Resensi

Novel Penggugah Patriotisme

 

Radar Surabaya, 23 Agustus 2015

lingkar tanah lingkar air

ADA BANYAK CARA membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Jalan sunyi yang ditempuh Ahmad Tohari sebagai penulis adalah menyajikan novel yang berlatar belakang Indonesia pasca kemerdekaan untuk menggelorakan semangat perjuangan bagi pembacanya. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air ditulis pertama kali Ahmad Tohari pada tahun 1990 sebagai cerita bersambung di salah satu harian nasional, Republika. Tahun 1992 diterbitkan oleh PT Harta Mitra, tahun 1995 oleh LKiS Yogyakarta, dan sekarang 2015 diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama.  Kini menjelma menjadi bacaan untuk menyapu generasi berbeda dari pembaca pertamanya. Meski sudah 25 tahun yang lalu, namun tetap enak dan releavan dicerna.

Dikisahkan Amid bersama kawan-kawannya Kiram, Kang Suyud, dan Jud adalah pejuang kemerdekaan yang  tergabung dalam barisan Hizbullah. Amid adalah pemuda desa yang tergerak mengangkat senjata melawan penjajah Belanda karena merasa bahwa hidup di bawah ketiak penjajah adalah kehinaan. Apalagi perintah mengangkat senjata ini langsung dari Kiai Ngumar, guru ngaji sekaligus panutan Amid selama ini.

Pada Maret 1946, ketika Amid empat tahun pasca merampungkan sekolah di Vervolk School, ada rapat akbar di alun-alun Purwokerto yang dipimpin langsung oleh Hadratus Syekh dari Jawa Timur, bahwa berperang melawan tentara Belanda wajib hukumnya bagi semua orang Islam. Dan siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda adalah sahid. (hal.24).

Fatwa itu menggerakkan Amid dan kawan-kawan bergabung dengan tentara Hizbullah membantu tentara Republik melawan Belanda. Amid hanya berbekal kemampuan silat, sesekali ngeri membayangkan moncong bedil Belanda. Pilihan bergabung kepada Hizbullah karena sebuah alasan yang sedikit sensitif, mereka ingin berjuang bersama-sama dengan yang seagama. Mereka tidak ingin dipimpin oleh orang abangan, nasionalis, apalagi komunis. Meski berulang kali, Kiai Ngumar bahwa abangan, komunis, ataupun santri sedang sama-sama berjuang mengusir Belanda. Dan pilihan ini yang kelak mengganjal masa depan Amid dan kawan-kawan.

Persoalan muncul saat tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda dan kedaulatan Indonesia diakui resmi pada Desember 1949. Amid yang tergabung dalam barisan Hizbullah dihadapkan dua pilihan. Kiai Ngumar menyarankan agar Amid dan kawna-kawan bergabung dengan tentara republik sesuai instruksi dari pemerintah, semua barisan akan diangkat secara resmi sebagai tentara republik. Sedangkan Kang Suyud menginginkan berbeda, lebih baik tetap sebagai barisan Hizbullah. Amid dan Kiram memilih pilihan pertama, kami merasa berhak masa depan sendiri, yang menurut Kiai Ngumar halal-halal saja. (hal.78)

Saat barisan Hizbullah mengiyakan anjuran pemerintah untuk bergabung tentara Republik dan bersiap dibawa kereta api menuju Purworejo untuk dilantik, tanpa dinyana satu gerbong tentara Republik menembaki barisan Hizbullah. Peperangan tidak terhindarkan. Korban dari dua belah pihak berjatuhan. Kejadian ini membawa keraguan Amid hingga membuatnya bergabung dengan Kang Suyud yang sudah lama menjadi bagian DI/TII pimpinan SM Kartosoewirjo yang becita-cita mendirikan negara islam.

Amid yang sejak awal mencintai negaranya harus dipaksa menghadapi tentara Republik. Banyak dugaan bahwa itu hanya usaha Gerakan Siluman (GS) yang berpaham komunis untuk mengadu domba. Amid dan kawan-kawan barisan Hizbullah menjadi buronan karena melawan tentara Republik dan semakin diperparah dengan fitnah GS yang merampoki desa mengatasnamakan barisan Hizbullah. Barisan Hizbullah menjadi sasaran temabak tentara Republik sekaligus musuh masyarakat.

Kisah-kisah heroik Amid dibumbui dengan romantisme yang membuat novel ini tidak begitu menengangkan. Kisah cinta Amid dan Umi menjadi bumbu sedap novel penuh daya ledak ini. Melengkapi gambaran lokasi khas Ahmad Tohari, menyuguhkan lanskap indah desa, hutan, bahkan sebuah arena peperangan. Sehingga membuat kisah semakin hidup.

Seperti Amid yang akhirnya wafat ketika ditunjuk tentara Republik membantu melawan gelombang pemberontakan PKI, gelora patriotisme perlu terus ditumbuhkan. Hingga kita berjuang membela kepentingan negara bukan karena kita tergabung dalam barisan apa, melainkan karena panggilan cinta dan bela negara.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s