaimana artefak kebudayaan Tana Toraja mulai dikikis oleh eksplorasi ekonomi yakni pertambangan nikel dan permasalan sosial lainnya.

Apakah upacara kebudayaan adalah hal variabel tetap yang tidak bisa sedikit pun diubah? Apakah manusia harus melulu takluk oleh ribetnya sebuah perayaan kebudayaan? Sehingga akal dan logika manusia dinomorsekiankan? Rambu Solo, upacara penguburan bagi keluarga adat Tana Toraja harus dihadapkan dengan mahalnya biaya, harus menyembelih berekor-ekor kerbau belang dan babi yang tidak murah. Rambu Solo yang sempurna akan membawa jasad ke peraduan terindah di negeri puya (surga) dan mendapatkan predikat To Membali Puang (dewa tertinggi dalam adat Toraja).

Kepercayaan demikian sudah menjadi identitas penting, terlebih keluarga Rante Ralla adalah keluarga bangsawan tana bulaan, yang bila tidak di-rambu solo-kan membuat semua kerabat menanggung malu. Takut bila dianggap pelit, tidak tahu terima kasih kepada leluhur, dan malas bekerja mencari uang. (hal.33) Hingga urusan penguburan menjadi urusan keluarga besar.

Di sisi lain, muncul industri nikel yang diam-diam berubah menjadi monster kapitalis. Tongkonan (rumah adat Tana Toraja) milik Rante Ralla berdiri di tengah jalan kendaraan pengangkut hasil tambang. Dengan segenap upaya baik halus maupun licik, pihak tambang mengusahakan agar tongkonan tersebut digusur. Alih fungsi lahan menjadi isu yang sangat sensitif bila berhubungan dengan kapital dan entitas sebuah budaya.

Identitas budaya yang merupakan hasil kerja primordialisme dengan klausa bahwa itu adalah pemberian atau turun temurun dari nenek moyang, mendadak harus dibenturkan dengan motif ekonomi dari pihak luar. Faisal Oddang terang-terangan menganggap pihak modal yang hendak meruntuhkan kearifan lokal Tana Toraja dengan menggusur tongkonan adalah pihak asing, yaitu Mr.Beth dan Suroso Abdullah, lelaki Jawa.

Faisal Oddang memang sastrawan muda jenius. Selain perkara rambu solo dan tongkonan, dideret pula aneka persoalan kebudayaan diambang ganasnya dunia modal. Tradisi mengubur bayi di pohon tarra selama tujuh belas tahun, sebelum arwah bayi menuju puya kembali digerogoti oleh kebutuhan materiil. Tokoh Allu, yang terjebak dalam kebutuhan finansial harus mencuri kerangka-kerangka bayi dalam pohon tarra dan menjualnya ke kolektor, untuk memenuhi kebutuhan rambu solo.

Surga Semu

Dalam tradisi masyarakat animisme dan dimamisme, ritual peribadatan lebih diejawantahkan melalui aktivitas fisik. Aneka ritual yang berhubungan dengan kebendaan. Puya, dalam buku ini hanya bisa direngkuh apabila seorang melakukan rambu solo dengan biaya super mahal.

Padahal sudah dikritisi sedemikian keras, bahwa kukira surga diciptakan hanya agar orang-orang mau beragama dan punya Tuhan (hal.15). Namun aspek material lebih dominan dalam kehidupan dinamisme dan animisme. Asal prasyarat rambu solo sudah dipenuhi, maka apapun kondisi kebatinan dan perangai seseorang dinafikan. Rante Ralla meski seorang kepala adat, sangat gemar main judi, minum arak tradisional, dan tingkah polah yang tidak mencerminkan kebajikan.

Surga yang begitu agung menjadi begitu kecil dan remeh. Semua boleh dilakukan selama hidup, asal rambu solo maka derajat akan menjadi tinggi. Hakikat demikian menjadi pemakluman apabila masyarakat laiknya keluarga Rante Ralla rela habis-habisan harta demi cita-cita surga semu itu.

Mahasiswa Agent of Change

Konon tugas mahasiswa bukan hanya belajar, tetapi juga siap-siap sebagai agen perubahan di tengah persoalan masyarakat. Sebagai mahasiswa, Faisal Oddang tampak begitu memahami peran ini. Melalui tokoh Allu Ralla, mahasiswa semester akhir yang hampir menjadi sarjana, kembali ke kampung halaman untuk mengurai kekusutan soal rambu solo ayahnya.

Kecerdasan dan pikiran yang logis seorang mahasiswa mencoba mengkiritisi ritual budaya yang hanya akan menghabiskan banyak biaya dan menyisakan nganga hutan dalam. Allu tampil di garda depan. Menentang rapat-rapat keluarga dengan ingin menguburkan Rante di Makasar.

“Saya dan Indo sepakat akan menguburkan ambe saya, di Makassar. Kami yang akan menanggung semuanya.” (hal.18)

Allu juga tampil di barisan terdepan menentang kehadiran asing di kampungnya untuk ekspansi pertambangan nikel. Barangkali ia tidak membayangkan ketika alat berat kelak merobohkan tongkonan, meratakan tanah kami lalu membuat jalan untuk akses kendaraan-kendaraan penambang. Saya ingin merontokkan giginya yang sudah tidak sempurna dan rumpang tengah itu. (hal.37)

Namun, di akhir tersingkaplah semua watak Allu sebenarnya. Hanya lantaran urusan asmara, keteguhan dan prinsipnya yang kokoh mendadak loyo kemudian gelap mata.

Puya ke Puya, yang menjadi pemenang keempat sayembara novel DKJ 2014, memberi potongan adegan menegangkan. Bahwa musuh utama lokalitas adalah kehadiran globalitas yang ditandai dengan kapital besar. Melani Budianta pernah menyampaikan bahwa tidak seharusnya keduanya ditempatkan pada ring berlawanan. Lokalitas sejadinya membutuhkan modal untuk eksistensi. Sebaliknya lewat lokalitas kapital akan terus menetas.

Novel ini juga menyuguhkan fenomena mengerikan di balik megahnya sebuah perayaan di Tana Toraja. Hal yang dielu-elukan bisa-bisa menyimpan sebuah luka dalam. Pemaknaan lain akan sebuah perayaan rambu solo, hakikat puya, tradisi penguburan bayi di pohon tarra, disuguhkan dengan kritik halus dan tidak menghakimi. Sebagai sastrawan, Faisal Oddang telah berhasil menghibur dengan suguhan lokalitas dan kemasan yang orisinil. Serta membuat pembaca merenung sebenarnya surga diciptakan untuk apa? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s