Resensi

KDRT dan Luka yang Bertahan Lama

(Jawa Pos, 1 November 2015)

Tanah Lada - Copy - Copy

Berita dan cerita dua kata yang memiliki irisan cukup tebal. Keduanya saling memengaruhi. Banyak cerita yang terinspirasi dari sepenggal berita. Sebaliknya banyak cerita bualan yang memenuhi kolom berita kita. Novel Di Tanah Lada tampak sebagai bagian dari cerita terang-terangan yang mengadopsi fenomena mengerikan negeri ini.

Ziggy dalam novel ini sedang memotret fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sekaligus membeberkan dampak psikologis longterm terhadap anak korban KDRT yang merangkap perekam bila kedua orang tua sedang beradu jotos dan amarah. Luka psikologis yang diderita dua tokoh Salva dan P, menapak begitu dalam di sanubari belia mereka. Derita psikologi sampai membuat mereka memandang hidup tanpa keyakinan utuh. Hingga dalam benak Salva, si tokoh utama, tumbuh pesimistis untuk sulit menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Namun lebih sulit menemukannya di dunia nyata. (hal. 210)

Salva, gadis berusia enam tahun, memiliki Papa yang gemar menyiksa dan bermain judi. Tinggal seatap namun disia-siakan seperti sampah. Tidak boleh tidur sekamar, dicaci, bahkan dikunci di kamar mandi. Mama, sebagai mana kebanyakan wanita selalu berusaha mengalah demi keutuhan rumah tangga. Dalam benak Salva, tampang Papa memang seram. Mirip monster-monster atau raksasa, besar, gendut dan berwajah marah. (hal.2)

Di mata Salva, perangai buruk ini selain membuatnya takut akan emosi Papa meledak juga menurunkan kepercayaan seorang anak terhadap ayah, aku selalu kurang percaya terhadap kebenaran dan kejujuran Papa (hal.12). Sedangkan, Mama pun tidak tampil sebagai orang tua utuh. Selain tak mampu membela diri sendiri di hadapan Papa, Mama juga sering meninggalkan Salva sendirian.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi anak berubah menjadi area berhantu dan menyeramkan bagi Salva. Maka sosok Kakek Kia, yang notabene berada di luar keluarga inti tampil sebagai pemeran pengganti ayah Salva. Mengajari banyak hal, menjelaskan hal-hal baru, dan selalu menjadi rujukan Salva selain kamus Bahasa Indonesia yang selalu ditentengnya.

Di luar rumah, Salva bertemu dengan P, bocah sepuluh tahun yang tidak beribu, ayahnya suka menyiksa, bahkan tidak memiliki nama lengkap. Dua bocah kecil ini kemudian berkawan dan mengarungi keseharian tentu dengan logika anak-anak yang sedang memandang persoalan dunia.

Logika Bocah

Keunikan novel ini adalah menggunakan logika anak-anak dalam bertutur. Salva menjadi tokoh utama sekaligus pencerita utama. Lewat cara ini pula, Ziggy terhindar dari kesan berdakwah dalam novelnya. Ziggy menghindar dari kredo orang dewasa yang jauh lebih paham ketimbang Salva dan P. Dalam logika anak-anak semua disahkan, karena pikiran anak-anak belum betul-betul mampu berpikir seperti orang dewasa.

Diceritakan bahwa Salva sering kali tidak mengerti kata-kata yang diomongkan oleh orang dewasa. Akibatnya Salva sering menengok kamus bahasa Indonesia untuk mendapatkan penjelasan. Tak jarang pembaca akan disuguhkan arti kata sesuai kamus dalam novel.

Bebal [ks.]: sulit mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu; bodoh. (hal.3)

Kepolosan dan keluguan tampak mendominasi tubuh novel. Saat Salva bercakap-cakap dengan P, dengan Kak Alri, Kak Suri, semua tampak natural. Seperti percakapan anak-anak pada dasarnya. Salva sering menyindir persoalan besar dengan kalimat-kalimat polos menggemaskan.

Seperti konyolnya Salva saat memandang pucuk Monas sebagai es krim dan bertanya kepada Mama apa rasa es krim Monas. Tidak mendapatkan jawaban benar, maka Salva bertanya kepada Kakek Kia, dijawab seperti menjilat pagar besi. Jadi, aku diam-diam menjilat pagar besi dan rasanya tidak enak. Sejak itu, aku berhenti berniat memakan monas. (hal.177)

Meskipun tampak polos, ada nganga luka di pikiran Salva dan P. Kekerasan dari ayah masing-masing, membuat keduanya beranggapan bahwa semua ayah di dunia ini kejam. Hanya mama, kakek, dan nenek yang baik. Hingga diam-diam mereka tidak pernah mau menjadi papa. Atau kalau ingin menjadi papa harus kejam dan keji seperti yang dicontohkan oleh kedua orang tuanya.

Sikap skpetis juga tumbuh di dada mereka. Anak-anak yang harusnya bahagia, kemudian merasakan bahwa bahagia adalah sesuatu yang begitu mahal untuk ditebus. Mereka tidak lagi percaya pada segala sesuatunya, tidak lagi percaya bahwa ada oaoa yang baik. Kamu nggak perlu papa yang baik untuk bahagia. (hal.197)

Logika bocah ini juga menjadi keunikan tersendiri. Bila diamati struktur kalimat yang merupakan tuturan Salva, juga unik dan original. Kalau kita menikah, namakamu jadi nama aku juga. Aku mau kamu punya doa bagus, karena doa itu untukku juga. (hal.232)

Bila Papa sedang marah, maka ditulis dengan huruf kapital. Ziggy sebagai penulis bahkan tampak menyerahkan bagaimana akhir cerita ini menurut logika Salva dan P. Ending ini menjadi kejutan yang tidak dibayangkan sedari awal oleh pembaca.

Harapan di Tanah Lada

Kebahagiaan hanya akan diperoleh bila Salva dan P pindah ke rumah Nenek Mia, di Tanah Lada, metafora untuk daerah Lampung yang dipergunakan oleh penulis. Lada, dalam pikiran Salva adalah rempah yang menghangatkan. Seperti kebahagiaan yang nantinya memberi kehangatan di kehidupan Salva dan P, yang sering dipanggil pepper.

KDRT, kekerasan terhadap anak, eksploitasi bahkan pelecehan seksual dengan korban anak-anak menjadi kasus yang kian marak di Indonesia. Langsung atau tidak langsung, novel Di Tanah Lada ini memberi gambaran bagaimana dampak psikologis dari kekerasan pada anak terhadap tumbuh kembangnya. Usia 6 atau 10 tahun saja sudah berpikir aneh-aneh di luar kenormalan masa bermain mereka. Bila luka ini terus disimpan dan dibawa hingga dewasa maka tidak jarang mereka menjadi trauma, skeptis terhadap dunia, atau menjadi psikopat saat dewasa.

Seperti Salva dan P yang menemukan harapan dan bibit kebahagiaan di Tanah Lada, semoga harapan mulai menghangat agar kelak tidak ada lagi anak-anak menjadi korban KDRT dan kekerasan seksual. Mereka tidak hanya punya hak bahagia dan bermain belaka, namun mereka juga punya hak untuk dijaga karena mereka generasi masa depan bangsa.(*)

Advertisements

One thought on “KDRT dan Luka yang Bertahan Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s