Cerpen

Bayi Mentimun

(Lampung Post, 18 Oktober 2015)

ilustrasi bayi mentimun-ferial lampung post

Meskipun mentimun-mentimun tampak menggiurkan –lonjong besar, hijau segar, tak cuil dimakan serangga nakal– karena memang demikianlah mentimun-mentimun produksi desa kami, jangan sekali pun langsung memotek dari pohon apalagi menguyah langsung. Sangat segar bila menikmati mentimun langsung dari pohonnya. Tapi itu sebuah larangan. Buyut-canggah kami selalu mencegah itu. Mereka selalu menyarankan untuk mengelus lebih dulu mentimun agar sungut gatal hancur, dicuci, kemudian diiris bagian pangkal. Kalau kamu bertanya mengapa harus demikian, maka buyut-canggah akan bercerita bahwa ada bayi perempuan yang hidup dalam mentimun. Bila kamu langsung menguyah tentu kamu akan melukai tubuh si bayi.

Kamu lihat, kedokan sawah pinggir Kali Cemengan itu? Memang gersang tanpa tanaman. Kambing atau sapi angonan ogah menjamah rerumputan atau sendetan. Karena di tanah itulah, kisah seram ini muncul pertama kali.

Aki dan Nini Dadapan sudah sedemikian tua. Sepasang orang tua mulai memasuki usia kepala enam dan belum berputra. Masa itu tentu belum ditemukan resep dokter, terapi alternatif, atau bayi tabung. Yang dulu ada hanyalah meminta kepada sesuatu yang lebih agung dan berdigdaya, meski tanpa pernah bisa disinggung secara raga.

Benar. Ini berurusan dengan kekuatan gaib. Aki dan Nini Dadapan bersekutu dengan Iblis Wanita penghuni Kali Cemengan. Bagi Aki dan Nini Dadapan, memiliki seorang anak yang kelak akan mengurus ladang dan menguburkan jenazah mereka jauh lebih dirindukan.

Aki dan Nini Dadapan memberikan segala yang mereka mampu sajikan. Kembang setaman, menyan, dan beberapa lidi dupa. Aki dan Nini Dadapan melepas pakaian tanda kepasrahan saat melakukan penenangan pikiran di tepian Kali Cemengan. Usai bemunajat itulah mereka berkumpul dengan segala kekuatan sisa. Semua bisa direkayasa kecuali rapuhnya tua. Desir angin membawa aroma gaib dari tengah Kali Cemengan. Kecipak katak dan ular yang sedang berburu tikus sawah semakin mendirikan bulu-bulu di tengkuk kepala.

Di malam kedua puluh enam, sebelum Aki dan Nini Dadapan bergumul di rerumputan, mereka sudah lebih dulu jatuh tertidur. Berselimut lembar-lembar sunyi dan berbantal harapan, mereka bermimpi bertemu dengan sosok yang selama ini mereka puji.

“Cukupkan usaha kalian!” perintah Iblis Wanita penunggu Kali Cemengan. Nadanya bergema di liang telinga. Wajahnya hijau sulur mentimun, kulitnya halus dan berkilau. Hanya rambutnya tergerai begitu panjang bahkan menggenangi permukaan Kali Cemengan. Mungkin dari itulah dahulu kali ini dinamai Kali Cemengan, dari cemeng –­hitam rambut si Iblis Wanita penunggunya.

“Maksud, Nyai? Kita tidak mungkin lagi punya anak?” tanya Aki Dadapan. Tangan ditangkup di dada, begitu takzim menyembah.

Belum apa-apa, Nini Dadapan tergugu menangis. “Sembah ampun, Nyai. Kami hanya ingin punya keturunan. Kami ingin mencium ompol bayi dan menimang walau hanya sekali. Satu tak apa.” Napasnya tersengal, dadanya naik-turun. “Kami meminta pertolongan kepada Nyai, karena tidak ada lagi yang bisa kami mintai.”

Iblis Wanita itu menyeringai. “Kalian akan memiliki anak perempuan sembilan bulan tiga belas hari dari sekarang.”

“Benarkah, Nyai?” Nini Dadapan mulai mengangkat muka.

“Tapi ada syaratnya.”

“Apapun itu, Nyai,” sergah Aki Dadapan.

“Kalian hanya akan memilikinya selama tujuh belas tahun. Setelah itu, dia akan kuambil lagi.”

Aki dan Nini Dadapan saling bertatapan. 17 tahun? Begitu singkatkah kebahagian mereka. Mereka bersepakat tanpa harus menggelar mufakat lebih dulu, Aki dan Nini Dadapan mengiyakan syarat tersebut. Apalagi mereka bisa saja sudah dulu dijemput maut, bahkan sebelum anak itu berusia tujuh belas. Iblis Wanita itu melempar beberapa biji mentimun. Bayi perempuan akan lahir dari salah satu mentimun itu. Aki dan Nini Dadapan terbangun. Tangan mereka menggenggam biji mentimun.

Sejak saat itu Aki dan Nini Dadapan begitu telaten menyiangi gulma, mengusir hama, menyemai biji mentimun, menyirami seolah sedang menyuapi makan seorang bayi, dan berharap agar seorang bayi elok akan lahir dari salah satu mentimun paling besar di salah satu kebun mereka.

Bila sedang menunggu, almanak seolah lambat melaju. Sembilan bulan tiga belas hari, bagi Aki dan Nini Dadapan ternyata jauh lebih lama dari usianya mereka. Kegalauan terus menjebak tanpa kira. Selama itu pula Aki dan Nini Dadapan merawat rambatan mentimun, mengairi dengan tekun, mengusir hama agar tak ada daun lubang atau grimpil.

“Aki, apa janji nyai itu akan benar-benar terjadi?” Nini Dadapan menyirami dengan larutan tletong, kotoran sapi kering.

“Kalau kamu saja menyaksikan keberadaannya, tentu janjinya tak bisa dinistakan.”

Tepat di waktu yang dijanjikan oleh Iblis Wanita Kali Cemengan, suara bayi muncul di suatu pagi saat sulur mentimun masih digelayuti embun. Aki dan Nini Dadapan mencari sumber suara bayi yang sudah berwindu-windu dirindukan dan semakin memaha sembilan bulan terakhir.

“Di sana,” Aki Dadapan menunjuk tanggul ujung dekat pokok sengon. Di sana, di tanah yang paling gembur dan dekat dengan lajur Kali Cemengan, banyak timun besar tergantung.

“Aki….!” Nini Dadapan memekik. Tanah basah di sela-sela tanggul tak dipedulikannya. Matanya berbinar lebih cerah. “Ini, Aki….!”

Nini Dadapan membopong sebuah mentimun seukuran lengan Aki Dadapan yang retak di pangkalnya. Kaki bayi mencuat dari sana. Kaki yang begitu putih, kontras dengan kulit mentimun yang hijau. Perlahan, Nini Dadapan meletakkan di pangkuan sambil duduk di pinggir kedokan. Lebut sekali Nini Dadapan membuka sedikit demi sedikit mentimun. Bak cahaya pagi, wajah bayi itu tampak bersinar cerah. Tangisnya berhenti saat menyaksikan wajah Nini Dadapan. Sedangkan Aki Dadapan tak kuasa berbicara, mungkin demikianlah bahagianya seorang ayah.

Saking bungahnya, air mata Nini Dadapan tumpah, membasahi pipi, kemudian jatuh di bibir mungil bayi perempuan itu. Dikecap-kecap. Bayi perempuan kecil bahkan tak bisa membedakan mana air mata, mana air susu.

“Aki, siapa kita akan memanggilnya?” tanya Nini Dadapan.

Aki Dadapan tertunduk sebentar. Berpikir. Wajahnya bersinar dari dalam buah mentimun. “Kita panggil saja, Timun Emas.”

“Bagus dan enak didengar, Aki!”

***

Tapi memiliki seorang anak perempuan adalah mengasah belati. Tak diasah hanya akan berkarat tak berguna. Sebaliknya bila terlalu tajam di asah dan salah dipergunakan, bisa-bisa membabat leher Aki dan Nini Dadapan. Selama Timun Emas tidak bertanya dari mana dia dilahirkan, kisah sedikit seram itu akan disimpan rapat oleh Aki dan Nini Dadapan.

Kecantikan Timun Emas memancar. Giginya kecil-kecil rapi. Tak ada sedikit pun noktah di wajah Timun Emas. Yang lebih menggemaskan adalah nada centilnya. Sudah bisa dipastikan jejaka-jejaka yang kebetulan menyeberang Kali Cemengan menoleh mencuri pandang terhadap Timun Emas yang sibuk dengan beras dan sayuran. Kelam dan hitam Kali Cemengan, mendadak bersinar akan kehadiran Timun Emas.

***

Seperti yang sudah kamu ketahui kelanjutannya, menjelang usia Timun Emas tujuh belas, Aki dan Nini Dadapan merasa sayang bila gadis ayu, segar, dan mulai menebar keranuman ke para jejaka, harus diambil oleh Iblis Wanita penunggu Kali Cemengan. Mereka sudah kadung memiliki Timun Emas.

“Sepekan lagi, Timun Emas genap tujuh belas, Aki!”

“Aku juga mulai memikirkannya,” Aki Dadapan melihat Timun Emas sedang bercakap-cakap dengan Taksu, pemuda berbadan tegap dan mengilat oleh keringat. Dalam benak Aki Dadapan, kebahagiannya, kesenangan Timun Emas akan terenggut bila harus dipersembahkan kepada iblis wanita penunggu Kali Cemengan. Apakah Aki dan Nini Dadapan tidak bisa menyaksikan Timun Emas diperistri Taksu, menikahkan, melihat mereka bahagia dan berketurunan?

“Kalau begini aku menyesal harus hidup panjang dan menderita untuk kedua kali karena perpisahan dengan Timun Emas,” Nini Dadapan memukul dadanya.

“Kita harus mencari jalan agar Timun Emas tidak dirampas dari tangan kita,” Aki Dadapan beringsut mendekat. Membisikkan sesuatu yang begitu licik dan keji. Nini Dadapan tersenyum menyetujui. Bagaimana pun kebahagiaan Timun Emas harus dinomorsatukan.

Rencana keji telah disepakati. Tanpa diketahui oleh Iblis Wanita penghuni Kali Cemengan, Aki dan Nini Dadapan menyembunyikan Timun Emas dalam sebuah mentimun paling besar di kebun. Ditata kembali utuh, agar iblis wanita itu tidak mengetahui dan percaya bahwa Timun Emas dibawa lari oleh  Taksu, kekasihnya. Aki dan Nini Dadapan perlu berurai air mata agar Iblis Wanita itu memercayai kebohongan mereka. Bahkan dengan begitu licik, Aki dan Nini Dadapan justru meminta bantuan Iblis Wanita itu untuk mencari Timun Emas dan membalaskan dendam kepada Taksu. Lelaki yang di depan Iblis Wanita, sering diumpati dan dicaci oleh Aki dan Nini Dadapan.

“Aku akan membunuh siapa saja yang menyembunyikan Timun Emas,” Iblis Wanita itu mendadak berubah menyeramkan. Giginya meruncing dan menghitam. Kuku-kukunya muncul dan berubah menjadi tembaga yang siap menerkam. Suaranya parau seperti tersendak oleh batuan. Aki dan Nini Dadapan terus merunduk ketakutan bila kebohongan mereka diketemukan.

Kamu harus tahu, kisah ini tidak berakhir bahagia. Berserikat dengan iblis adalah berserikat dengan ketidakadilan. Aki dan Nini Dadapan memang berhasil menipu sebentar. Namun saat Aki dan Nini Dadapan berbalik, Iblis Wanita itu sudah berdiri pongah di belakang mereka. Tangan berkuku tembaga mencengkeram pundak ringkih mereka. Kukunya menghunjam, darah merembesi pakaian. Rambut Iblis Wanita  membelit leher. Rintihan minta ampun tak lagi dihiraukan. “Kalian membohongiku?!”

Sejak saat itu, Aki dan Nini Dadapan tak lagi ditemukan. Lenyap bersama rumah di pinggir Kali Cemengan, sekedok kebun mentimun, dan tentu Timun Emas. Namun banyak orang percaya, Timun Emas masih bersembunyi di salah satu mentimun desa kami. Oleh karena itu, bila hendak makan mentimun jangan sekali-kali langsung kamu gigit. Siapa tahu ada Timun Emas sedang bersembunyi di sana.

Kamu bertanya dari mana aku bisa mengetahui semua kisah ini. Bukan. Bukan dari buku dongeng serat lontar. Memang dari buah cerita buyut-canggah, tapi….. Ah, sudahlah seharusnya kamu sudah mampu menduga sejak awal musabab telunjuk dan jempol tangan kiriku ini hilang.(*)

17 Agustus 2015

untuk Guntur Alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s