Resensi

Bahasa Universal Ibu

(Rakyat Sumbar, 01 Agustus 2015)

11754747_1645647392318073_6520646994171171288_o

(Maaf scannya kurang bagus)

MESKI budaya K-Pop mendunia dan menjamur hingga Indonesia, tapi publik tak banyak disuguhi literatur sastra Korea. Halyu atau gelombang Korea lebih dominan pada musik, pakaian, makanan, dan film. Maka kehadiran buku Please Look After Mom, menjadi pelengkap cengkeraman budaya Korea di Indonesia.

Novel karangan Kyung Sook Shin ini memperoleh hadiah Man Asian Literary Prize pada 2011, yang kemudian mengantarkan penulisnya menjadi penulis literatur Korea modern yang masyhur hingga Internasional. Banyak karya Kyung Sook Shin telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Park So-nyo, ibu berusia 69 tahun yang menghilang tercecer saat hendak naik kereta bawah tanah di Stasiun Seoul bersama suaminya. Semenjak itu Park So-nyo tidak diketemukan oleh keempat anaknya. Menghilang secara misterius. Namun dari sinilah kisah bermula. Kisah tentang bahasa kasih sayang seorang ibu yang diakui secara universal.

Peran ibu tidak sekadar sebagai ibu kandung yang bertugas mengandung dan menyusui saja. Namun ibu adalah ibu guru pertama bagi anak-anaknya. Park So-nyo membuktikan itu. Anak pertamanya Hyong Chol, yang dikenal sebagai anak cerdas yang sekolah penuh dengan beasiswa mampu bertahan saat dia gagal masuk universitas atas pompaan semangat ibunya. Begitu juga, anak terakhirnya, seorang perempuan yang memilih hidup sebagai single parent dengan tiga orang anak dan menjadi penulis.

Sosok Park So-nyo, mewakili kehidupan perempuan desa Korea. Hanya memikirkan bagaimana anak-anaknya bisa makan dan terbebas dari kerja keras petani dan kemiskinan. Bahkan melupakan untuk sekadar belajar baca dan tulis, Park So-nyo buta huruf.

Seoul menjadi salah satu kota dengan predikat global city, kota dengan kehidupan metropolitan yang menarik massa dari penjuru Korea. Termasuk dalam novel ini disinggung bergesernya konsentrasi penduduk yang semula menyebar, hingga hanya terpusat pada kehidupan modern menjanjikan di Seoul. Urbanisasi besar-besaran membawa peluang besar untuk kemajuan ekonomi. Orang-orang desa seperti Hyong Chol berpindah demi pekerjaan ke Korea dan tega tidak tega harus meninggalkan ibunya, yang mulai tua dan ikhlas menerima kondisinya.

Drama Korea

Novel ini manis. Terlebih mengangkat perjuangan dan kasih sayang ibu. Yang seolah-olah menandaskan kepada kita tentang kasih sayang orang tua terutama ibu kepada anaknya sepanjang jalan, meski tidak pernah dihiraukan. Romo Mangun pernah menulis bahwa ibu itu seperti bumi, yang akan rela disakiti demi mengeluarkan sumber daya alam yang ada di dalam perut bumi, memberi tempat bernaung, bahkan merangkul bila kelak sudah berkalang tanah. Ibu seperti Park So-nyo tidak akan menggerutu kepada anak-anaknya, karena kasih sayang yang tulus tidak harus ditukar dengan harta benda. Dan untuk membangkitkan kesadaran, waktu dan kuasa Tuhan akan bekerja. Seperti baru saat Park So-nyo menghilang, anak-anaknya menyadari hal-hal baik dari sang ibu.

Bak drama Korea, kisah Park So-nyo menguras air mata. Bagaimana mungkin seorang ibu dibiarkan begitu saja tertinggal di stasiun dan kemudian hilang berbulan-bulan. Anak-anak dewasa hanya berandai-andai setelah kejadian. Ironi ini menyanyat dan membangkitkan perasaan sentimentil.

Terlalu sederhana bila Please Look After Mom dianggap picisan. Penulis mahir mengangkat derajat novel ini agar tidak terjebak pada novel picisan biasa. Selain membungkus konflik sederhana dengan bahasa manis bak drama, penulis juga menempatkan sebuah eksperimen yang cukup berani. Di setiap bab, penulis memakai point of view yang berbeda; yaitu orang kedua dan orang ketiga. Sehingga keberadaan narator di setiap bab akan kabur.

Kampanye Budaya

Karya sastra adalah cerminan kehidupan budaya sebuah bangsa. Pada jamaknya sastra hanya akan dinikmati orang sebangsanya. Namun apabila novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa asing di luar bahasa ibu, maka akan ada kesempatan novel itu sebagai duta budaya secara tidak langsung.

Penerjemahan menjadi titik temu penting dalam hal ini. Maman S Mahayana pernah menyampaikan bahwa penerjemah diibaratkan kuda beban, membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain. Berkat peran penerjemah bangsa di belahan bumi lain mampu merasakan keadiluhuran kebudayaan sebuah negara.

Publik Indonesia akan mengerti bagaimana peran ibu-ibu Korea di dapur, makna masakan kimchi dalam keluarga, bahkan keberadaan ikan pari dalam sebuah perayaan sembahyang kepada leluhur dalam keluarga konvensional Korea. Rumah ibumu sudah seperti pabrik; dia membuat berbagai macam sau, tauco, dan beras cokelat. (hal.11)

Dan keberadaan budaya asing yang disuguhkan dalam buku ini tidak sekadar membuka wawasan dan cakrawala baru terhadap tata kehidupan di Korea. Namun juga diharapkan mampu memberi inspirasi untuk mencipta karya yang sejenis bahkan memungkinkan adanya akulturasi budaya. Maka sangat tidak heran bila pemerintah dan para pemerhati susastra sangat mendorong penerjemahan karya-karya sastra Indonesia bermutu ke dalam bahasa asing. Agar Indonesia mampu dibaca dunia internasional, kebudayaan, tata masyarakat, bahkan sampai ke yang lebih dalam tentang antropologi manusia.

Karena buku, kebudayaan, dan susastra sejadinya bisa dimandati sebagai duta bangsa dan duta promosi tanpa harus repot-repot mengadakan kontes kecantikan. Seperti Korea dengan halyu-nya yang patut diteladani.(*)

Identitas Buku          :
Judul                           : PLEASE LOOK AFTER MOM
Penulis                        : Kyung Sook Shin
Penerbit                      : PT Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa               : Tanti Lesmana
Cetakan                      : April 2015
Tebal                           : 296 halaman
ISBN                            : 9786020315409

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s