Resensi

Bila Pengarang Sudah Mati

(JAWA POS, 26 April 2015)

PROFESOR BUDI DARMA pernah menyampaikan bahwa ketika seorang pengarang telah mati, tugas sebagai pengarang tidak dapat diambil alih orang lain. Profesi pengarang sangat bersifat soliter, tidak diwariskan, dan tidak bisa dicuri. Namun pada suatu masa, seorang tokoh cerita bernama Soekram mengambil alih profesi pengarang yang notabene adalah tuhan yang menciptakan Soekram dalam novel. Kisah tersebut dapat kita nikmati dalam tiga kisah Trilogi Soekram, karangan Sapardi Djoko Damono.

Sapardi Djoko Damono melalui buku ini seperti hendak bermain-main dengan klausa yang sudah kita mafhumi bersama, yaitu matinya seorang pengarang. Bahwa pengarang sudah tidak punya kuasa atas karyanya bila sudah dilempar ke publik. Pengarang dan hasil karangannya berada pada polaritas yang berbeda. Namun letak kejeniusan Sapardi di trilogi ini adalah, kematian di sini diartikan sebagai kematian secara harfiah. Bahwa pengarang novel yang didalamnya tokoh Soekram menjalin kisah, benar-benar sudah mati saat novelnnya belum selesai ditulis.

Menurut Sartre, salah satu ciri filsafat eksistensialisme adalah mengeyahkan segala macam bentuk determinasi kepada hal lain. Sapardi sedang mengajak kita untuk mengamini apa yang dikatakan Sartre. Bahwa manusia adalah makhluk bebas, bahkan dengan lantang mempertanyakan keberadaan tuhan. Tentu dengan gaya seorang penyair, yang mampu bilang begini maksudnya begitu, Sapardi memperalat Soekram untuk menyampaikan itu. Bila Soekram adalah tokoh rekaan, hasil ciptaan pengarang. Maka pengarang dalam buku ini bisa disebut dengan tuhan.

Tindakan Soekram memprotes pengarang, seolah mengatakan bahwa andai pengarang tidak ada, segala hal serba mungkin terjadi. Sartre menyampaikan hal yang sama dalam hubungan lebih luas, antara manusia dan tuhan. Bila Tuhan tidak ada maka segala hal serba mungkin.

Pecah Kongsi

Dalam nalar umum, seorang tokoh dalam cerita terikat dengan kehendak sang pengarang. Soekram tiba-tiba gerundelan karena penulisnya sudah tua dan sebentar lagi mati. Padahal dia sebagai tokoh novel, belum mengerti akhirnya akan bagaimana dan protes karena hubungan asmara antara Minuk istrinya, Ida kawan kuliahnya di Amerika, dan Rosa mahasiswanya yang keturunan Tionghoa.

Saya Soekram, tokoh cerita yang ditulis seorang yang meninggal seminggu lalu, meninggalkan saya belum selesai (hal.2). Demikian Soekram mengenalkan diri kepada dewan pembaca.

Sapardi membagi novel ini menjadi tiga, Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati. Dalam setiap bagian memiliki tekanan pada beberapa hal penting di negeri ini.

Bagian pertama mengisahkan Soekram sepulang belajar dari US. Soekram digambarkan sebagai dosen yang kurang memiliki sensitivitas pada kondisi sosial politik 98. Soekram bersikap dingin terhadap para mahasiswa yang turun berdemonstrasi. Soekram merasa kekuasaan hanya bisa diruntuhkan dengan kekerasan (hal.48), adalah tradisi buruk yang mendarah daging negeri ini.

Setidaknya ada dua praduga mengapa Soekram bersikap apolitis. Pertama karena pendidikan US telah mencuci pikiran dan mengentaskan tugas akademisi terhadap bangsa dan negara. Kedua, Soekram terjebak melodrama pribadi. Soekram menyimpan sekam asmara, hubungan dengan Ida, Rossa, dan tentu Minuk istrinya.

Bagian kedua, lebih mengisahkan Soekram muda yang menjadi saksi bisa terhadap kisruh tahun 60. Ketika Indonesia sedang bergejolak oleh ideologi Nasakom.

Eksperimen Penulis

Dalam novel ini kental dengan eksperimen Sapardi sebagai seorang sastrawan. Menghidupkan Soekram, tokoh novel yang kemudian keluar dari folder dalam komputer penulis adalah hal luar biasa. Bermain-main dengan eksistensi makhluk digital yang menabrak batas nalar pada umumnya.

Kesan eksperimentasi luar biasa juga tampak pada bagian ketiga dalam buku, Pengarang Tak Pernah Mati. Sapardi mengobrak-barik cerita lawas Sitti Nurbaya. Semar, Ken Arok, Datuk Maringgih, semua hidup dalam kuasa kepengarangan Sapardi. Sapardi juga membalikkan protagonis dan antagonis yang sudah jamak diketahui dalam novel Sitti Nurbaya. Yang seolah menyiratkan pengarang tak pernah mati dalam kreativitas dan berhak menulis cerita apa saja, bahkan yang paling jungkir balik sekali pun..

Dalam novel ini, Sapardi tetap memakai kepiawaiannya meracik kata dalam sajak. Banyak kalimat-kalimat indah, berima dalam novel ini. Yang membuat semakin manis dibaca. Meski tidak disebutkan sebagai novel autobiografis, ada beberapa bagian dalam novel yang memiliki kesamaan dengan kisah hidup Sapardi. Hingga pembaca bertanya apakah Sapardi adalah Soekram? Atau Sapardi menyimpan kisah Soekram yang lebih utuh? Kita tunggu.(*)

Identitas Buku  
Judul                    : TRILOGI SOEKRAM
Pengarang          : Sapardi Djoko Damono
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Edisi                     : Pertama, Maret 2015
Hal                        : vi+274 halaman
ISBN                     : 9786020314785

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s