Cerpen

Kursus Menulis

(Tribun Jabar, 30 Agustus 2015)

kursus menulis

MULA-MULA kujawab dengan menggeleng. Malu. Karena aku belum bisa menulis tema sosial kesukaannya. Kata JA cerita pendek yang bagus bukan sekadar berloncatan imajinasi, tapi mampu menggerakkan pembaca.

Aku menulis cerita pendek tetang kisah cinta bertepuk sebelah tangan dan bunuh diri karena ditinggal kekasih. JA berdecap mendengar jawabanku. Rambut klimis terlapisi pomade kaku tak bergerak, sekokoh perkataannya yang tak bisa diterjang badai. Dadaku berdegup kencang, seperti ada serombongan anak-anak menghentak-hentakkan kaki karena tidak sabar mengantre pembagian kotak susu usai makan siang. “Kisah sialan macam apa yang kamu tulis? Ceritamu sampah!”

JA mengayun-ayunkan kaki. Rokok kelima sudah dibenamkan dalam asbak yang penuh putung dan abu. Bila sedang tak enak hati, dia mengisap rokok cepat sekali. Aku berusaha menampik udara yang meluncur dari mulutnya. Tapi udara bukan anak anjing yang mudah digiring. Hampir semua udara busuk dari mulutnya menyesak ke dalam hidung. Aku menahan diri untuk tidak batuk. Batuk akan membuatnya semakin kejam mengomentari. JA terkenal sebagai mentor menulis kejam dan mudah tersinggung.

 “Apa kamu hanya bisa menulis kisah picisan begini?” Kujawab dengan senyuman paling manis, agar dia tidak bertambah sinis mengejekku. Matanya melotot, hampir bisa menggelinding keluar andai kacamata minusnya dilepas atau disampirkan di atas kepala seperti seorang sutradara mengoreksi lembar skenario. Sesekali aku tertawa kecil, seolah sedang menyaksikan pelawak melempar guyonan. Sebenarnya caraku tertawa sangat aneh, aku terbahak sendirian sedangkan dia masih dengan tatapan menyeramkan seorang mentor menulis cerita pendek.

“Bawa pulang dan tulis yang baru! Pekan depan harus lebih baik lagi. Tirulah Dea Anugerah atau Norman Erikson Pasaribu. Mereka generasi baru dalam percepenan Indonesia. Jangan terlalu banyak nonton Youtube melulu!” JA menutup pertemuan sore itu.

Sebelum JA menyulap kertas-kertas berisi 1600-an kata milikku menjadi bungkus kotoran tikus atau sebagai lapik kopinya, aku buru-buru pulang. Mengumpulkan semua nasihatnya kemudian mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.

Jujur, aku tidak marah. Telinga sudah kupasang peredam pitam kualitas nomor satu. Aku harus sabar menghadapi cara kejam JA mendidik. Faktanya sudah banyak penulis berhasil di bawah mentoringnya yang terkenal jahanam tanpa ampun. Seolah-seolah tidak ada kata bagus untuknya.

Di pertemuan pertama, usai perkenalan basa-basi dengan nada sindiran ketus dia menandaskan, “There are no two words more hurtful than GOOD JOB!”(1) Maka sekarang aku sudah sangat siap bila semua tulisan di hadapannya selalu mendapatkan cacian dan kritikan.

***

Aku belajar menulis karena mengikuti saran temanku, MD, bila sedang patah hati tulislah dalam cerita. Selain melegakan, bisa menguntungkan bila berjodoh dengan media. Kalau bisa kunovelkan, ada kemungkinan menjadi best seller. Kata MD, pembaca suka cerita haru biru menguras air mata. Dalam kekalutan sakit hati, debaran jantung lebih kuat bila menyaksikan mantan kekasihku lewat di depan rumah, aku mengiyakan saja. Aku bertanya bagaimana mungkin orang yang tidak biasa menulis mendadak bisa menulis hanya karena remuk-redam perasaannya?

“Tentu tidak!” MD menyahut gegas. “Kamu membutuhkan guru untuk mengarahkan bagaimana menulis bagus.” Aku mengangguk-anguk. MD menyebut nama JA, sastrawan senior di kotaku, yang pernah menyabet penghargaan cerita pendek terbaik seindonesia dan sampai sekarang menjabat redaktur majalah sastra.

MD menambahkan, salah seorang sahabatnya pernah mengikuti bimbingan yang sama dan sangat menikmatinya. MD juga mendorongku mengikuti kelas tersebut karena menurutnya aku perlu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dan melakukan sesuatu yang bisa kunikmati. Aku bisa menenggelamkan diri dalam kesibukan menulis, hingga melupakan mantan kekasihku. MD tak ingin aku menua karena sakit hati dan duduk menopang dagu saban hari.

“Sekali saja, dicoba dulu,” kata  MD.

Aku mengangguk sambil memikirkan sebuah kisah yang akan kutulis dan kusodorkan kepada JA.

Seminggu aku menulis cerita pendek dengan berdarah-darah. Mungkin karena aku lebih suka menulis status di Facebook dan berkicau di Twitter, hingga untuk menghasilkan cerita sepanjang enam halaman saja aku membutuhkan waktu seminggu utuh. Tiap menghasilkan satu paragraf, gegas kuhapus. Rasanya tombol CTRL+A kemudian delete begitu menggoda jemari.

Akhirnya ceritaku jadi. Cerita itu kuberi judul “Pacar Dinosaurus”. Dengan kalimat pembuka, Setelah menjadi seekor cicak, kekasihku memaksaku beralih wujud menjadi seekor dinosaurus. Sayang, tubuh cicak tak sebesar dinosaurus. Maka pekerjaan pertamaku adalah mencari pompa angin, mungkin seperti yang dipakai penjual balon, dan memastikan pompa itu cukup untuk menjadikanku sebesar dinosaurus. Tentu mencari orang yang ikhlas memompankannya.

Kisah itu berlanjut sedemikian panjang. Karena luas penampang kulit cicak tidak akan cukup untuk membuat replika seekor dinosaurus, cicak itu akhirnya meledak di depan kekasihnya. Pompa angin penuh cipratan organ dalam cicak, warna gagang pompa angin legam sontak berganti merah darah.

Aku sangat yakin cerita pertamaku ini sangat menarik. Apalagi aku menulisnya sekaligus membayangkan kekasihku dan diam-diam memasukkan aku dalam tokoh cerita.

Kusodorkan cerita tersebut kepada JA. Dan apa reaksinya? Dia tertawa, kemudian menyampaikan ceritaku mirip dongeng Majalah Bobo. Keringatku merembes sebesar jagung. Lalu dia mengatakan: apa-apa saja yang seharusnya kutulis, ritual baik sebelum penulis menulis cerita, membaca buku-buku filsafat dan sastra peraih nobel, cermat melakukan pengamatan, dan tidak berhenti menulis sehari pun.

Meski sudah kuikuti semua sarannya, nyatanya ceritaku tetap saja dikatakan sampah dan tidak layak menerima pujian dari JA.

***

Aku bertekat untuk tidak sering menemuinya dan saat bertemu dia akan benar-benar memuji ceritaku. Mirip tapa brata pendekar sebelum turun gunung menumpas kejahatan.

Kuborong buku bagus, ingin kulahap dan kucermati. Terutama bagaimana tulisan peraih nobel sastra mampu mengungkapkan isu sosial dan penuh muatan perubahan. Sebulan kurasa cukup untuk menghindari JA dan bertemu membawa naskah yang akan membuatnya tidak kecewa menerimaku sebagai murid menulis cerpennya. Dua atau tiga minggu membaca, kemudian seminggu aku tulis semuanya.

Selama tiga minggu pertama kubaca semua buku. Kucatat hal-hal penting. Satu hal terpenting yang kupelajari, hampir semua kisah-kisah diceritakan begitu nyata, seperti kisah penulis sendiri. Akibatnya naluriku tersulut, seolah terlibat merasakan. Apakah mereka benar-benar merasakan secara nyata kemudian pengalaman itu dituang dalam tulisan?

Mereka hanya pandai mengamati. Tulisan bagus dan menyentuh harus didasari pengalaman atau pengamatan jeli. Dituang sempurna dalam tulisan. Benar nasihat JA, penulis harus cermat melakukan pengamatan. (Tapi pengalaman nyataku tentang patah hati dan kutulis dalam “Pacar Dinosaurus” tidak mampu menggerakkan JA dan dianggap sampah).

“Eureka!” Aku berteriak.

Ide cemerlang melintas di kepala. Tidak boleh disia-siakan. Segera kususun kerangka tulisan. Kuatur drama tiga babak untuk membuat sebuah cerita utuh. Sesekali aku mengecek kamus besar bahasa Indonesia dan googling. Berharap mampu membuat cerita sederhana namun menggugah pembaca.

Seminggu penuh aku menuliskan ide tersebut. Ketika hampir selesai, MD mendatangiku dan menyampaikan salam.

“JA bagaimana? Mirip terminator?” MD berkata seperti sedang mengejek JA.

“Makin keras batu diasah, jadinya makin bagus,” aku mengelak.

“Sudah ada perkembangan?”

Aku mengiyakan. Bagaimana pun kejamnya JA mengomentari, selalu ada pelajaran baru yang diberikannya. Benar kata pepatah, dari kerasnya batang tebu tersimpan sari gula manis. “JA selalu mengatakan kalau menulis cerita harus ikut merasakan. Kalau ingin cerita orang mlarat, harus pernah merasakan kelaparan.Sebulan ini aku absen ketemu JA. Aku berjanji akan menemuinya dengan cerita paling fenomenal.”

“Seperti semedi, kemudian turun gunung?” MD tertawa. Bila tertawa keras, matanya hampir tidak terlihat.

“Mungkin besok aku akan bertemu dengan JA.”

“Lalu, apa yang kamu tulis dalam cerita pendekmu?” tanya MD

Aku menghela napas.

“Judul cerita pendekku ‘Calon Penulis Berhak Bahagia’.”

MD membelalakkan mata. Jelas sekali dia dibakar rasa penasaran.

“Tentang apa?”

“Calon penulis! Dia sedang berguru kepada penulis senior, kondang dan disegani. Tapi sang mentor begitu kejam. Mentor itu begitu ringan tangan, melempar apa saja kepada si calon penulis. Cerita si calon penulis buruk dan tidak memenuhi ekspektasi mentor. Berkali-kali si calon penulis menulis, sebanyak itu pula kepalanya harus rela ditimpuk benda apa saja. Hingga kekesalan itu memuncak dan berjanji akan menulis paling bagus.”

Aku berhenti sejenak mengatur napas.

“Lalu calon pengarang itu memutuskan untuk mengisahkan seorang  mentor menulis kejam dan mati dibunuh oleh anak didiknya.”

MD agak kebingungan. “Apa yang kamu tulis itu?”

“Cerita.”

MD tergeragap. Kesadarannya mendadak mencuat seperti kecambah kecapi menyesak di sela-sela tembok.

“Apa JA baik-baik saja?” tanya MD, kemudian gegas lari terburu-buru menuju rumah JA.(*)

Catatan:

(1) Diolah dari kalimat Terence Fletcher dalam film “Wiplash”

Advertisements

2 thoughts on “Kursus Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s