Resensi

Menengok Problem Jakarta dari Masa ke Masa

(Koran Jakarta, 28 Mei 2015)

Resensi-Tiada Ojek di Paris-1

Jakarta, menurut Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah lepas dari inner city namun belum menjangkau global city, laiknya Tokyo, Seoul, London, maupun New York. Jakarta dimasukkan kelas postmodern cit yang masih menyisakan persoalan-persoalan sosial inner city sekaligus terbias aroma global city. Dalam postmodern city, entitas tradisional dan modern berjalan sejajar. Jakarta bak belantara gedung beton, lautan kendaran, dan pergerakan ekonomi super cepat. Namun di sisi lain, masih ada komunitas Betawi, budaya rural, dan aneka tradisi seperti mudik, bergunjing, ketupat.

Pembangunan fisik menyesakkan Jakarta. Juga membuat penduduk Jakarta materialistis. Semua dinilai atas kebendaan. Efek paling kentara adalah manusia Jakarta menghabiskan waktu di jalanan, khususnya di mobil. Waktu dalam kehidupan manusia Jakarta dibagi dua: di rumah dan di tempat kerja. Dalam praktiknya 24 jam dibagi menjadi tiga: waktu di rumah, di kantor, dan dalam perjalanan mobil, (hal.21)

Dalam esai Dasi vs. Sandal Jepit, SGA menyindir manusia Jakarta terlalu mengelukan orang berdasi. Sandal jepit dan dasi sama-sama produk kebudayaan. Dalam perkembangan sandal jepit hanya dipakai di kamar mandi. Dan agar tampak bak eksekutif seseorang harus mengikat dasi di leher. Kata SGA, bunuh diri bila seorang freelancer rapat dengan klien memakai sandal jepit.

Banyak manusia Jakarta dibentuk oleh pandangan umum. Fenomena dasi dan sandal jepit juga standar umum yang entah siapa penentunya. Termasuk menurut SGA adalah keberadaan kartu nama, yang kudu ada dalam perbincangan dengan pebisnis atau orang penting. Di Jakarta, kartu nama berarti: beri saya order. (hal.25)

Jakarta sebagai ibukota negara, disesaki orang asing, orang daerah dengan aneka kepentingan dan latar belakang budaya. Membuat Jakarta mau tidak mau harus sedikit menyesuaikan budaya pendatang. Termasuk manusia-manusia Jakarta yang selalu terpapar jenis produk kebudayaan baru. Manusia Jakarta menurut SGA terasa lebih ‘new-york’ daripada New York. Di esai Intelektual Starbucks, SGA gerah dengan kehadiran kedai kopi asli Amerika itu di kampus UI. SGA mengatakan perjuangan kampus terletak pada kegiatan intelektualitas. Ketika Starbucks mangkring di Kampus UI, SGA merasa perjuangan UI telah ber/ter-negosiasi, ber/ter-inkorporasi dengan/oleh wacana perjuangan Starbucks yang hanya mengutamakan kaum menengah ke atas dan mengusir kaum pas-pasan. (hal.66)

Budaya keinggris-inggrisan juga meresahkan SGA. Bila sudah mahir memakai bahasa londo sudah absah dianggap modern dan masa kini. Maka SGA mengkritisi mengapa penamaan sepak bola saja harus mencontek bagaimana orang  kulit putih menamai klub sepak bola. Gresik United, Real Mataram, atau Tangerang Wolves adalah wujud mimikri kulit putih yang gagal total. Menandakan ketidakberdayaan menerima budaya barat dan tidak ­pede memakai istilah Bahasa Indonesia.

Tidak semua yang berbau barat itu baik. SGA membandingkan Paris dan Jakarta, bahwa tidak ada ojek di Paris. Jelas ini menyusahkan saat harus menyibak kemacetan. Namun ini gaya ironi ala SGA. Memang tidak ada ojek di Paris, karena di sana tidak ditemukan kemacetan mengular dan tegas SGA homo jakartensis (manusia Jakarta) adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kerso jalan kaki. (hal. 189)

Di balik kemajuan dan pembangunan fisik Jakarta yang luar biasa, masih ada kelompok-kelompok yang menghuni kekumuhan, kemiskinan, dan kebodohan. Masih ada kemacetan, masih banyak pejalan kaki yang tidak mendapatkan hak zebra cross, atau premanisme, dan aneka kesenjangan budaya lainnya.

Esai-esai ini ditulis SGA semula adalah kolom di Majalah Djakarta! sejak tahun 2000. Persoalan-pesoalan Jakarta sepuluh tahun lalu masih dialami Jakarta. Jakarta belum selesai dengan urusannya sendiri sejak 10 tahun lalu. Kehadiran esai-esai ini menjadi tawaran lain untuk menikmati problematika dengan gaya nakal, bernas, dan tidak tendensius urusan politik. SGA menyelipkan poster, kemasan, slogan, dan selebaran jadul yang menambah unik saat pembaca persoalan Jakarta. Saat pikiran mulai lengang, mencuat pertanyaan kapankah Jakarta terbebas dari semua persoalan ini? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s