Cerpen · Jurnal

Sastrawan Bukan Penjual Jamu

 

(Koran Merapi, 13 September 2015)

Saya, secara pribadi mengaturkan terima kasih kepada Kartika Catur Pelita yang sudah dengan emosi meluap-luap menulis esai “Fenomena Pemuatan Ganda, Salah Siapa?” yang dimuat Koran Merapi, 16 Agustus 2015 lalu. Dalam esai cukupp panjang dan berapi-api itu nama saya disebut berulang kali, bahkan dikecam memiliki etika tidak terpuji. “Jejak rekam Teguh Affandi pun menatahkan etika tak terpuji,” tulisnya.

Sebagai orang yang tidak saling mengenal (mungkin setelah berbalas esai, ada kesempatan saling berkenalan), saya cukup terkejut dengan umpatan kasar demikian. Terlebih diucapkan oleh seorang sastrawan dengan rekam jejak terpuji, menulis ratusan cerpen dan beberapa buku, yang seharusnya mampu memberi contoh baik tidak hanya melalui tulisan namun juga sikap, tindakan, bahkan tuturan kalimat.

Apresiasi setinggi-tingginya perlu disampaikan kepada Kartika Catur Pelita, karena memiliki daya ingat dan pembacaan cukup akurat. Dalam esainya Kartika Catur Pelita menderet banyak nama cerpenis yang dikecam karena melakukan pemuatan ganda. Dari sini saja, Kartika Catur Pelita sudah perlu disebut sebagai pembaca yang detail dan pengarsip andal.

Tulisan ini tidak akan membela keteledoran saya, atau keisengan saya memakai banyak nama pena (coba Kartika Catur Pelita sebut berapa banyak nama pena Remy Silado) atau membela kawan-kawan yang kebetulan namanya didaftar-hitamkan oleh Kartika Catur Pelita. Namun mencoba menyiram api kemarahan di kepala Kartika Catur Pelita yang mungkin saja sudah menjadi korban dari pemuatan ganda yang “mencoreng karir kepenulisan, memakan hak pemuatan penulis lain, menciderai kredibilitas media bersangkutan, juga memasung pembaca, ketika harus membaca cerpen itu lagi-itu lagi”.

Plato pernah menyampaikan bahwa sastra –yang memang pada waktu itu Plato lebih menyoroti perihal puisi, adalah potongan wahyu Tuhan. Dia agung diagungkan, suci mensucikan, tidak sekadar bacaan ringan dan tentu berefek menggerakkan. Bila sastra –yang pasti di dalamnya ada cerpen, hanya dimaknai sebagai kerja-kerja industri maka yang ada adalah seperti yang Kartika Catur Pelita sampaikan dalam esai, “honor dan  kepopuleran  tujuan urgent seorang penulis” sebagai tujuan utama seorang menceburkan diri sebagai penulis, entah cerpen, esai, atau yang lainnya.

Menulis sastra bukan hanya kerja industri. Bukan orientasi profit atau ketenaran. Sastra dinilai sebagai tulisan indah yang mengindahkan kehidupan. Profit dan ketenaran hanya efek samping. Bisa dipastikan niatnya bukan hanya demikian. Seorang sastrawan sekelas Kartika Catur Pelita harusnya mencoba membuka layer dan prasangka positif terhadap hal-hal yang dianggap tidak senada dengan keyakinannya. Bukannya pekerjaan sastrawan adalah menyampaikan lapisan-lapisan makna yang lebih dalam?

Akan sangat timpang bila Kartika Catur Pelita menasbihkan diri sebagai sastrawan dan telah menulis sekian ratus cerpen –saya berpransangka baik, berisikan kisah-kisah menggugah, nyatanya tidak senada dengan prasangka-pransangka buruk yang beranak di kepalanya. Setidaknya dari esai tersebut, saya cukup bergidik membaca bagaimana Kartika Catur Pelita menekankan kalimat penuh kemarahan.

Cobalah tengok teladan-teladan sastrawan senior. Dari kebijaksanaan, ketawaduan, kan sikap rendah hatilah, lahir tulisan-tulisan yang tidak sekadar indah dalam bahasa namun adem saat dibaca. Memang saya sendiri belum bisa melampaui produktivitas Kartika Catur Pelita atau pun sastrawan-sastrawan senior, tapi setidaknya bila saya mencontoh maka saya akan memilih Ahmad Tohari. Memang kita tidak akan menemukan cerpen-cerpennya di lembar koran setiap minggu kini, namanya dibiru-birukan di FB Sastra Minggu, namun saya selalu bisa menangkap banyak pelajaran dari tulisan bahkan tulisan yang ditulis saat saya belum dilahirkan.

Bila ditulis dengan gegabah dan penuh emosi yang ada hanya menjadi tulisan sampah. Ambil contoh, esai “Fenomena Pemuatan Ganda, Salah Siapa?” ditulis dengan luapan kemarahan yang muncul adalah banyak salah tanda baca.

Sastra=Kesunyian

Zaman sudah berubah. Dahulu diyakini menulis adalah kerja soliter dan sunyi. Sekarang media sosial membuat segalanya berubah. Setiap ada hal baru, semua orang ingin gegas mengudarakan lewat akun sosial media masing-masing. Sehingga seolah-olah sastra tampak menjadi hal yang patut digosipkan. Kerja-kerja intelektualitas berganti menjadi kerja penggunjing. Mungkin ini yang sempat Budi Darma keluhkan, dalam salah satu wawancara di Kompas, 12 April 2015 (Bisa dilacak di Budi Darma: Menu Sastra Serba Instan) bahwa media sosial menjadi satu pengganjal kurang berbobotnya sastra.

Banyak orang kini bekerja sebagai penulis sekaligus penggunjing. Seharusnya penulis sekaligus kritikus, jadi kritikannya bukan didominasi oleh cercaan, hujatan semata. Namun tampil sebagai kerja intelektualitas, karena memang sastrawan bukanlah penjual jamu, yang jago membual, jago menghardik.

Bila hal demikian yang dikedepankan, maka dunia susastra akan menjadi dunia alternatif menghindari kepenatan realitas. Situasi politik, ekonomi sosial di negeri ini sudah kadung carut marut. Maka mungkin sastrawan lewat tulisan indah, menggugah, dan menarik pembaca untuk merenung mampu menawarkan tempat transit yang adem. Bebas hiruk pikuk. Ataukah memang Kartika Catur Pelita gemar membuat kegaduhan, hingga lupa pada pekerjaan utamanya sebagai penulis?

Maka Kartika Catur Pelita, urusan etika dan tidak beretika, bukan kuasa kita sebagai outsider untuk mendakwa. Apakah salah atau benar, apakah perlu di-blacklist atau tidak, apa perlu dibunuh atau tetap dibiarkan hidup penulis yang sengaja atau tidak melakukan pemuatan ganda, kita serahkan kepada dirinya dan media. Marilah berprasangka baik, mereka tetaplah manusia. Pastilah akan belajar dari kesalahan. Dan tidak tidak ada orang di dunia ini yang murni 100% suci, kecuali nabi. Pun tidak ada yang 100% berdosa, kecuali iblis. Kalau saya boleh mengutip kalimat-kalimat anak zaman sekarang, Keep Calm¸Bro!

Mungkin demikian usaha Kartika Catur Pelita menjaga kualitas sastra terutama cerpen koran agar terhindar dari pemuatan ganda. Tapi, sudahkah Kartika Catur Pelita mencoba merenungkan apakah cerpen-cerpen koran selama ini sudah mampu menginspirasi banyak orang? Menggerakkan? Atau bahkan ditakuti oleh rezim kekejaman? Mari tengok dan kembali ke meja untuk belajar, bukan terus-terusan menghardik dan menggunjingkan orang. Merdeka!(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s