Cerpen

11 Atau 23

(Koran Merapi, 5 Juli 2015)
CJwlC94UEAEECkL

SETIAP RAMADAN, bulan yang seharusnya berlimpah kedamaian, di Soronini selalu timbul perbedaan. Antara masjid barat dan masjid timur seolah dua kompetitor yang mencoba saling mengalahkan. Ini persoalan jumlah rekaat dalam salat tarawih. Masjid barat memilih jumlah delapan rekaat tawarih dan tiga rekaat witir dengan bacaan perlahan tidak terburu-buru dan tenang. Maka kebanyakan jemaah yang datang adalah orang-orang tua yang encok dan linunya tidak bisa ditahan. Atau beberapa anak kecil yang memang menjadi santri masjid barat dan tentu tidak sebanyak jemaah anak-anak di masjid timur, yang sekaligus turut orang tuanya yang memang jemaah masjid barat.

Sebaliknya masjid timur memiliki jemaah yang tidak kalah banyak membludak. Kebanyakan memang anak-anak muda, tanggung, lulusan SMA, yang menyukai kecepatan rakaat masjid timur. 23 rekaat namun bisa tuntas lebih cepat dan mendahului masjid barat. Saat masjid timur sudah selesai dan speaker masjid mengudarakan gema tadarus, masjid barat masih menyisakan dua rekaat tarawih dan 3 rekaat terakhir witir.

“Perbanyaklah rekaat dalam salat malam. Karena setiap rekaat dilipat gandakan hingga 700 kali. Maka pilihan kita untuk memilih 23 rekaat adalah tepat. Bisa dipastikan jumlah pahala kita dalam sekali tarawih melebihi yang berjumlah sebelas,” demikian kata kiai masjid timur mengingatkan.

Tentu disambut gembira para anak muda. Mendapatkan pahala banyak sekaligus memiliki banyak waktu sisa untuk main, cakrukan di depan masjid, atau menghabiskan sisa-sisa makanan buka puasa.

Di sisi lain, tak lebih dari dua kilometer, masjid barat mengkhutbahkan hal lain.

“Salah satu ciri keabsahan ibadah salat adalah tumakninah. Berhenti sebentar agar badan merasakan lurusnya gerakan ibadah. Jangan sampai salat kok kayak larinya maling dikejar polisi. Biarkan tubuh merasakan setiap gerakan. Lurusnya rukuk. Berdirinya iktidal. Kening benar-benar merasakan bertemu dengan tanah. Dan tubuh benar-benar dialiri embusan iman ramadan. Bukan terburu-buru. Kalau terburu-buru pahalanya juga kilat alias sedikit.”

***

Namun perbedaan itu tidak berlangsung bagi dua sahabat sekolah dasar, Aqil dan Hauzan. Aqil tinggal di Soronini wilayah timur dan tentu berseragam dengan masjid timur. Salat tawarih lebih banyak dan lebih cepat. Sebaliknya Hauzan adalah putra salah seorang takmir masjid barat, dan mau tidak mau harus sabar bila tawarih. Meskipun jumlah rekaat lebih sedikit, sebelas, namun memakan waktu lebih lama. Karena memang keyakinan masjid barat lambat tidak apa-apa tapi benar-benar selamat. Selamat rekaatnya, selamat niatnya, hingga menggapai berkah ramadan.

“Semalam kamu lama sekali,” tanya Aqil di lapangan sekolahnya.

“Kamu harus tahu, tawarihku lama.”

Aqil manggut-manggut. Mereka duduk di ayunan sekolah. Sebentar lagi jam pulang. Namun tenggorokan mereka benar-benar kering, hingga mereka hanya duduk-duduk di ayunan di bawah tajuk pohon jambu air yang rimbun.

“Semalam petasan siapa yang meledak pertama kali,” tanya Hauzan. “Sampai-sampai aku kaget.”

Semalam Aqil dan anak-anak muda lainnya, usai tarawih berkumpul di lincak perempatan. Saling bertanding petasan siapa yang bersuara paling lantang. Begitulah anak-anak Soronini merayakan malam-malam ramadan. Sesekali ikut tadarus kalau benar-benar dipaksa atau sekadar memenuhi catatan buku ramadan. Selebihnya atau mayoritas mereka menghabiskan bertanding petasan. Aqil dan Hauzan yang berbeda waktu selesai tawarih pun sering berkumpul bersama. Tentu Aqil harus menunggu sedikit lebih lama karena Hauzan belum selesai sembahyang tawarih.

“Itu punya Damai. Kemarin dia yang menang.”

“Memang petasan Damai yang paling bikin telinga pecah.”

Mereka berayun-ayun. Mereka masih terlampau kecil untuk memahami bahaya petasan. Sama tidak mengertinya mengapa waktu selesai tawarih mereka berbeda.

“Nanti malam kamu harus datang cepat. Kalau tidak petasanmu bisa kalah tanding lagi,” saran Aqil.

“Ya, aku sendiri pengen cepat-cepat keluar masjid. Tapi bagaimana lagi. Ayahku akan melotot kalau belum selesai witir aku sudaha ngacir pergi.”

Aqil mendesah. Pikirannya berputar-putar.

“Benar juga.”

“Atau kalau nggak minta saja agar jemaahnya salat delapan rekaat dan pelan-pelan seperti kami di masjid barat,” Hauzan sekarang berani bersuara.

“Betul itu. Kalau kamu tidak bisa keluar cepat, sebaiknya masjid timur diperlama saja.”

Mereka tersenyum. Dalam pikiran mereka sudah terbayang nanti malam mereka akan bermain atau lebih tepatnya berlomba main petasan bersama-sama di lincak. Tidak ada yang bisa mengalahkan kegembiraan saat bersama teman. Petasan meledak, suara girang memuncak, dan mereka merasakan keseruan ramadan yang tidak bisa ditemukan di hari-hari biasa lainnya. Mereka berjanji sepulang sekolah mereka akan berbicara ke orang tua masing-masing. Berharap agar ada kesamaan waktu selesai tawarih antara masjid barat dan timur, hingga Aqil dan Hauzan bisa bermain dalam waktu bersamaan.

***

Ayah Hauzan duduk membaca kitab di dekat jendela. Kacamatanya hampir melorot. Kaki sebelah kanan ditumpangkan di kaki sebelah kiri. Matanya khusyuk hampir diliputi kantuk.

“Ayah,” kata Hauzan sedikit takut.

“Tumben tidak tidur siang,” jawab Ayah Hauzan sambil menutup kitab.

Hauzan menggeleng. Lantas duduk di kursi samping Ayah. Kaki Hauzan belum menyentuh lantai.

“Hauzan ingin tanya sesuatu,” Hauzan memberanikan diri.

“Apa?”

“Mengapa rekaat tawarih kita sebelas? Namun lebih lama selesainya dibanding masjidnya Aqil.”

Ayah Hauzan tersenyum. Tangannya mengelus rambut Hauzan yang mulai merah karena terbakar matahari.

“Tidak apa-apa. Setiap tempat punya pilihan masing-masing.”

“Tapi aku dan Aqil ingin main petasan bersama.”

“Ya diundur saja dulu. Nunggu Hauzan selesai tarawih.”

“Tidak bisa.”

“Atau main selain petasan saja,” usul Ayah Hauzan.

“Bukan ramadan kalau tidak main petasan, Ayah,” Hauzan merengek. Sudah terbayang di kepalanya usahanya akan gagal.

“Tapi bisa tidak dipercepat?”

“Hauzan, kamu masih kecil. Belajar saja, nanti kamu pasti akan paham dengan sendirinya.”

Hauzan beranjak pergi meninggalkan Ayah Hauzan yang kembali bergumul dengan kitab di depan jendela. Angin sepoi siang hari mulai menggoda mata, menumbuhkan kantuk. Namun Ayah Hauzan tidak terpengaruh.

***

Sebalinya, Ayah Aqil justru berang atas usul anaknya. Bagaimana mungkin anak kecil yang masih belum tahu apa-apa mengusulkan macam-macam soal peribadatan. Aqil hanya menekuk wajah tak berani menatapp ayahnya.

“Tidak usah neko-neko. Lebih cepat lebih baik.”

“Tapi Aqil tidak bisa bermain bareng sama Hauzan.”

“Tunggu saja sampai masjid barat selesai tarawih.”

Buntu. Usaha Aqil juga tak berujung solusi. Aqil hanya ingin agar Hauzan bisa bersama-sama main petasan. Aqil tidak menunggu lama menyulut petasan. Dan Hauzan tak ketinggalan karena yang lain sudah rampung meledakkan petasan.

***

Menjelang tarawih di masjid barat, tidak ada tanda-tanda akan perubahan jumlah rekaat atau kecepatan salat. Imam masih sama seperti kemarin, bacaan juga bernada sama. Hauzan mengembuskan napas kekecewaan.

***

Lama sekali imam masjid timur belum datang. Salawatan sudah cukup lama. Hingga lima belas menit kemudian, imam itu terhuyung-huyung mendekati mihrab imam. Aqil sedikit takjub. Mengapa lelaki tua yang sudah mulai tidak jelas mengucapkan ‘r’ itu berjalan sedemikian payah? Aqil hanya membatin semua pertanyaan.

Usai sembahyang isya, imam itu berbalik dan memberi beberapa patah kalimat.

“Mohon maaf, adakah yang bisa menggantikan imam malam ini?”

Tak ada sahutan. Semua orang di masjid timur yakin bahwa selama imam itu masih hidup, tak boleh ada yang menggantikan. Hingga semua tetap menyerahkan kuasa imam kepada lelaki tua itu.

“Baiklah. Malam ini kita akan salat tarawih dan witir sebelas rekaat. Ada bisul nanah di selangkanganku. Makanya kita pilih yang pendek dan perlahan saja. Gerakan tubuhku malam ini tidak bisa trengginas. Tidak masalah ya? Karena Allah pasti mafhum kalau kita dalam keadaan darurat. Semoga sebelas rekaat kita dinilai sama banyak dengan dua puluh tiga rekaat seperti yang biasa kita laksanakan.”

Suara amin menggema. Disambung suara gerutu anak-anak muda yang lebih menyukai salat dilaksanakan secepat mungkin. Di kepala Aqil tumbuh kegembiraan lain. Mungkin malam ini dia dan Hauzan akan beramin petasan tanpa harus ada yang menunggu.(*)

Advertisements

4 thoughts on “11 Atau 23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s