Cerpen

Pohon Pu Tao Tua

(Pikiran Rakyat, 3 Mei 2015)

"Lelaki yang Bercinta dengan Huruf" karya Alanwari Spasi
“Lelaki yang Bercinta dengan Huruf” karya Alanwari Spasi

DI HALAMAN RUMAH BONEO, sebatang pohon pu tao(1) tampak payah menopang tubuhnya yang semakin tua. Tinggi batangnya tak melebihi genteng rumah. Cecabangan menyeruak membuat tajuk mendompol, namun kering karena banyak daun rebah di tanah oleh kelelahan. Pohon pu tao itu berdiri sama tua dengan rumah si empunya. Hanya saja, rumah yang dulu berlantai tegel hitam dan berdinding papan kayu nangka kini sudah berubah dengan dinding keramik warna metalik dan dinding bata dan kaca. Sudah lama pula pohon pu tao tak pernah berbuah. Memang ketika musim berbuah datang akan tumbuh bunga dan bakal buah yang merimbuni tajuk daun. Tapi pohon pu tao terlalu lemah untuk mempertahankan sebiji buah pun. Walau pu tao berbuah lebat sekali pun, tidak akan ada yang berniat memakannya. Buah tua itu sudah disingkirkan dari meja makan. Buahnya masam tidak menimbulkan minat anak-anak.

Meski pohon pu tao itu sudah sedemikian tua, Boneo belum berniat menebangnya. Dia masih takut dengan nasihat Ibunya. Kata Harmunik, jangan sampai ditebang pohon pu tao itu sebelum Boneo menikah dan punya keluarga baru. Bagaimana pun pohon itu kenangan hidup atas almarhum ayah dan hari kelahiran Boneo. Ayahnya menanam pohon pu tao ketika tahu anak pertamanya adalah lelaki. Anak lelaki kelak membawa tanggung jawab untuk mikul dhuwur mendhem jero. Mengangkat derajat orang tuanya dan mewarisi nama keluarga.

Suasana suram di pekarangan rumah Boneo semakin kentara. Harmunik terus marah-marah. Akhir-akhir ini banyak hal-hal kecil yang mengusik kemarahan Harmunik. Seolah-olah segala sesuatunya tidak berada pada posisi semestinya dan membangkitkan emosi. Dedaunan pu tao yang luruh karena angin membuatnya mengomel. Suara anak-anak yang riuh sepulang sekolah membuatnya gerah. Semuanya dirasakan salah. Penyebabnya adalah Boneo yang belum juga menikah. Seperti pohon yang masuk musimnya tapi enggan menumbuhkan buah.

“Kamu ini kenapa, Boneo? Pekerjaan sudah mapan, harta juga sudah cukup, tapi masih belum juga mau menikah,” Harmunik berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Anak satu-satunya itu seperti menutup telinga dari semua omongan Harmunik dan para tetangga.

“Belum ada yang cocok,” Boneo menjawab santai. Meski menikah adalah hukum alam, tapi tidak mungkin bisa bila dipaksakan.

“Kemarin ditolak, dokter muda dirasa tidak cocok. Wis pegel hatiku,” Harmunik mengelus dada. Matanya sembab oleh air mata. “Boneo, lelaki itu wenang milih.”

Kesendirian Boneo sempat menimbulkan desas-desus bahwa Boneo adalah keturunan generasi kaum Luth yang ditenggelamkan hujan batu karena suka sesama jenis. Bagaimana mungkin seorang lelaki dengan perawakan kekar, wajahnya pun tidak terlalu buruk. Pendidikannya tinggi yang membawa Boneo pada posisi strategis di kantornya. Tapi terus melajang hingga kepala empat. Ada sesuatu di benak Boneo yang tidak beres.

Tetapi desas-desus ini terbantahkan ketika Boneo suatu kali pulang bersama seorang wanita dengan pipi kuning mentega. Para tetangga yang selalu tidak sabar bila melihat berita baru tersenyum bangga. Perjaka mapan yang tidak lekas kawin penanda dua hal, sakit jiwa atau tenggelam dalam kemaksiatan. Nyatanya hubungan dengan wanita berpipi mentega tidak lebih dari selembar almanak bulanan. Boneo kembali berjalan sendirian sambil mengulum senyum tanpa penyesalan.

“Ayahmu pasti menangis di kuburnya, Boneo!”

“Mengapa?”

“Keturunannya putus di kamu,” Harmunik terhenti sampai di sini. “Percuma ayahmu menanam pohon pu tao ini, penanda kebusukanmu.” Ada keputusasaan dalam nada bicara Harmunik.

“Apa tidak menikah itu tanda busuk, Bu?”

“Apa yang hendak kamu cari setelah semuanya kamu dapatkan? Pendidikan, pekerjaan? Apa tidak hendak kamu mencari pasangan?” pertanyaan Boneo dijawab dengan pertanyaan kembali.

“Belum ada yang cocok,” selalu itu yang dikatakan Boneo sebagai alasan penutup percakapan. Seolah aneka alasan yang lain akan dibantah Harmunik, kecuali yang satu ini. Boneo dengan kerutan yang mulai membayang di wajah tetap tersenyum dan melaju meninggalkan Harmunik.

Air mata kembali membasahi pipi Harmunik. Harmunik meronta seperti koak sepasang gagak yang mewartakan kematian bagi keturunan Boneo.

***

Harmunik mulai sering melamun. Mata sayu menatap dahan pu tao yang semakin sepuh. Kulit kayu mengelupas dierami sarang semut. Beberapa klarap(2) beranak-pinak di rongga pokok pu tao. Rasanya ada bagian di hatinya yang mulai keropos. Saban hari sindiran dan gunjingan tetangga seperti jarum kasur yang dilesatkan tepat di dada Harmunik.

“Silsilah keluarga itu seperti pohon terbalik, syajaratun! Seharusnya semakin ke bawah semakin rimbun. Banyak keturunan,” kata suami Harmunik, ketika menanam pu tao tepat di hari menanam ari-ari Boneo. Pohon pu tao adalah tanda keberlanjutan keturunan. Selama keturunannya masih hidup, pu tao harus tetap di jaga. Sebaliknya, selama pu tao masih berdiri tegak, selama itu pula keturunannya harus dilanjutkan.

Darah yang tumpah di dipan saat melahirkan Boneo tidak boleh sekejap menguap. Terlebih pernikahan Harmunik adalah pernikahan yang ditentang semua orang. Bagaimana mungkin Harmunik yang sekadar putri penjual serabi kuah minggah bale dengan menikahi lelaki bergaris biru di pembuluh nadinya. Meski tidak beroleh restu keluarga mertua, Harmunik menikah dengan konsekuensi tak diperkenankan memakai nama keluarga. Sudah dilepas menjadi sebatang pohon baru yang tidak ada kaitannya dengan dahan induk.

“Makanya aku pilih pu tao,” Harmunik mengingat perkataan suaminya. “Pu tao tidak berharga, tapi selalu ada buah yang memaniskan lidah.”

Dan semakin lama, pohon pu tao semakin tidak menunjukkan daya.

***

Angin kencang mematahkan dahan pohon pu tao. Dedaunan rontok di tanah. Halaman dipenuhi rerontokan daun dan cabang-cabang. Hingga selesai masa dhuha, Harmunik tidak berniat membersihkan yang berserakan di halaman. Boneo sedang dinas ke luar kota. Hanya ada Harmunik dengan emosi beriak laiknya segelas susu digoyang lindu.

***

Pohon pu tao semakin tua. Harmunik mulai tidak memedulikan pohon kebanggaan keluarganya itu. Pikirannya benar-benar kosong.

“Bu, kutebang saja ya pohon pu tao itu?” tanya Boneo selepas perjalanan dinas. Hanya tersisa dahan-dahan tua tanpa daun hijau segar. Semakin nestapa pohon pu tao tua itu.

Harmunik masih diam.

“Bu, Boneo janji tahun depan akan menikah. Hanya saja, Boneo belum menemukan calon yang sesuai.”

“Apa saja terserah kamu,” Harmunik tidak berselera menjawab.

“Sekarang Boneo mau menebang pohon pu tao tua itu,” Boneo gegas berdiri.

Boneo memanggul kapak di bahu dan mendekati pokok pu tao. Dengan beberapa tebas saja, pohon pu tao sudah rebah di tanah. Dengan kapak juga Boneo merampasi dahan-dahan. Kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian dengan ukuran sepadan. Lalu ditumpuk di tepian teras. Bisa dijadikan kayu bakar atau arang untuk bakar jagung, pikir Boneo. Boneo mengelap peluh di dahi dan bahu. Sebiji-biji nangka bulir keringatnya. Lalu masuk ke dalam rumah, ingin mendinginkan suhu badan.

Harmunik masih terdiam di kursinya. Sebingkai foto pernikahannya tergeletak di pangkuan. Matanya terpejam, mungkin begitu mengantuk. Cahaya matahari menerobos jendela dengan bebas, pohon pu tao yang biasa menghalau kini sudah tiada.

“Bu, sekarang rumah kita lebih cerah. Tidak ada penghalang sinar matahari lagi,” kata Boneo sambil meraih segelas air dingin.

“Bu, kemarin Boneo bertemu dengan Amhar. Kawan kuliah dulu, yang sama-sama belum punya pasangan. Besok Boneo kenalkan sama Ibu.” Senyum Boneo mengembang.

“Bu, kalau tidur di kamar,” kata Boneo. Boneo mendekati tubuh Harmunik yang sudah dingin. Pohon pu tao tua sudah ditebang, Harmunik tak lagi merisaukannya. Ketika terdengar suara berdebam, pokok pu tao tua membentur tanah, Harmunik menyebut-nyebut nama Allah. Mewiridkannya dengan suara begitu lemah.(*)

  1. Pu Tao adalah pohon dengan nama ilmiah Syzygium cumini, sering pula disebut duwet, juwet, atau jamblang.
  2. Klarap : sejenis kadal terbang dengan nama ilmiah Draco volans. Orang Sunda menyebutnya hap-hap. Dalam bahasa Inggris disebut gliding lizards atau flying dragon.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s