Resensi

Hidup Penuh Ketidakpastian

(Koran Jakarta, 27 Agustus 2015)

Untuk versi koran, yang diperpendek dan diubah judulnya bisa dicek di mari

Seorang filsuf, Baruch Spinoza pernah menyatakan manusia adalah binatang sosial, Homo Homini Lupus. Akan tetapi, keberadaan manusia sebagai makhluk sosial terkadang menimbulkan kesan ketidakpastian. Makhluk sosial tidak hanya bermakna sebagai hubungan saling membutuhkan. Namun seperti pendapat Thomas Hobbes bahwa Homo Homini Lupus bisa berubah menjadi serigala bagi manusia lain dan pemicu kekhawatiran.

Konsep ini membuat manusia memiliki sifat unik dan tidak terpediksi. Ketidakpastian kehidupan manusia ini ditangkap sebagai kewajaran oleh Arswendo Atmowiloto kemudian dituangkan dalam novel anyarnya Rabu Rasa Sabtu (Gramedia, Agustus 2015). Kehidupan dalam novel tersebut serba tidak pasti. Manusia-manusia di dalamnya pun tidak jarang mencitrakan makhluk sosial yang aneh.

Wayang Supabra hidup di lingkungan keluarga kaya-raya, namun memiliki penyakit menahun batuk. Penyakit remeh-temeh ini justru menjadi momok menakutkan dan dianggap akan menjadi penyebab kematian Wayang. Kemudian jatuh cinta kepada Jalmo, pekerja rendahan di perusahan Mama Tera dan Eyang Mbagun Tapa, kedua orangtua Wayang Supraba.

Ketidakpastian yang diungkapkan oleh Arswendo dimulai dengan hadirnya penyakit batuk. Dalam logika manusia mungkin batuk adalah hal remeh yang tidak patut ditakuti, Batuk memang tidak terdengar buruh dan tidak menciptakan citra tinggi seperti kanker, leukimia, jantung bocor atau gagal ginjal dan pembesaran kepala sehingga kurang mendapat perhatian, kecuali dari yang bersangkutan dan keluarganya. (hal.17)

Seorang yang hanya terkena batuk tiba-tiba mendapatkan sebuah pelayanan ekstra, mendirikan Batuk Center agar tidak lekas mati. Mendadak takut pada kematian dan hidup tanpa energi. Eyang Mbangun Tapa pernah mendatangi dukun bahwa usia Wayang Supraba tidak lebih dari tiga windu. Sehingga yakin batuklah yang akan memungkasi umur Wayang Supraba.

Kehadiran Jalmo, lelaki yang mencintai dan dicintai Wayang Supraba adalah kutub berlawanan. Jalmo tipe manusia cuek. Karena dia memang miskin dan tidak ada yang dikhawatirkan. Seperti pepatah jawa, jalmo tan kena kinira, manusia tidak bisa diprediksikan, tidak bisa diperkirakan, karena selalu ada lebihnya (hal.44). Jalmo hadir sebagai penetral hidup Wayang Supraba. Dia selalu berkeyakinan hidup,waktu, bahkan kematian bisa direkayasa sesuai kebutuhan.

Homo Homini Lupus bisa berubah menjadi orang penuh ketakutan bak hendak diserang serigala seperti keluarga Wayang Supraba. Atau bahkan memiliki altruisme laiknya Jalmo. Hidup memang semakin keras dan tidak pasti, tapi orang baik akan selalu lahir di setiap zaman.

Arswendo seperti main-main nakal dengan premis umum hidup. Lewat Jalmo penulis menyampaikan bahwa hidup tidak perlu diambil pusing, karena kecemasan hanya akan melahirkan kecemasan berikutnya (hal.52). Bahkan kematian yang konon sudah akan pasti datangnya, bisa diplesetkan menjadi mati itu seperti orang tidur, tidak merasakan apa-apa.Jadi sebenarnya kita ini sudah merasakan mati berkali-kali (hal.57) Atau mengejek, Yang memikirkan kematian hanya orang tua dan orang kaya. Saya belum tua dan tidak kaya. (hal.37)

Ketidakpastian selanjutnya yang menjadi twist mengejutkan adalah setelah Jalmo dan Wayang Supraba menjalani kisah cinta, terkuak bahwa Wayang Supraba adalah seorang lesbian. Restu yang diberikan orangtua Wayang Supraba kepada Jalmo, yang miskin tiada kira, bukan seperti kisah cinta platonis. Melainkan bahwa Mama Tera dan Eyang Mbagun Tapa merasa kehadiran Jalmo dalam hidup Wayang Supraba mengindikasikan Wayang masih menyukai lelaki. Seperti kata Jalmo, separuh dirimu saja, saya masih tetap sayang (hal.207)

Dalam menulis, Rabu Rasa Sabtu, Arswendo menyuguhkan gaya berbeda dibandingkan dengan novel-novel terdahulu, apalagi Senopati Pamungkas. Arswendo dalam buku ini seperti menyuguhkan banyak sempalan jalan sebelum kembali ke jalan utama. Di setiap sempalan jalan pula, Arswendo mengisahkan kisah lain yang tidak kalah bagusnya. Sehingga mungkin akan tampak tidak fokus, tapi justru gaya ini mendukung gagasan awal bahwa hidup ini tidak jalan lurus dan terkadang jauh dari kepastian.

Novel ini semakin manis dengan rima yang indah dan kalimat-kalimat puitis. Seperti dalam kalimat pembuka, Barangkali puisi merasa kata sekarang mempunyai banyak sayap lebih dari yang diucap. Puisi bukannya tak tahu diri bahwa diam-diam ia masih menyenangi irama yang ditimbulkan, secara sembunyi-sembunyi juga menyukai penggalan kata yang menggoda, terkadang janggal, ada  kalanya nakal. (hal.7) (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s