Cerpen

Tunas Pusar

(Kedaulatan Rakyat30 Agustus 2015)

ilustrasi tunas pusar-joko santosoKUYAKIN INI TUNAS JATI. Daunnya kasar, hijau muda kemerahan, dan berbulu sedikit kasar. Dia mencuat tepat di tengah pusar dari bekas bisul. Pertama kukira bisul itu hanya bisul biasa, yang akan sembuh bila darah dan nanah pecah. Ternyata yang muncul saat bisul itu matang dan pecah adalah sebentuk tunas. Memang masih kecil tapi kehadirannya membuatku ketakutan.

Seminggu lalu, proyek pembangunan irigasi untuk menghubungkan Kali Bendo dengan persawahan Soronini mulai dikerjakan. Di tengah-tengah musim kemarau. Karena itu pula, beberapa pokok jati yang lahannya akan dipergunakan sebagai daerah aliran air terpaksa harus ditebang. Pohon-pohon yang cukup besar terpaksa kami pangkas, tapi bibit kegembiraan lain menunas. Andai aliran irigasi berhasil dibangun, tentu sawah-sawah yang jauh dari sungai tak akan kesulitan soal mengairi ladonan padi.

Sekitar tiga puluh batang jati ditebang. Tidak semua bagus. Memang berkubik besar, namun tak sedikit yang bengkok atau keropos digerogoti kumbang jati.
Sesuai kesepakatan kayu-kayu akan diangkut ke keluarahan untuk pembangunan pendopo. Diam-diam aku jatuh cinta pada satu pohon jati. Tidak terlalu besar dan tinggi memang, tapi sudah bisa kuperkirakan berapa rupiah yang bisa kudapatkan. Bila diambil sebatang saat orang sedang mengurus kedatangan material pembangunan –pasir, semen, batu kerikil, dan kapur– tentu tak ada yang memperhatikannya. Apalagi bila kulakukan diam-diam.

Sengaja aku mengakhirkan diri pulang. Aku beralasan akan mengangkut beberapa bongkokan rumput gajah. Saat burung-burung mulai berjalan ke sarang, persawahan mulai sepi ditinggalkan, diam-diam kupanggul sebatang jati incaranku itu.

Kupilih sendiri, kuangkut sendiri, setelah jadi uang kunikmati bersama istri. Menggembirakan memang. Aku tetap bisa menjadi kuli pembangunan selokan irigasi dan ada tambahan lain. Namun saat tumbuh tunas jati kecil di pusar yang kuyakini berkaitan dengan tindakanku itu, aku mulai menyesalinya. Semua terlanjur menguap. Sekuat apapun kugapai, sebatang jati itu sudah mengudara bersama sesal yang merajam. Beberapa kali terbersit untuk mengakui saja agar dimaafkan. Tapi mau kusimpan di mana mukaku. Sekali mencorengkan arang di dahi, bekasnya tak bisa luntur meski ratusan kali dicuci.

“Lantas bagaimana?” istriku membayangkan macam-macam. Pekerjaan sebagai kuli pasti akan hilang bila terang-terangan kuakui, belum lagi cibiran dan dikucilkan dari pergaulan tetangga. Hidup di desa dan dikucilkan tetangga, itu bencana.

Aku tercenung. Seteguk kopi mendadak hambar di tenggorokan. Belum kutemukan jalan keluar. Sedangkan tunas jati di pusar perutku semakin lama semakin membesar. Bila tidak gegas, bisa-bisa keanehan akan menyebar dan aku beserta keluargaku harus siap jadi bahan omongan orang.

Kuraba perutku. Tunas kecil dengan dua lembar daun mungil menyembul. Tidak seperti tunas jati di persawahan yang mudah mati terkena panas.Tunas di pusarku ini seolah tahan akan godaan dan tidak mudah meranggas.

“Kalau tidak, kamu potong saja tunas itu,” saran istriku. Kami sama-sama takut bila tunas itu dipegoki orang. Istriku berdiri dari kursi, meraih sebilah pisau yang baru selesai dipergunakan mengiris tempe. Dia menyorongkannya kepadaku. Kuterima sedikit ragu.

Kuarahkan mata pisau ke pangkal tunas jati. Kuharapkan agar sekali ini saja tumbuh. Dan tidak kembali mencuat. Kres! Tunas jati yang masih hijau dan lembut putus seketika. Lalu jatuh di lantai. Mataku tak bisa lepas pada bekas tunas jati. Kuelus-elus sambil berdoa agar tak ada keanehan kedua akibat aku menelan sebatang jati yang bukan menjadi halalku.

Nyatanya tidak. Esok hari, bangun tidur, aku menemukan sebentuk tunas jati yang baru. Kini lebih besar dari kemarin. Dua lembar daunnya pun sudah cukup lebar. Warna merah pada daun jati muda sudah pudar, berganti warna menjadi hijau pupus. Bulu-bulu kasar pun mulai mengecil. Aku memekik memanggil istriku. Aku tergugu. Seberapa besar pun penyesalanku tak akan bisa menghentikan pertumbuhan tunas itu. Aku menyesal.Takkan kuulangi lagi. Kapok aku!

“Dipotong lagi saja,” kali ini aku lamban menerima pisau dari istriku. Bila hari ini kupotong, apa akan benar-benar habis? Atau besok bisa-bisa tumbuh lebih besar lagi?

“Tapi,” aku menyangkal.

“Mas, hari ini kamu harus berangkat kerja. Kalau kamu absen, justru menimbulkan pertanyaan. Kawan-kawanmu akan menjenguk dan terbongkarlah tunas jati di pusarmu itu!”

Aku masih diam. Beberapa tetes air mata jatuh di lembar tunas jati.

“Kalau besok tumbuh lagi yang lebih besar bagaimana?” aku seperti anak kecil bingung mencari pegangan.

“Besok dipangkas lagi. Intinya sampai dua bulan proyek pembangunan itu tunas harus kamu simpan rapat-rapat.”

Apakah ini kejamnya karma? Andai bisa, ingin kuputar kembali waktu. Pasti tak kujalani kegembiraan yang membawa kesengsaraan begini.

“Sini,” istriku merampas pisau dari genggamanku. “Pakai kaos ini. Lapisi kemejamu!” istriku menyerahkan kaos basahan dan kemeja yang biasa kupakai kerja lapangan. Agar semua tertutup dan tidak menimbulkan kecurigaan.

Aku tak bernafsu sarapan. Aku tetap berangkat dengan pakaian cukup ketat dan tebal agar menutupi sembulan pangkal tunas jati di perut yang bila dicermati saksama mirip udel bodong.

Aku berjanji untuk tidak sekali pun membuka kaos dan kemeja bila kawan-kawanku hendak mandi di mata air Kali Bendo. Aku memilih berpanas-panasan daripada harus membongkar rahasia di pusar. Benar saja, saat istirahat makan siang enam orang gegas menuju mata air. Aku turut mereka tapi hanya membasuh muka. Dan, betapa terkejutnya aku saat mereka membuka masing-masing basahan di badan. Di pusar mereka mengucur hal-hal aneh. Ada pasir, kapur, semen, bahkan kerikil. Lantas mataku bergantian memandangi pusar mereka dan tumpukan material di pinggir Kali Bendo.(*)

Blora, 17 Agustus 2015

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s