Cerpen

Eyang Veteran

(Republika, 9 Agustus 2015)

eyang veteran-ilustrasi rendra purnama

SETIAP Agustus mulai tampak di almanak ruang tengah, ada semacam ritual tahunan yang dilakukan Eyang Vet. Beliau akan sibuk tanpa menghiraukan orang sekitaran.

Eyang Vet akan mulai mencari seragam tentara yang sudah usang di tumpukan lemari. Beberapa ujung seragam dimakan kutu pakaian, lipatan setrika sudah sedemikian kentara menjejak, lubang-lubang bekas peniti emblem dan pangkat penghormatan jamak terlihat di sekitaran saku, dan bila tidak disemprot dengan pewangi tentu aroma apak akan menguar. Senja yang membuat kakinya gemetar dan rabun seolah tak mempan membuat semangatnya padam berkobar.

Agustus adalah bulan puncak kegairahan Eyang Vet. Sebagai veteran perang kemerdekaan, Eyang Vet akan diundang Bupati duduk di barisan VIP saat upacara 17 Agustus di alun-alun. Rasa nasionalisme Eyang Vet tersulut kembali, seperti sumbu minyak yang bersinggungan dengan nyala korek. Eyang Vet begitu bahagia karena tak ada satu pun yang melupakannya sebagai veteran pejuang perang. Usai upacara di alun-alun, Eyang Vet akan pulang membawa bingkisan khusus dari Bupati sekaligus amplop berisi tunjangan khusus tahunan.

Eyang Vet akan mengumpulkan anak dan cucu-cucunya, usai menghadiri upacara dan masih tetap memakai seragam mantan pejuang kebesarannya. Dengan wajah dilimpahi kebungahan, Eyang Vet membagikan uang dalam amplop yang tidak seberapa dan mendendangkan romantisme zaman peperangan, saat kulit Eyang Vet masih semulus kulit avokad dan tenaganya sekokoh pokok kedondong.

Semenjak dahulu, Eyang Vet memang gemar mengisahkan kisah hidupnya semasa muda saat tangannya begitu kokoh menudingkan bambu runcing ke kompeni. Bila cucu-cucu yang bervariasi usianya berkumpul, Eyang Vet akan duduk di penjuru dan memulai kisah heroiknya. Eyang Vet selalu mengatakan, harta, keringat, darah, tangisan, bahkan nyawa tak berharga di masa penjajahan. Air mata, keringat, darah terus tumpah semasa perlawanan terhadap penjajah. Yang berharga dan diinginkan banyak orang termasuk Eyang Vet yang kala itu masih berusia enam belas dan tergabung dengan barisan tentara muda adalah kemerdekaan bagi tanah air Indonesia.

“Negara ini dibangun atas darah dan nyawa pahlawan,” ujar Eyang Vet dengan nada membara.

Kami yang mengenal pahlawan hanya dari lembaran uang dan nama jalan, lebih menikmati kisah-kisah Eyang Vet sebagai sebentuk dongeng indah sesekali sebagai kisah pengantar tidur.

“Kalau kalian sudah besar, bercita-citalah menjadi tentara.”

“Mengapa tentara? Harus mengikuti jejak Eyang Vet?”

“Bukan. Karena negara ini masih butuh jasa banyak pahlawan,” Eyang Vet mengelus dadanya, meredam gemuruh yang menggetarkan rongga diafragma tuanya. Eyang Vet akan beranjak dari kursi goyang kegemarannya lalu berjalan tertatih ke kamar. Eyang Vet sudah membutuhkan sokongan sebentuk tongkat semenjak beliau dihinggapi reumatik pada usia 69 tahun sebelas tahun yang lalu. Kemudian cucu-cucunyanya kembali bercengkerama dan bermain dengan acang canggih masing-masing.

Dari semua cucu Eyang Vet, yang paling dibanggakannya adalah Dadit Nuary. Hanya cucu tertua dari putri sulung Eyang Vet ini yang melanjutkan cita-cita Eyang Vet berseragam dan memanggul bedil di medan perang. Eyang Vet merasa darahnya sebagai pejuang hanya tumpah di tubuh Dadit Nuary. Sehingga tidak heran, saban berkumpul usai upacara 17 Agustusan kehadiran Dadit Nuary adalah hal yang Eyang Vet wajibkan. Kisah-kisah perjuangan Eyang Vet terasa rumpang bila beliau tidak mengakhiri ceritanya dengan membangga-banggakan Dadit Nuary.

 “Contohlah kakak kalian, cucuku paling gagah itu. Hanya dia seorang yang berani memanggul senjata dan memekikkan seruan perang,” begitu kalimat Eyang Vet penuh kebanggaan. Matanya berpijar seperti menyaksikan serdadu kompeni hendak menyerang.

***

Agustus 2015 ini, kebetulan libur panjang saat hari kemerdekaan, Eyang Vet sudah mewanti-wanti semua keluarga untuk berkumpul di rumah. Kedua anak dan keenam cucu, semua trah Eyang Vet harus berkumpul. Sekaligus arisan keluarga yang kebetulan batal dilaksanakan di lebaran sebelumnya.

Eyang Vet, seperti biasa, mulai sibuk dengan seragam veteran sejak awal Agustus dan semakin sibuk di tanggal 16.

Nduk, mana seragam Eyang Vet?” teriak Eyang Vet kepada Mbak Asih, batur yang kebetulan membantu di rumah. “Kemarin sudah Eyang Vet minta cuci bersih, disetrika yang rapi, dan dikasih wewangian.” Eyang Vet dengan tertatih mendekati Mbak Asih yang kebetulan sedang di dapur.

“Sudah Asih gantung di kamar Eyang,” jawab Mbak Asih.

“Jangan sampai lupa, loh! Sekalian emblem dan topi disiapkan, besok jemputan dari Bupati sampai jam setengah tujuh.”

Mbak Asih mengangguk takzim. Tidak ada yang perlu diperdebatkan dengan veteran setua dan selemah Eyang Vet. Meskipun Eyang Vet kadang kelewat cerewet dan minta neko-neko, Mbak Asih tetap saja memiliki kesabaran seluas samudera. Andai berkenan, Mbak Asih bisa menyembunyikan tongkat penopang jalan Eyang Vet, maka tamat sudah aneka kegagahan Eyang Vet.

“Kapan mereka datang, nduk?” yang dimaksud Eyang Vet mereka adalah anak-anak dan cucu-cucu. Yang seharusnya sudah berkumpul sejak Sabtu. Hingga Ahad, 16 Agustus belum ada tanda-tanda mereka datang.

“Mungkin nanti sore. Maklum liburan panjang, Eyang. Mungkin jalanan sedang padat.”

“Seharusnya mereka pulang Jumat atau Sabtu agar terhindar kemacetan. Mereka memang selalu tidak mengindahkan perkataan lansia ini.”

“Mungkin masih mampir buat beli oleh-oleh,” Mbak Asih mencoba membuat adem prasangka Eyang Vet.

“Mungkin dan mungkin,” Eyang Vet kemudian berlalu. Baru beberapa langkah Eyang Vet menambahi tanpa sedikitpun berbalik menatap Mbak Asih, “Nduk, kalau mereka telepon suruh gegas ke rumah. Jangan sampai mereka absen menyaksikan eyangnya mengenakan pakaian kebesaran veteran.”

Seperti yang diprediksikan dua anak dan enam cucu Eyang Vet tiba di rumah Ahad sore menjelang magrib. Tentu tak lupa, cucu terbesar Eyang Vet, Dadit Nuary yang masuk tahun kedua pendidikan polisi. Mereka bercengkerama di ruangan tengah, saling bertukar kabar dan kegembiraan, dan silih berganti mengambil gambar bersama seluruh keluarga dengan kamera atau piranti cerdas yang membuat Eyang Vet geleng-geleng takjub.

“Anak muda dulu, gigih mengacungkan bambu runcing. Sekarang, gemar memainkan sablak yang bisa berbunyi.”

Semua lanjut tertawa.

“Zaman sudah beda, Eyang,” jawab Dadit Nuary, cucu kesayangan Eyang Vet.

***

Esok paginya, usai subuh Eyang Vet sudah membuat rumah sedemikian sibuk. Mbak Asih dibikin repot dengan harus membuat air panas untuk mandi Eyang Vet, menyeduh jahe panas agar perut Eyang Vet tidak dingin, melumatkan bubur untuk sarapan Eyang Vet. Sedangkan seluruh trah masih terlelap. Ada yang di kamar, di depan televisi, bahkan beberapa tergeletak begitu saja di sofa dan kursi. Suara nyaring Eyang Vet tak mampu membangunkan mereka.

Nduk, jangan lupa, suruh mereka jemput Eyang di alun-alun. Sekalian mengenalkan patriotisme,” suruh Eyang Vet kepada Mbak Asih.

Eyang Vet berkali-kali mematut dirinya di depan kaca. Memastikan pakaiannya sudah rapi, emblem sempurna, dan topi pada posisi sebenarnya. Mbak Asih menuntun hingga teras depan, dan tepat pukul setengah tujuh mobil jemputan bupati datang bersama belasan veteran lain yang diundang secara khusus menghadiri upacara tujuh belasan.

***

Ternyata meski veteran dan pernah dengan gagah memanggul bambu runcing mengusir penjajah, Eyang Vet takluk pada panasnya bulan Agustus. Belum lagi Indonesia raya usai dinyanyikan Eyang Vet ambruk pingsan. Eyang Vet dibawa ke rumah sakit terdekat. Untung semua baik-baik saja, meski Eyang Vet harus disuplai infus agar kebugaran segera datang.

Dua jam beristirahat, Eyang Vet bangun. Dan betapa terkejutnya saat mengetahui, bukannya sedang bersama barisan para veteran dan dielu-elukan Bupati serta peserta upacara 17 Agustus, Eyang Vet justru terbaring di rumah sakit di kelilingi semua famili.

Kok aku di sini?” tanya Eyang Vet, berusaha bangkit. Namun gegas dihalau oleh Dadit Nuary.

“Tadi Eyang jatuh pingsan,” Dadit Nuary berusaha mencegah Eyang Vet yang terus ingin duduk. “Eyang rebahan saja,” sergah Dadit Nuary.

Wajah Eyang Vet mendadak memberengut sendu. Mungkin penyesalan menguasi dadanya. Sibuk menyiapkan segalanya, ternyata percuma karena Eyang Vet tak rampung mengikuti upacara kemerdekaan di alun-alun dan justru terbaring di ranjang rumah sakit.

“Padahal Eyang ingin bersalaman dengan Bupati,” kata Eyang tertatih.

“Tak apa, Eyang. Tadi Bupati sempat menjenguk saat Eyang masih istirahat. Dan menitipkan ini,” Dadit Nuary menyorongkan bingkisan dan sebuah amplop.

Eyang Vet terkejut. Tangannya meraih dan membuka amplop.

“Jumlahnya lebih besar, Le….”

Dadit Nuary tersenyum kikuk, menyaksikan pasuryan Eyang Vet kembali cerah. Ternyata kegembiraan Eyang Vet hanya seperti ini.

“Bahagia sekali, ternyata veteran tua bahkan sempat pingsan seperti Eyang Vet, masih saja diingat dan dihormati bupati. Maka kamu, Dedi Jauhari, jadilah tentara biar terus dihormati banyak orang.”

“Eyang, siapa Dedi Jauhari itu? Dan, saya, Dadit Nuary sudah tahun kedua di akademi polisi,” jawab Dadit Nuary agak kaku.

“Kamu?Kamu bukan cucuku, Dedi Jauhari?”

Dadit Nuary justru yang kebingungan.

“Eyang, yang cucumu itu Dadit Nuary.”

“Lalu siapa Dedi Jauhari?”

Anak-anak dan cucu yang lain justru tertawa di luar bilik Eyang Vet. Lalu samar-samar terdengar guyonan, “Ternyata Eyang Veteran kita sudah mulai pikun. Mungkin Agustus tahun depan beliau sudah lupa cerita-cerita heroik dan mengenakan seragam veteran.” (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s