Cerpen

Seribu Bulan, Seribu Kecamatan

(Koran Merapi, 12 Juli 2015)

Ilustrasi Seribu Bulan Seribu Kecamatan

ITU BUKAN FAKTA lapangan atau data statistika. Bukan 1000 bulan, bukan pula 1000 kecataman betulan. Namun itu adalah kalimat yang sering dipergunakan Kacepe untuk menyangatkan betapa dia sudah lama mencari siapa pemilik rusuk kedua belasnya. Sudah 1000 bulan, sudah 1000 kecamatan dilaluinya. Sejujurnya Kacepe ingin sekali mengubah 1000 kecamatan menjadi 1000 kota, 1000 negara, atau 1000 dunia agar kalimat itu menjadi sangat hiperbolik dan merasuk ke dada pendengar hingga membuat banyak orang terenyuh atas kisah hidup Kacepe. Tapi nyatany Kacepe hanya ngubek-ubek daerah-daerah sekitaran kecamatan. Kacepe tidak pernah keluar kecamatannya, paling jauh meloncat ke kecamatan sebelah.

Tahun ini Kacepe memasuki usia ke-45, sudah tidak bisa dimasukkan jomblowan muda tapi Kacepe nyatanya masih bujang belum kawin. Kepala Kacepe ditinggal pergi rambut dan wajahnya mulai keriput sayu ditubruk ketuaan. Hanya bila Kacepe bersuara, lantangnya luar biasa. Mungkin hanya suara Kacepe yang tidak pernah menjadi senja. Bila tertawa, bayi-bayi akan terkaget lantas menangis saking Kacepe meringkik bila tertawa.

Bila dicermati, wajah Kacepe tidak buruk-buruk amat. Bahkan banyak yang lebih jelek, lebih Anoman, lebih picak, lebih menakutkan justru sudah berkeluarga beranak-pinak. Memang wajahnya tidak setampan kebanyakan orang, tapi tetap tidak menjijikkan bila dipandang. Tidak punya menderita tunadaksa. Sepemandangan, semua anggota tubuh lengkap kecuali bagian-bagian yang memang Kacepe selalu tertutup pakaian. Maka dari segi fisik, Kacepe tidak memiliki prasyarat untuk dikucilkan dari pergaulan dan pandangan wanita.

Kekayaan? Justru ini yang membuat banyak orang terheran-heran. Saban hari, Kacepe ke pasar kecamatan naik motor matic keluaran terbaru. Hasil kerja kerasnya sebagai pedagang jamu tradisional di pojokan pasar. Kiosnya tidak seberapa luas, tapi pelanggan menjejali kursi bahkan meluber hingga luaran kios. Berkat itu pula, Kacepe berhasil menyekolahkan hingga bangku kuliah adik lelaki satu-satunya, Herucokro. Jadi, Kacepe tidak miskin-miskin amat untuk tidak diminati para perempuan.

Cinta pertama Kacepe adalah Denayu, temana sekolahnya dulu yang memang sudah disukai sejak pertama kali mengenal rasa cinta. Kacepe saban hari mengantar-jemput Denayu yang kala itu masih kuliah di akademi keperawatan. Waktu itu Kacepe sudah mulai merintis usaha jamu tradisional. Kacepe yakin Denayu adalah perempuan satu-satunya yang ditakdirkan untuknya. Perempuan yang menyimpan rusuk kedua belas yang dipatahkan Tuhan dari dada Kacepe. Hingga kelak Kacepe akan menikahinya, memiliki keturunan dari rahimnya, hidup bahagia bak dongeng-dongeng pengantar tidur anak-anak.

Tetapi, suatu siang saat pulang dari kampus Denayu menggandeng seorang lelaki yang sama-sama memakai seragam putih perawat. Mereka berdua turun dari bus umum. Dan Kacepe yang sudah bersiap menjemput Denayu seperti biasa di bawah pohon sawo kecik dekat lincak tukang ojek, mendadak dadanya runtuh. Lebur oleh perasaan kecewa.

“Catra, ini Mas Kacepe. Mas Kacepe ini pacar Denayu, namanya Catra.” Denayu mengenalkan sekaligus menebar jarum di dada Kacepe. Kacepe mau tidak mau harus melengkungkan senyum. Memaniskan suasana agar Denayu tak terlampau tahu. Kacepe meraih tangan Catra, dan dalam pikirannya andai bisa ingin Kacepe gigit leher hingga lelaki muda bernama Catra itu hingga putus urat lehernya.

“Catra, Mas Kacepe ini temenku sekolahku. Dia baik sekali. Dan sudah kuanggap sebagai kakak sendiri. Mas Kacepe inilah yang menjemputku saban hari aku pulang dari kampus.”

Betapa sedihnya kebaikannya selama ini hanya senilai kebaikan seorang kakak kepada adik. Padahal Kacepe ingin dianggap sebagai kekasih. Catra manggut-manggut menikmati perkenalann sambil terus melingkarkan tangan di pinggang Denayu. Dada Kacepe bergemuruh, mirip bedug yang ditabuh. Denayu meminta Kacepe memboncengkan Catra untuk pulang. Sedangkan Denayu memilih menggunakan ojeg, agar Catra dan Kacepe lebih akrab. Selama perjalanan Kacepe berpikir agar menjatuhkan saja Catra hingga Denayu hanya menjadi miliknya.

Setelah itu, tak sekalipun Kacepe menjemput kembali Denayu di pemberhentian bus. Kacepe juga berhasil mereka-reka alasan saat Denayu hendak mengajaknya keluar atau berkunjung. Denayu dinikahi Catra dan diboyong ke luar kota.

Berulang kali, Kacepe menjalin cinta. Namun selalu gagal. Dan perempuan terakhir yang didekati Kacepe adalah Hesti, janda yang suaminya mati gara-gara penyakit kelamin sifilis. Tak ada yang mau mendekatinya, karena percaya Hesti juga tertular penyakit menjijikan itu. Tapi Kacepe justru mendekatinya dengan kepercayaan diri bakalan diterima Hesti. Nyatanya tidak. Hesti menampik saat Kacepe ingin melamar dengan alasan bahwa laki-laki membujang selama Kacepe sudah bisa dipastikan suka jajan di pelacuran. “Aku ditinggal mati suamiku karena sifilis, dan aku tidak mau terjerembab ke lubang sama sebanyak dua kali.” Kacepe pulang menekuk muka. Hendak memberontak Tuhan, tapi tidak punya kuasa.

“Mati saja aku!” Kacepe menghentak-hentakkan dadanya suatu siang. Herucokro berkunjung sambil membawa balita keduanya yang sudah bisa lari-lari.

“Nggak usah bilang begitu. Manusia diciptakan berpasangan. Mungkin belum ditampakkan saja,” adiknya mencoba menyiram ketenangan di dada Kacepe. Tapi niat baik itu kadang ditanggapi Kacepe sinis sebagai sindiran.

“Mungkin aku dijodohkan dengan kesepian binti kesendirian,” tukas Kacepe.

“Mana ada jodoh manusia seperti itu.”

“Atau mungkin jodohku bukan dari golongan perempuan. Mungkin laki-laki, binatang, atau hantu.”

Keponakan Kacepe berteriak karena ompol membasahi celana dan meluncur hingga kaki mungilnya. Herucokro beranjak mendekati anak dan meninggalkan Kacepe yang mulai dirayapi keraguan. Sepertinya keberadaan Herucokro yang saban hari datang mengadem-adem dadanya, semakin memperdalam palung di dada Kacepe.

Herucokro termasuk satu dari yang bertanggung jawab atas dirinya yang tidak lekas menemukan jodoh. Saat selesai kuliah, Herucokro mengutarakan niat untuk menikahi pacarnya yang sudah dikencani selama tiga tahun. Tentu Kacepe yang kala itu masih berusia 30 tahun tak seiya. Dilompati adik akan membuatnya semakin terpuruk. Kacepe tetap bersikukuh agar dia dahulu yang menikah, baru kemudian disusul Herucokro. Karena demikianlah hukumnya, yang lebih tua harus diutamakan.

Tapi Herucokro punya siasat lain. Enam bulan pasca niat menikah ditolak, Herucokro justru datang dengan paksaan agar lekas dinikahkan. Pacarnya hamil dua bulan. Semua panik. Entah itu benar atau sekadar cara bodoh agar lekas dinikahkan. Ikhlas tidak ikhlas, Kacepe harus merelakan dilompati adiknya menikah. Dan benar, menjadi kakak yang dilompati adiknya menikah membuatnya semakin terperosok dalam kebujangan yang mulai melapuk.

“Bagaimana kalau kuajak ke Mbah Saridin?” saran Herucokro. Kadang butuh cara jitu walau tidak masuk akal agar keinginan lekas terkabul.

Kacepe hanya mendesah. Napasnya keluar setengah, lantas beranjak masuk rumah. Sudah berulang kali Kacepe diajak ke orang-orang pintar, dukun, kiai, kuburan wingit, agar didekatkan jodoh. Bukan perempuan yang datang, tapi uang, berkio-kilo gula dan teh melayang. Tidak untung melainkan buntung.

“Mungkin sudah waktunya aku menyerah,” kata Kacepe dari dalam rumah.

“Mas,” Herucokro menjawab singkat. Rentetan kalimat gegas ditelannya. “Kalau Mas kesepian, masih ada aku, ada adik iparmu, ada ponakan-ponakanmu.”

“Ya,” sahut Kacepe singkat.

***

Bintang malam di malam-malam dingin ramadan, di sepuluh hari terakhir tampak begitu dekat dengan muka Kacepe. Mereka turun bersama malam yang hitamnya tak mau luntur. Kacepe membebat sarung semakin erat. Jaket didekap semakin kencang. Mulutnya menggigil. Remaja-remaja tanggung masih tergeletak tidur di dalam masjid. Beberapa mendengkur jatuh semakin dalam ke alam mimpi. Kacepe merasakan kelengangan masjid semakin lapang.

“Ini malam keberapa?” tanya Kacepe pada sunyi malam. Dia menekuk-nekuk jemari tangan menghitung. “Wah malam ganjil. Malam 23.” Kacepe memekik gembira.

Kacepe ingat di malam-malam ganjil seperti ini, doa-doa seolah tak berjarak dengan Tuhan. Hingga doa apa saja digaransi akan dikabulkan. Doa apalagi yang hendak dituntut Kacepe selain kemauan untuk memiliki jodoh meski usianya tidak lagi memungkinkan.

Kacepe gegas ke kamar mandi. Membuang hajat lantas mengambil air wudhu. Dingin air menyilet pori-pori. Dicoba tak dihiraukannya. Tapi mulutnya tak berhenti menggigil. Gigilnya benar-benar gigil, hingga dada Kacepe tak berhenti meretek.

Tak ada satu pun remaja masjid yang terbangun. Tugas mereka adalah membunyikan suara tilawah lewat speaker agar warga bangun. Meski mereka sering menghina Kacepe sebagai orang yang akan mati dalam keadaan membujang, Kacepe tetap menaruh bangga pada mereka. Kacepe bersejingkat agar lelap mereka tak terganggu. Kacepe menyiapkan diri agar siap sembahyang dan doa paling indah. Kacepe ingin doanya kali ini gegas dikabulkan.

Kacepe sembahyang malam penuh ketakziman. Gerakannya begitu perlahan. Meresapi setiap kalimat sembahyang. Kacepe ingat, ceramah tarawih tadi, doa di malam lailatul qadar adalah doa yang istijabah. Selalu terkabulkan. Kacepe ingin doa-doanya malam ini diterima Tuhan.

***

“Bangun-bangun! Empat puluh lima menit lagi imsyak.”

Mereka harus bangun menyetel suara tilawah dan membangunkan warga. Beberapa remaja masjid terbangun lantas molet, mengusap liur di bibir, mengucek-kucek mata, dan gegas bangun. Lantas mereka menyaksikan Kacepe yang begitu khusyuk di saf depan. Menengadahkan tangan. Kalau tidak salah, mereka mendengar isak tangis.

“Lihat!” seorang pemuda menudingkan telunjuk ke arah Kacepe. Diikuti tolehan yang lain.

“Siapa itu?” tanya yang lainnya.

“Kacepe!”

Dijawab dengan ber-ooo panjang.

“Baguslah. Siapa tahu ramadan kali ini dia terakhir berpuasa. Usianya kan sudah tidak lagi muda. Maut bisa menjemput kapan saja. Sudah wajar kalau dia berdoa lebih panjang.”

Suara malam menyahut mengiyakan. Mereka mengangguk. Kacepe tidak tuli dan mampu mendengar apa yang mereka omongkan.

“Kira-kira apa doa Kacepe di 10 malam terakhir ramadan ini?”

“Doa agar khusnul khotimah.”

“Doa agar kios jamunya semakin laris.”

“Doa agar mati tidak saat di kamar mandi.”

“Dan tentu doa agar lekas dipertemukan jodoh sebelum dijumpai malaikat pencabut nyawa.”

Suara tawa mereka merekah, membahana di tengah malam yang geligisnya tak bisa diajak kompromi.

Entah doa siapa yang akan dikabulkan Tuhan di malam 1000 bulan kali ini. Tapi doa Kacepe ialah begini: “Tuhan, aku sudah 45 tahun sendiri. Aku ikhlas kalau harus mati sebatang kara. Aku lahir sendirian, aku hidup sendirian, tapi aku tidak ingin di akhirat sendirian. Berikanlah aku bidadari surga paling perawan, menawan, dan tidak mata duitan.” Kacepe hendak mengakhiri doanya, tapi mendengar ada yang menertawakannya Kacepe menambah beberapa larik doa, “Tuhan, ajari mereka sopan santun. Beri mereka kesempatan merasakan hidup menjomblo hampir setengah abad. Beri mereka. Beri mereka. Agar mulut mereka bisa ditahan bila bicara.”

Geletar ramadan menerbangkan doa-doa ribuan orang di ribuan kecamatan ke hadapan Tuhan.(*)

Ramadan, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s