Resensi

Semua Ras Berwarna Sama

 

(Seputar Indonesia, 18 Oktober 2015)

Go Set A Watchman-Harper Lee

Dia adalah Atticus Finch, ayah sekaligus orang tua tunggal yang menjadi tokoh utama dalam novel Harper Lee ini. Ayah dari Jem dan Jean ini ditinggal mati oleh istrinya, karena kelainan jantung. Semenjak itu, Atticus mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga beras kulit hitam bernama, Calpurina. Interaksi dengan kulit hitam secara intens membuat keluarga Atticus memiliki pandangan yang tidak sama dengan kebanyakan orang pada masa itu, yang sangat alergi dengan ras negroid tersebut.

Atticus akan membacakan apa pun yang tengah dibacanya kepada Jem dan Jean. Tak mengherankan bila mereka tumbuh besar dengan pengetahuan yang luas. Baik itu sejarah militer, rancangan undang-undang, Injil, maupun buku-buku misteri detektif maupun lainnya, semua habis dilahap kedua anaknya sejak masih belia. Ke mana pun Atticus pergi, Jem dan Jean kerap mengikuti. Dia membawa mereka ke kantor legislatif di Montgomery saat musim panas. Dia membawa mereka menonton pertandingan sepak bola, menghadiri pertemuan politik, ke gereja, juga ke kantor jika dia harus lembur hingga larut malam.

Ini semata dilakukannya untuk mendidik kedua buah hatinya sebaik mungkin. Dalam pandangan Jean, ayahnya adalah orang yang cerdas dan bijaksana. Jean, menuturkan bahwa ayahnya, tidak sekali pun pernah mempergunakan istilah nigger untuk pembantunya itu. Atticus pula tidak sekali pun menandaskan bahwa ada jurang pemisah antara ras berwarna dan kulit putih. Maka Jem dan Jean sangat nyaman berinteraksi dengan Calpurnia pengurus rumahnya, Zeebo si pengumpul sampah, Tom si tukang kebun, dan ratusan negro lainnya.

Mereka miskin,penuh penyakit dankotor. Beberapa di antaranya pemalas dan tak mau bekerja, tapi tak pernah sekali pun dalam hidupku aku diajari untuk membenci, takut, bersikap tidak sopan pada mereka, atau berpikir bahwa aku bisa mempermalukan mereka seenaknya,” rutuk Jean.

Jean kecil sudah tidak berkesempatan mendapatkan pendidik langsung dari sang ibu. Maka suatu kali saat darah menstruasinya pertama kali keluar, ayah dan abangnya tak mampu bertindak. Pembantu kulit negro, Calpurnia-lah yang turun tangan membantu dan mendidik Jean soal pubertas seorang perempuan. Jean belajar bagaimana seorang perempuan bertindak dari Calpurina. Termasuk saat teman lelaki di sekolah mencium bibir Jean dan membuatnya takut akan hamil. Calpurnia pula yang memberinya penjelasan. Selamatlah dia dari upaya bunuh diri yang sama sekali tak berdasar.

Sosok Calpurnia tidak hanya dianggap sebagai pembantu semata. Dalam mata keluarga Atticus terutama Jean, Calpurnia adalah pengganti sosok ibu. Seorang perempuan yang tidak hanya menyelesaikan tugas rumah tangga belaka, namun mendidik Jean dunia batin seorang perempuan.

Kedekatan keluarga Atticus dengan Calpurnia semakin tampak saat Jem meninggal karena penyakit genetis jantung bawaan dari ibunya. Calpurnia tersedu-sedu menangis seolah menangisi putra kandungnya.

Dalam keluarga Atticus inilah, Jean belajar bagaimana warna kulit tidak seharusnya membuat perlakuan manusia berbeda. Meskipun kemudian hari, Jean sadar bahwa ayahnya termasuk dalam sebuah lembaga formal yang berusaha menebarkan kebencian dan pemusnahan terhadap kulit hitam. Kokohnya pendidikan dan kepercayaan terhadap Calpurnia membuatnya tetap tak terpengaruh oleh pilihan pekerjaan ayah, yang justru diyakini Jean sebagai pemberontakan Atticus.

Buku ini, sejadinya adalah prekuel dari novel laris Harper Lee, To Kill A Mockingbird. Namun setelah menghilang hampir 60 tahun, di akhir 2014 naskah kembali ditemukan dan disambut gembira oleh pembaca.

Kisah Jean dan Atticus seharusnya menjadi cerminan bahwa seharusnya dunia tak lagi memandang sebelah mata orang-orang berkulit hitam atau berkulit warna lainnya. Seperti tuturan Harper Lee bahwa Kelahiran manusia adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Berantakan, menyakitkan dan kadang berisiko. Dan selalu berdarah, begitu juga dengan peradaban. (hal.208)

Meski latar kisahnya mengambil latar suatu masa di masa lalu, nyatalah hingga kini kita masih bisa menemukan relevansinya di masa kini. Baik secara terbuka atau tertutup, disadari ataupun tidak, penghargaan berbeda terhadap ras kulit putih, hitam, dan berwarna masih terus terjadi. Andai kita mampu mencontoh Jean Louise, yang tidak peduli akan warna kulit dan menganggap semua manusia sama dalam posisinya. Tentu dunia akan damai.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s