Resensi

Sufisme Dalam Kisah Keseharian

(Jawa Pos, 6 September 2015)

Sufisme dalam keseharian

Bahasa bisa diartikan sekadar simbol untuk mengungkapkan bentuk bendawi semata. Namun, kadang, bahasa bisa hadir dalam bentuk dan fungsi lain. Bambang Sugiharto, guru besar estetika, pernah menyampaikan bahwa bahasa membawa banyak kemungkinan. Bahasa bisa menjadi kuda tunggangan dengan aneka muatan, mata bor yang bisa menembus celah tersembunyi, atau bahkan cermin yang bisa menangkap aneka fenomena.

Bahasa menjadi bagian penting dalam sebuah prosa serta alat utama dalam menyampaikan maksud penulis. Hal demikian yang sepertinya menjadi kesadaran setiap penulis, termasuk Candra Malik. Budayawan seniman serba bisa ini menuangkan aneka buah pemikiran Candra Malik, melalui cerita pendek. Budayawan yang terkenal dengan pembelajaran sufi ini bahkan pernah menjadi jurnalis di Jawa Pos ini hadir dengan buku kumpulan cerpen pertamanya, Mawar Hitam, yang sekaligus menegaskan posisinya sebagai sastrawan.

Sebagai seorang sufi, Candra Malik mempergunakan cerpen sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai tasawuf dengan begitu halus dan tidak terkesan sedang berdiri di mimbar dakwah. Bahasa menjalankan fungsi sebagai kuda yang sedang membawa muatan kebajikan.

Kedua-puluh cerpen dalam buku ini dapat dipisahkan menjadi dua gerbong utama. Gerbong pertama diisi cerpen-cerpen dengan gaya sufi yang begitu kentara dengan tetap tidak menggurui. Gerbong selanjutnya adalah cerpen-cerpen dengan kisah kekinian, seolah terpisah dengan nilai-nilai sufi namun menyimpan kedalaman layer makna.

Cerpen-cerpen dalam gerbong pertama dipenuhi cerpen seperti Wajah, Kaki Tangan Tuhan, Eksekusi Sebelah Mata, Pemuda yang Membakar Neraka, dan Blencong. Dalam gerbong pertama ini, pelajaran-pelajaran sufi disampaikan dengan eksplisit. Akan banyak ditemukan artefak ketuhanan dalam cerpen-cerpen tersebut. Idiom-idiom Ilaiah tersebar dalam tubuh cerpen. Candra Malik tak enggan menyebut nama-nama Malaikat.

Dalam cerpen Wajah, Candra Malik mengisahkan kedekatan makhluk dengan Tuhan-nya. Kedekatan yang disampaikan bukan berarti mendiskreditkan keagungan Tuhan. Melainkan sebuah fase puncak makhluk dalam tataran tasawuf. Manunggaling kawula ing Gusti. Makhluk dan Tuhan tampak bercengkrama. Wajah Tuhan digambarkan begitu dekat dengan selimut misteri. Yang Dilihat dengan Yang Melihat sungguh jadi misteri. (hal.131) Tentu hanya makhluk yang sudah lulus dari syarikat-tarikat-hakikat baru bisa menikmati fase bercengkerama akrab dengan Tuhan seperti dalam cerpen Wajah ini. Wajah-Mu adalah wajah-Ku juga.

Ketajaman mata kritik Candra Malik tak kurang terlihat dalam cerpen Blencong. Candra Malik memperalat tokoh Kiai Blencong, ahli agama tapi berkelakuan nyentrik, untuk mengutarakan kritik atas perilaku ibadah khususnya doa di masyarakat. Bila berdoa kita haruslah mengerti hakikat dari doa tersebut. Manusia kebanyakan serakah menyampaikan doa hingga alpa memperhatikan situasi kondisi pribadi. Dalam cerpen Blencong sindirian tersebut dihaluskan dengan metafora doa terhadap anak kecil.

Wuragil ini memberi manfaat kepada dirinya sendiri saja belum mampu, apalagi memebri manfaat kepada orang lain, agama, bangsa dan negara. Berdoalah semoga agama, keluarga, bangsa dan negara bermanfaat bagi anak-anak kita. (hal.186)

Menurut Candra Malik segala ritual peribadatan harus didasari pada pemahaman hakikat. Termasuk di dalamnya terhadap bagaimana hukum Tuhan. Tak perlu merasa paling benar dengan aneka predikat kesalihan. Maka tidak berlebihan bila Candra Malik adalah generasi baru cerpen-cerpen sufi, menebalkan jejak Danarto dengan bentuk dan gaya terbarukan.

Seribu Kemungkinan

Bahasa merupakan barang luwes, yang bisa menyimpan sejuta makna. Bahasa dalam cerita-cerita Candra Malik memberi ruang pribadi pembaca untuk menafsirkan sesuai kemampuannya. Terlebih dalam cerpen-cerpen dalam gerbong kedua.

Dalam gerbong kedua, Candra Malik memang sedang berkisah tentang cinta, pembunuhan, rindu, bahkan aneka bentuk kekecewaan. Tampak seolah Candra Malik sedang menuliskan romantisme laiknya kisah-kisah biasa. Namun bila dicermati, tersimpan ribuan kemungkinan makna yang bisa ditafsirkan. Baik dari bahasa maupun metafora benda yang dipergunakan.

Dalam cerpen Mawar Hitam, tampak kompak dengan kisah kekecewaan atas sosok perempuan tomboi yang mencuri perhatian si tukang penjual bunga. Kisah romantisme platonik. Namun, tak bolehkah kita mengambil arti lain, misal soal cara pandang kita terhadap dunia, wanita, dan aneka kenikmatan? Dunia, kenyamanan, semua hal yang manis-manis selalu melenakan kewaspadaan. Aku memang tak terlalu suka pemanis untuk hal-hal yang memang dikodratkan pahit. (hal.22)

Kisah-kisah sehari-hari disulap Candra Malik menjadi tuturan lembut yang disisipi nilai-nilai sufisme. Sufi tidak melulu ada di menara gading bersama para mursyid. Sufisme dalam buku Mawar Hitam ini, tampil bersama kisah-kisah keseharian yang renyah dan indah dibaca.

Seribu kemungkinan ini juga terlihat dari bagaimana Candra Malik menyimpan elemen surprise di setiap cerita. Pembaca tidak akan pernah mampu menebak bagaimana akhir cerita yang disimpan penulis. Pikiran pembaca dimanjakan dan diajak berkelana ke segala rimbun kemungkinan. Namun tanpa dinyana, Candra Malik mengakhiri dengan penuh ledakan daya kejut. Ada kalanya lucu, tragis, romantis, atau bahkan beraroma triler.

Dalam cerpen Lolita, Candra Malik menyimpan elemen suprise dengan adegan konyol dan lucu di bagian akhir. Atau pembaca bisa bergidik ngeri dengan akhir menyeramkan dalam cerpen Akad Nikah, Sawo Kecik, dan Den Ayu Cempaka.  

Bahasa tetaplah bahasa dengan daya ungkap keindahan. Sebagai budayawan sekaligus pencipta banyak lagu-lagu indah, Candra Malik menempatkan banyak frasa dan kalimat yang membuat dada mengembang haru. Kau lara sebatang kara, sedih tersisih dari kekasih. (hal.4) Perempuan dan pelukan memang oksigen dan paru-paru. Jika tak menghirupnya, matilah manusia. Jika menghirupnya, hiduplah kita dalam ketergantungan luar biasa. (hal.207)

Bahasa-bahasa dalam buku kumpulan cerpen ini berhasil bertransformasi menjadi kuda tunggangan aneka muatan, mata bor yang tajam mengkritik, atau bahkan sebuah cermin kehidupan. Namun Candra Malik tetap menghadirkan bahasa sebagai kesatuan utuh indah dan memiliki daya pelajaran. Kalimat-kalimat dalam buku Mawar Hitam tampak seperti coretan-coretan berkarakter yang menyimpan raut sang juwita (hal.113).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s