Cerpen

Tokek Semar

(Suara Karya, 6 Juni 2015)
Sebenarnya ini adalah versi kedua dari satu inspirasi yang sama.

sumber gambar

KEDATANGANNYA seperti angin yang tiba-tiba terasa embusannya tanpa kuketahui arah dia bermula. Malam itu, aku sedang menonton bola sendirian di ruang depan, tiba-tiba suaranya memekakkan telinga. Suara tokek berselang-seling dan nyaring. Tekek…tekek….tekek….

Paginya suara tokek kembali nyaring. Kusangka tokek itu sekadar mampir. Dan semenjak itu tokek menjadi salah satu penghuni baru rumahku. Tokek tersebut bersuara tanpa pernah bisa diterka kapan. Kadang pagi hari usai subuh, dan lebih sering menjelang tengah malam.

“Itu tokek kerasan di rumah kita, ya Mas,” kata istriku bercanda di suatu senja.

“Mungkin dia tahu rumah kita belum ada suara bocah. Jadinya suara tokek sebagai gantinya,” aku mencubit pinggang istriku. Di setiap ketidaksempurnaan butuh hal-hal lucu untuk menguatkan. Sudah putus asa kami melakukan usaha medis hingga alternatif untuk mendatangkan anak. Kata dokter sperma dan kandungan istriku baik-baik saja. Normal. Tapi selalu saja ada hal yang menyebabkan janin  tidak kuat tinggal di dinding rahim istriku. Sepuluh tahun. Hingga kadang kami lupa bahwa kewajiban seorang suami istri adalah menghadirkan seorang anak penerus keturunan dan pewaris kekayaan.

“Mas, iya ya! Jangan-jangan tokek itu hadiah dari Tuhan karena kita belum punya anak,” istriku menuangkan kopi ke dalam cangkir. Lalu duduk di sampingku, menatap semburat oranye di ufuk barat, sambil bencengkerama. Meski tak memiliki anak, bukan berarti kami harus terus-terusan terdiam meratapi nasib. Lebih-lebih aku dan istriku sudah berkomitmen untuk menganggap anak adalah rejeki, kalau memang belum waktunya bukan berarti tidak akan datang.

“Katanya suara tokek itu perlambang kedatangan rejeki,” aku menyeletuk. Karena memang demikian yang orang Jawa meyakini, bila seekor tokek bersuara nyaring di rumah kita apalagi durasinya panjang maka bisa dipastikan rejeki si empu rumah akan lancar dan melimpah. Rejeki yang kami dambakan adalah hadirnya seorang anak.

“Amin,” istriku gegas menimpali.

Semakin hari suara tokek semakin meriuhkan rumah. Sepertinya seekor tokek yang pertama kali datang dulu kini sudah beranak-pinak atau mendatangkan tokek lain, membuat koloni, atau bahkan sebuah kerajaan tokek. Aku tidak mempermasalahkannya, asal bukan tikus yang membuat koloni. Koloni tokek mengusir kesepian di rumah dengan sesautan bunyi. Sebaliknya, koloni tikus mencuri persediaan makanan, meninggalkan kotoran dan kencing di mana-mana, hingga membawa penyakit pes. Karena sifat sejati tikus adalah pencuri dan kotor bibit penyakit.

Suara tokek makin beragam. Ada yang cekak. Ada yang dilandungkan macam penyanyi dangdut. Ada yang berbunyi lama sekali. Ada yang bunyinya menggema, mungkin karena tokek ini bersembunyi di pipa air atau di atas plafon di sudut rumah.

“Suara tokek saja nyaring ya,” seruku.

“Seperti pakai echo,” sahut istriku.

Kami lantas tertawa bersamaan.

Beberapa kali pernah pemburu tokek mendatangi rumah dan hendak menangkap seekor tokek. Katanya harga seekor tokek bisa mencapai jutaan. Tapi setiap kali digeledah di rumah, kolong, dan plafon, tokek-tokek itu berhasil menyembunyikan diri. Membuat pemburu tokek itu putus asa. Sejenak setelah pemburu pergi, tokek kembali berbunyi seolah mendendangkan kemenangan karena berhasil mengelabuhi si pemburu tokek.

“Andai seekor saja ditangkap, bisa kubelikan kalung,” kata istriku.

“Kamu ini apa-apaan sih?” aku kurang sependapat.

“Kan mereka sudah tinggal di rumah kita. Kalau seekor ditangkap rasanya tidak masalah.”

“Kita tidak pernah menangkar mereka. Jadi kita tidak punya hak untuk menjual mereka,” aku mencoba mengingatkan istriku. Manusia kadang lupa bahwa makhluk lain tetap punya kebebasan hidup dan tidak boleh asal tangkap lantas dimakan atau dijual. Mereka punya hak untuk memilih hidup. Termasuk memilih rumah kami sebagai sarang koloni mereka.

“Ah, mas ini siapa tahu ini pertanda tokek sebagai kedatangan rejeki kita,” istriku kembali melemparkan dalih pembenaran.

“Rejeki diatur sama Tuhan, bukan suara tokek,” aku mulai bersuara dengan nada tinggi.

Hampir kami beradu pendapat, sebelum seekor tokek berbunyi paling nyaring. Seolah-olah kami diingatkan untuk jangan beradu mulut. Tokek saja bergantian saat berbunyi, apalagi manusia yang seharusnya bisa lebih bijak dalam mempergunakan kepintaran dalam otaknya.

***

Kami tetap tidak menganggap tokek sebagai hewan buas, meski juga bukan hewan jinak. Tidak menggigit, juga tidak mudah dielus-elus. Meski bentuk dan wujud mukanya menyeramkan, kami tetap menganggapnya sebagai teman.

Tokek itu mendatangkan rejeki setelah hampir lima bulan meramaikan rumah. Teman kami seorang pelukis, tiba-tiba menelepon dan mengabarkan sudah mengirimkan sebuah lukisan. Katanya sebagai kado ulang tahun pernikahan kami kesepuluh yang dia lewatkan. Kami tentu bahagia mendapatkan kiriman. Seminggu setelahnya, kiriman datang dibungkus kertas cokelat. Setelah dibuka, ternyata sebuah lukisan semar.

“Mas, ini dipasang di mana?” tanya istriku.

“Bagaimana kalau di pojok dekat rak buku, kayae cocok,” aku membawa palu dan sebuah paku.

“Benar. Jangan di ruang tamu, karena sudah ada lukisan kakbah.”

Jadilah lukisan semar pemberian teman itu tergantung indah di dekat rak buku.

***

“Mas ada seekor tokek di belakang lukisan Semar,” kata istriku.

Itu biasa. Tokek memang suka bersembunyi. Istriku khawatir melihat seekor tokek yang bersembunyi di belakang lukisan semar, yang katanya berwajah beda. Lebih seram dengan badan tubuh lebih besar bertotol merah.

“Mas, ini tokeknya beda,” istriku bersiap dengan gagang sapu dan sarung tangan untuk menangkap seekor tokek itu.

“Coba kulihat dulu,” aku beranjak menuju lukisan Semar. Kubuka perlahan dan mencoba mengintipnya.

Ada enam ekor tokek bersembunyi di belakang lukisan. Ketika lukisan terbuka, lima ekor lainnya berhamburan pergi. Sedang seekor yang terbesar justru terdiam. Matanya lurus menatapku, seolah saling menggertak menebar ancaman.

“Mungkin ini pemimpin koloni tokek di rumah kita,” aku mencoba menenangkan istriku.

“Apa tidak sebaiknya kita tangkap saja?”

“Buat apa? Dia nggak nyakitin kita kok,” aku menutup kembali lukisan Semar. “Mungkin Semar memberinya kenyamanan.” Kupandangi lukisan Semar yang gagah. Ternyata bukan hanya orang yang pecaya Semar mampu mendatangkan kedamaian, bahkan tokek pun merasa nyaman bila berlindung di belakang lukisan Semar yang lumayan besar dan berbingkai kayu jati tebal.

Ketika suara tokek terus menemani hari-hari kami, seekor tokek yang berlindung di belakang lukisan Semar itu tidak pernah sekali pun bertekek-tekek. Mungkin tokek yang satu itu sedang belajar ilmu kebijaksanaan di belakang lukisan Semar. Atau si tokek itu merasakan kenyamanan di belakang lukisan Semar hingga menjadikan tempat mangkal atau sebentuk kursi singgasana kekuasaan. Ketika diam-diam kuintip, tokek itu masih saja diam tak beranjak pergi ataupun merasa terusik.

“Atau kita pindahkan saja lukisan Semarnya?” tanya istriku.

“Nggak perlu, dia nyaman di sana,” aku menjawab seolah menjadi yang paling paham seluk beluk pertokekan.

***

Suatu sore, sepulang kerja, ada dua mobil sedan terparkir di halaman. Siapakah gerangan yang bertamu menjelang malam? Aku gegas masuk. Sesampainya di pintu, istriku menghambur ke tubuhku dengan wajah yang sumringah bahagia.

“Mas, kita dapat rejeki nomplok,” ujar istriku.

“Ada apa?”

“Tadi kutelepon hp-Mas tidak aktif. Jadi mereka harus menunggu keputusan dari Mas.”

“Aku nggak paham,” aku mulai bingung. Wajah delapan orang yang duduk di ruang tammu benar-benar tidak kuketahui.

“Mereka mau membeli tokek di belakang lukisan Semar kita, Mas.”

“Kan kita tidak pernah berniat menjualnya,” aku masih tidak berniat.

“Mas, kamu harus duduk dulu dan mendengarkan penjelasan mereka.”

Aku duduk dan mendengarkan penjelasan seseorang yang kusangka adalah seorang pemimpin rombongan.

“Pak, tokek di belakang lukisan Semar itu adalah jenis giant gicko. Dan andai bapak hendak menjualnya, kami berani menawarnya seharga 3 M.”

“Apa?! 3 M?”

Pikiranku terbang membayangkan berapa banyak uang 3 M itu. Mungkin ini rejeki dari Tuhan. Apakah seekor tokek yang membawa rejeki itu ke rumah? Atau lukisan Semar pemberian kawanku yang lebih mujarab mendatangkan rejeki sebanyak itu? Apa pun penyebabnya, kuizinkan rombongan itu menangkap seekor tokek di belakang lukisan Semar. Tokek itu diam dan manut saat ditangkap dan dimasukkan ke kandang dari kawat. Mungkin memang dia bersembunyi di belakang lukisan Semar untuk kami tangkap dan kami jual. Wajah kami berseri-seri. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s