Resensi

Gelora Perjuangan Melalui Alunan Keroncong

Di zaman perjuangan mengusir penjajah, semua orang tergerak untuk terlibat dalam perjuangan. Mengangkat senjata, membantu dapur umum, menjadi gerilyawan, atau bahkan berjuang sesuai kapasitas masing-masing. Setidaknya demikianlah pesan tersirat dalam novel penuh nilai patriotisme Bulan Merah ini. Debut perdana Ginanjar Teguh Iman ini menjadi salah satu novel yang mengungkapkan cara dan bentuk lain dalam membela negara. Tidak semua harus turun menjadi tentara atau polisi untuk menunjukkan daya juang kita membela negara.

Dikisahkan Bumi dan Siti, kakak beradik yang ditinggal mati orang tuanya dan terpaksa dirawat oleh Rawi, pemilik grup keroncong yang terkenal. Rawi yang kebetulan keturunan ningrat dan mengeyam pendidikan HIS memiliki social-sense atas penderitaan masyarakat pribumi yang diperbudak kolonial. Diam-diam jiwa patriotisme tumbuh di dada Rawi. Namun sayang, hidup Rawi tidak panjang.

Selain Rawi, sosok penting dalam perjuangan Bumi dan Siti adalah Giok Han pemilik surat kabar kondang di Batavia, Sin Tit Po. Pelajaran dari Rawi dan Giok Han membuat Bumi semakin mantap bergabung dalam barisan relawan dan pejuang demi tegaknya kemerdekaan dan membantu memperbaiki kehidupan banyak orang. Kami juga membantu mereka bertahan hidup. (hal.75)

Pasca kematian Rawi, grup keroncong tersebut diwariskan kepada Bumi dan Siti. Di tangan Bumi dan Siti, lagu-lagu keroncong itu diubah menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan rahasia dari kelompok gerilyawan ke kelompok lain atau ke pihak surat kabar seperti Giok Han. Kelompok keroncong itu bernama BULAN MERAH, juga bertugas menyebarkan selebaran-selebaran penggelora semangat perjuangan kemerdekaan.

Tak pernah sekali pun mereka membawakan lagu milik orang lain. Begitulah pesan-pesan rahasia itu akan disampaikan. Aku akan menggubah setiap pesan rahasia yang ada dengan menyisipkannya ke dalam lagu. (hal.88)

Novel ini mengingatkan pesan sastrawan Seno Gumira Ajidarma, bahwa sastra, seni, dan kebudayaan bisa menjadi kuda tunggangan untuk menyampaikan pesan penuh daya gerak, social movement. Keroncong BULAN MERAH menjadi medium halus tanpa diendus pemerintahan kolonial untuk menyampaikan pesan-pesan rahasia. Bahkan bila diketahui dan dicari, maka pemerintahan kolonial akan sibuk mengejar BULAN MERAH bukan para pejuang gerilyawan.

Tujuan utama dari BULAN MERAH adalah tersiarnya kemerdekaan. Pasca kemerdekaan dan insiden ditangkapnya kelompok keroncong saat melakukan pentas di Batavia, BULAN MERAH pindah ke Boyolali dan mulai vakum. Seperti seorang veteran pejuang yang kehilangan taji karena bedilnya tanpa milisi.

Novel ini mengambil latar waktu pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan, sekitar tahun 60-an. Tokoh peranakan Giok Han dan Ku Chen yang terlibat dalam BULAN MERAH mau tidak mau menyeret anggota kelompok saat terjadi insiden G30S. Memang Bumi tidak melibatkan diri, namun mata tentara tak berhenti mengawasi.

Jika Ku Chen kiri dianggap kirilah Bulan Merah. Jika Bulan Merah kiri, dianggap kirilah kita. (hal.222)

Selain menggelorakan perjuangan merebut kemerdekaan, kisah-kisah berdarah pasca kemerdekaan, novel ini dibumbui kisah cinta platonik. Kisah Ratna Melati dan Rawi, kemudian disusul kisah cinta diam-diam Siti dan Ku Chen. Dua kisah tersebut menjadikan ketegangan tak selamanya mengeras. Ada sisi-sisi romantis manis. Namun hal tersebut tetap tidak mengurangi nilai-nilai patriotisme dan semangat rela berkorban dari kisah keroncong BULAN MERAH. Usai menikmati ini tumbuh pernyataan, mau jadi apa pun kita, kepentingan negara dan umum sebaiknya selalu diunggulkan.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s