Cerpen

Blandong

(Kedaulatan Rakyat, 1 November 2015)

blandong joko santoso

Saat orang-orang Kedungalas menumbalkannya sebagai kambing hitam, Tarman kebakaran jenggot. Bukan hanya jenggot, dada dan tubuhnya turut berkobar. Mereka menuding serombongan blandong pimpinan Tarman penyebab panas terik luar biasa tahun ini.

“Semua ini gara-gara blandong-blandong serakah itu!”

“Mereka harus tahu aturan menebang pohon!”

“Pohon-pohon menjadi korban. Kita bakalan mati kelaparan karena panas memanggang tanah persawahan.”

Semula Tarman mencoba menebalkan telinga dan menganggap tak penting kalimat-kalimat yang jelas-jelas gegabah mendakwa itu. Bagaimana pun ucapan orang tidak tahu-menahu sama tak bernilainya dengan selembar kertas grenjeng bungkus kretek. Semakin ditanggapi maka Tarman yang sejadinya lebih mafhum kondisi perhutanan turun derajat dengan mereka. Menanggapi orang bodoh menjadi sama bodoh. Memarahi orang gila ketularan gila.

Namun kalimat-kalimat itu semakin memerahkan telinga Tarman. Terlebih sebagai mandor harus tampil terdepan membela anak buahnya, mau tidak mau Tarman menjadi muara.

“Biyanto!” gigi Tarman saling beradu.

***

Dua hari lalu, blandong yang baru tiga bulan menjadi bagian dari tim Tarman, pulang dengan lebam di wajah. Matanya bengkak hitam, bibirnya pecah. Parang senjata kebanggaan blandong pulang hanya gagang.

“Dia dikeroyok orang-orang Kedungalas, Pak Tarman!”

Mulut Tarman bergetar menahan buncahan amarah yang menggelegar. Orang-orang Kedungalas memang sudah lama meneriakkan protes. Tetapi semakin didengar, protes itu semakin sumbang. Permintaan mereka semakin tak jelas. Mereka ingin agar pohon-pohon jati tidak ditebang.

Sebagai blandong senior, Tarman tahu menebang pohon jati bukan berarti menggundulinya. Pohon jati tua baru akan ditebang saat usianya menginjak usia lebih dari 10 tahun. Itu pun bila batangnya bengkok berkubik kecil. Tarman memilih batang jati berkubik besar, lurus, dan sedikit bercabang untuk dibiarkan hingga usia matang 20 tahun. Tentu keputusan tebang atau simpan bukan Tarman seorang yang menentukan. Masih ada polisi kehutanan dan pegawai Perhutani di atasnya. Tarman sekadar pemberi usul sebagai orang lapangan dan pengeksekusi penebangan bersama lima blandong bawahannya.

Sayangnya, orang Kedungalas berprasangka, saat menebang blandong seperti Tarman langsung lepas begitu saja. Membiarkan hutan gundul, panas menjadi gila, air tanah menyusut hingga sumur-sumur warga kering dan sawah bengkah oleh telo-telo sedalam betis orang dewasa. Bukan, jelas bukan.

Sebagaimana biasanya, Tarman akan mengarahkan blandong di bawahnya untuk menyiangi lahan bekas pohon-pohon jati usai panen tersebut. Memang tidak akan secepat membuat ladonan sawah padi orang Kedungalas. Masa panen pohon jati dimulai di awal Juli, saat pohon jati memiliki kadar air rendah akibat memasuki musim kemarau. Lahan baru untuk ditanami jati siap di pertengahan November, saat hujan mulai konstan turun. Tentu ini diperhitungkan agar pohon jati gegas hijau menunas.

“Apa mereka lupa kalau mereka juga yang mengerjakan penyiapan tunas jati baru?” rutuk Tarman, sambil memandang kusen jendela yang memotong pemandangan hutan di musim kering.

Daun-daun jati luruh, dahan meranggas, langit biru lazuardi dan koak gagak beranak saat siang benderang. Tarman mengelus dagunya yang gundul dari jenggot.

“Orang kampung memang mudah amnesia,” Tarman tak menggubris blandong lain yang riuh di teras dan takut melanjutkan pekerjaan memotong-motong batang jati sekaligus menggotong ke truk Perhutani.

“Hutan adalah pasar mereka. Daunnya halal untuk mereka ambil sebagai kebutuhan selametan atau dijual ke pasar. Bahkan sudah kubuka legalitas untuk mereka mengambil ranting-ranting kecil yang berjatuhan. Kusaksikan sendiri tak jarang mereka membongkok besar-besar dan dijual ke pasar. Ikhlas! Karena hutan bukan hanya menghidupi negara tapi juga masyarakat sekitar. Tapi,mengapa tahun ini masa panen dipersulit oleh mereka sendiri?” tanya Tarman kepada dinding-dinding papan yang mulai hangat dipanggang terik kemarau.

Ckckckck!” bibir Tarman berdecak keheranan.

Mungkin sudah saatnya Tarman mencari titik temu di tengah karut marut siapa yang harus disalahkan. Semenjak itu, orang-orang Kedungalas semakin serampangan menyalahkan blandong. Dengan tanpa alasan jelas, orang-orang desa selalu mengatakan blandong adalah orang yang menyebabkan kemarau menggila tahun ini, membuat kampung yang asri menjadi jahanam karena panas.

Kemarau tahun ini memang melebihi batas kebiasaan. Seolah matahari begitu betah bersolek di langit dan gemawan berisi bakal hujan kalah tanding dengan kenarsisan matahari. Tarman tahu, orang-orang Kampung Kedungalas yang mayoritas petani hidupnya sedang diancang-ancang kebingungan. Belum pasti sawah akan menjadi ladonan padi, tanaman jagung sudah lama layu dan mati.

“Tapi bukan berarti para blandong dijadikan tersangka seperti ini?” gumam Tarman entah kepada siapa.

Dalam benak orang-orang Kedungalas, gara-gara banyak pohon jati ditebang tahun ini yang menyebabkan hujan enggan turun di perkampungan. Tapi bukankah kemarau dan hujan teka-teki paling misteri karena hanya Tuhan yang mengetahui?

Seperti perkiraan Tarman, satu suara terlantang sekaligus profokator di Kedungalas adalah mulut Biyanto. Tarman sudah bisa menduga tanpa harus susah payah membuktikannya. Karena satu-satunya mulut runcing adalah mulut Biyanto.

Kebencian itu dimulai saat lima belas batang pohon jati di pinggir tegalan Biyanto masuk wajib tebang. Biyanto kehilangan uang tambahan dari rencek-rencek jati serta daun yang bisa diganti rupiah. Tapi Biyanto juga tak berkuasa. Yang dilakukannya adalah menghasut dan menimpa semua kesalahan ke Tarman dan para blandong.

 “Aku tidak akan mencontoh kebodohan Biyanto, yang serampangan mendakwa tanpa alasan. Karena bukan hanya soal tebang-menebang ada hal lain yang orang Kedungalas tak ketahui.”

***

Tarman baru keluar kamar mandi, ketika di luar suara cacian begitu memekakan pendengaran. Suara itu sudah lama dia kenali. Siapa lagi kalau bukan Biyanto.

“Keluar kau, Tarman!”

Yang dipanggil masih tak mau buru-buru. Tarman sudah berdiri di teras, menghadapi Biyanto bersama belasan orang-orang Kedungalas. Entah apa yang kali ini mereka tuntut dari para blandong, batin Tarman. Di belakangnya anak buah Tarman mengunci mulut.

“Kalian hentikan penebangan jati ini, atau kalian akan menyaksikan kemarahan Kedungalas.”

“Aku hanya menjalankan tugas,” jawab Tarman.

“Kali kami kering. Semua kering. Sumur-sumur kami tak punya air!” suara dari belakang Biyanto meluncur tanpa komando.

“Benar. Kalau sampai kalian tidak menghentikan penebangan kali ini, aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang bakal terjadi!” Biyando mengancam.

“Aku tidak akan menghentikan penebangan. Ini sudah direncanakan dari lama,” Tarman gigih pada posisinya.

“Kamu memang!”

“Ya, aku memang blandong!” Hampir saja mulut Tarman tergelincir untuk menderet semua keculasan Biyanto.

“Kalau Kedungalas marah, bukan hanya luka menganga. Akan ada janda dan anak yatim baru.”

“Kalian mau main kasar?”

Biyanto mengeram.

“Kalian tahu pekerjaan blandong adalah menebang pohon. Kalau blandong marah, semua bisa menjadi merah.”

Mata Tarman meluncurkan bara. Bak sekam yang tersiram minyak. Mata, rambut, dan sekujur tubuh Tarman mendadak berkobar. Biyanto dan orang-orang Kedungalas tidak pernah menyangka, bila blandong marah tubuh mereka akan memanas bak tersulut api. Payahnya tak jarang api itu merembet hingga mengubah hutan hijau menjadi hutan menyala-nyala. Yang nyalanya susah dipadamkan.(*)

Blora, September 2015

Blandong: tukang tebang pohon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s