Resensi

Catatan Kritis Tentang Pyongyang

(SUARA MERDEKA, 28 April 2015)

KOREA UTARA atau Republik Demokratik Rakyat Korea menjadi bagian dari negara komunis ortodoks yang sangat tertutup dengan dunia luar. Tidak banyak orang berkesempatan mengorek apa yang sebenarnya terjadi di negara yang kini dipimpin Kim Jong Un tersebut. Akses informasi dibatasi, akses masuk negara pun tidak boleh sembarangan. Namun Seno Gumira Ajidarma mampu mewartakan apa yang ditangkapnya selama melakukan lawatan ke Pyongyang tahun 2002, melaluli buku Jejak Mata Pyongnyang ini.

Buku ini adalah gabungan dari fotografi dan catatan perjalanan besutan SGA, sastrawan yang mengudarakan slogan bila jurnalisme dibungkam, sastra bicara. Catatan dan fotografi ini didapatnya usai menghadiri undangan sebagai salah satu juri dalam The 8th Pyongyang Film Festival of Non-aligned and Other Developing Country, 4-13 September 2002. Selama sepuluh hari itulah SGA merekam apa yang selama ini selalu dirahasiakan dari dunia.

SGA mencatat banyak sekali keanehan yang ditemui di Pyongyang. Kesan yang diabadikan SGA melalui catatan bahwa Korea Utara sengaja diseting seragam, mengalami pecucian otak, dan sangat pencitraan ke dunia internasional.

Pemimpin pertama Korea Utara, Kim Il Sung, yang mendapatkan julukan Pemimpin Abadi mengatur segala sesuatu di Korea Utara menjadi seragam. Pakaian sehari-hari mereka hanyalah celana hitam, baju putih pendek bagi laki-laki panjang bagi perempuan, dan sepatu formal. Hanya tambahan jas bagi pegawai negara. Termasuk kesenian, tontonan televisi, bahkan SGA mencatat penamaan restoran hanya dengan angka. Restoran tidak bernama, tetapi bernomor, yakni Restoran No.1 dan Restoran No.2 (Hal.8)

Salah satu nilai yang diyakini Korea Utara dan ditanamkan Kim Il Sung yaitu Juche, bahwa manusia yang menentukan nasibnya sendiri. Nilai ini muncul saat Pedang Dunia II, saat Jepang mengivasi semenanjung Korea. Saat itu rakyat Korea tekun berdoa kepada Tuhan, namun penjajahan dan kekejaman Jepang tidak reda. Akibatnya nilai religius ditepis. Hingga tahun 2002, SGA mencatat masih ada 3% pemeluk buddhisme di Korea Utara (hal.17)

Kebencian terhadap Jepang oleh Korea Utara mendarah daging sebagaimana kebencian terhadap saudara serumpunnya, Korea Selatan. Namun SGA menemukan kelucuan dan hal wagu yang dilakukan orang-orang Korea Utara saat menyaksikan sebuah televisi merek Samsung, yang sudah pasti buatan Korea Selatan. Namun dengan lihai dan terlihat sangat aneh, penerjemah SGA mengatakan bahwa itu adalah hadiah dari saudara di Korea Selatan karena begitu cintanya dengan Kim Il Sung.

Pemerintah dan Negara benar-benar menjadi penguasa negara dan segala yang di dalamnya. Negara yang menguasai setiap inchi kehidupan manusia di dalamnya. (hal.119). Selain sebagai penguasa dan pengatur tunggal, negara berperan sebagai pencuci otak dan pencetak cara pandang kacamata kuda, yang membenarkan semua omongan Kim Il Sung. Bahkan memercayai bahwa orang asing adalah musuh yang harus dihindari.

SGA juga mencatat bahwa ada kesan pemerintahan Korea Utara mencoba mewartakan kepada dunia bahwa Korea Utara tidak sekejam dan sekaku pandangan dunia pada umumnya. Mereka adalah negara komunis yang berbeda. Namun sepertinya itu mentah di mata SGA, seorang wartawan sekaligus sastrawan. Salah satu kegagalan yang ditemukan SGA adalah banyak sekali aturan yang mengekang, intel yang terus mengawasi, makan harus diatur, dan yang paling mengejutkan saat SGA dilarang memotret penduduk Korea Utara. Dan satu kelucuan yang mencoba digemborkan Korea Utara adalah kemodernan. Saat di perpustakaan terbesar, penerjemah mengatakan kalau di Korea Utara sudah bisa menemukan buku kurang dari satu menit. Dan SGA mencoba. Memang buku yang dicari keluar kurang dari semenit, tapi bukan mesin atau robot yang melakukan. Manusia di balik dindinglah yang berlari-lari mencari.

Salah satu yang menarik lagi adalah SGA mencatat hubungan baik antara Indonesia dan Korea Utara, berkat kedekatan Soekarno dengan Kim Il Sung pada Orde Lama. Bahkan ada sebuah anggrek bernama anggrek Kim Il Sung, yang adalah hadiah dari Bung Karno. Bahkan salah satu film Arini (1987) begitu terkenal di rakyat Korea Utara.

SGA sadar posisinya sebagai orang luar. SGA tidak bisa berbuat melebihi menulis dan mengabarkan kepada pembaca apa-apa yang ditemukan di Korea Utara. Kebebasan dan kesejahteraan yang menjadi persoalan utama di sana, hanya bisa dipecahkan oleh rakyat Korea Utara sendiri. Sebagaimana nilai yang dipercayainya, juche. “Akan menjadi baik atau buruk bagi bangsa Korea di belahan utara, saya tidak berkedudukan yang memadai untuk melakukan penilaian akhir –segalanya kembali ke tangan bangsa Korea,” demikian kata SGA .(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s