Resensi

Narasi Kehidupan Manusia Belitong

(Jawa Pos, 14 Juni 2015)

SETELAH vakum lama dan membuat banyak penggemarnya penasaran, Andrea Hirata kembali menggegerkan dunia perbukuan dengan novel Ayah, yang kabarnya sudah naik cetakan kedua sembilan jam pasca diluncurkan. Sang Laskar Pelangi kembali membuat fenomena baru dengan novel kesembilannya ini.

Latar di novel Ayah ini masih menggunakan Belitong, lebih khusus Desa Belantik dengan budaya Melayu yang sangat kental. Daerah kelahiran Andrea Hirata. Mengisahkan Sabari, bersama anaknya Amiru yang dipanggil Zorro, serta mantan istrinya Marlena. Kisah cinta Sabari terhadap Marlena menuntut kesabaran ekstra. Saat Sabari berusaha mendapatkan Marlena penuh perjuangan dan saat sudah menikah Sabari juga harus ikhlas dituntut cerai oleh Marlena. Usai berpisah itulah, Sabari menjadi berbeda linglung dan menjadi sedikit gila. Atas rasa persahabatan, Ukun dan Tamat, kawan sekolahnya dahulu, rela menerjang daratan Sumatera dari Aceh hingga Tulang Bawang Lampung mencari keberadaan Marlena dan Zorro anak Sabari.

Novel sebagai hasil kerja kebudayaan tidak bisa lepas dari latar sosial dan geografis penulis. Andrea Hirata sebagai orang Belitong asli begitu mahir menuliskan bagaimana psikologis orang Belitong asli. Hingga novel Ayah tersaji begitu natural dan nyata.  Dalam novel ini Andrea Hirata tidak hanya sedang menuliskan lika-liku kisah rumah tangga Sabari. Namun, Andrea Hirata juga berusaha menarasikan bagaimana kehidupan orang Belitong dengan aneka problematika dan ciri khasnya yang berbeda dengan entitas suku lain di negeri ini.

Tokoh sentra novel ini, Sabari dan Zorro menjadi penanda penting tentang sistem patrilineal yang dianut kebanyakan suku Melayu. Ayah menjadi pondasi utama dan anak terutama lelaki adalah mutiara yang kelak melanjutkan martabat keluarga. Ayah digambarkan Andrea Hirata sebagai guru pertama yang mengajarkan falsafah kehidupan, mengajarkan bahasa, hingga mengajari memaknai puisi, seperti saat Sabari menuntut Zorro kecil dengan nyanyian awan.

Dalam novel ini, tergambar dengan jelas bagaimana orang Belitong memiliki budaya tutur lisan kuat dan mendarah daging sejak lama. Sabari dikisahkan sebagai orang yang menyukai puisi, mahir mendongeng kepada Zorro, dan pandai bercakap-cakap. Hal lain yang menguatkan fakta ini adalah kesan dari sang narator yakni penulisnya sendiri. Dalam seutuh novel ini, Andrea Hirata begitu riuh dan lentur berbahasa. Bahasa Andrea Hirata yang ringan dan enak dibaca. Budaya lisan yang mengakar ini bisa jadi komplemen terhadap hobi mereka minum kopi berlama-lama.

Keagungan budaya lisan ini juga tercermin dari beberapa kosakata khas Belitong. Misalkan, gelaning (bersih, rapi), hademat (menggelegar), ngayau (jalan-jalan), ketumbi (tertinggal jauh di belakang). Lebih dari itu, Andrea Hirata juga mencoba mendedah bahwa manusia Belitong melek lagu, melek huruf, melek sastra, hingga melek puisi. Puisi adalah salah satu temuan manusia yang paling indah(hal.62).

Sebagai pengencer lain, Andrea Hirata menyusupkan guyonan-guyonan khas Melayu. Misalkan saat Markoni menangkap peluang usaha percetakan buku anak-anak sekolah, justru yang dipikirkan adalah Hasil penjualan itu langsung dipakainya untuk memulai usaha baru: percetakan batako (hal.21).

Atau guyonan bernada sindiran atas sistim pendidikan yang kurang memadai di Belitong pada masa itu. Bu Norma, guru SMA Sabari, dengan begitu percaya mengatakan bahwa 100 adalah 30 persen dari 400. Apa susahnya untuk tahu Lee Kuan Yew adalah Presiden Filipina? (hal.50) yang sebenarnnya sedang menyindir parahnya sistim pendidikan. Di tempat lain, Andrea Hirata juga mengupas bagaimana pendidikan hanya dinilai dari sederet angka, merah atau tidak.

Sekali layar terkembang, pantang pulang atau berbalik haluan. Peribahasa itu juga menjadi tulang belakang dari orang-orang Belitong. Bagaimana Sabari berjuang mendapatkan cinta Marlena, rela mengikuti semua kesenangan Marlena, berkali-kali ditolak dan dihina karena wajahnnya mirip tupai, tak menggoyahkan Sabari untuk mendapatkan Marlena. Bahkan saat Ukun dan Tamat mencari Marlena dan Zorro di daratan Sumatera, berat dan parah namun tak mengurangi semangat perjuangannya.

Andrea Hirata adalah fenomena. Kehadiran Laskar Pelangi yang mewabah turut membuat Belitong, daerah yang sebelumnya tidak dilirik orang, mendadak dikenal publik Indonesia hingga dunia. Terlebih saat Andrea Hirata diundang dalam berbagai forum literasi internasional dan kehadiran Museum Kata menambah popularitas Belitong. Novel Ayah ini mengabarkan Belitong tidak seindah Laskar Pelangi yang mewartakan panorama alam Belitong. Novel Ayah lebih mengisahkan kondisi sosial dan psikologi manusia Belitong. Membaca Ayah ini seperti sedang mendengarkan paparan bagaimana manusia Belitong berinteraksi.

Meski beberapa bagian Andrea Hirata menyajikan dengan begitu hiperbola, komposisi Ayah tetaplah komplit dengan aneka tekanan di dalamnya. Ada rasa humor, narasi menarik dengan bahasa lentur, sindiran halus, kemudian ada aroma penumbuh semangat, seperti semangat orang-orang Belitong. Sauh telah diangkat, layar telah terkembang, ayam jantan telah berkokok, ayam betina telah berkotek, bintang telah bersinar, bulan juga, takkanlah kiranya kami putar haluan. (hal.320)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s