Cerpen

Si Belang Menghilang

(Dimuat Tabloid Cempaka, saya memakai nama pena #ups)
si belang menghilang-ibnu thalhah
SI BELANG tiba-tiba saja menghilang dari rumah. Kepergian Si Belang baru kusadari malam hari, setelah mungkin seharian dia meninggalkan rumah kontrakanku berjalan-jalan tanpa tujuan jelas, atau mungkin Si Belang hendak pulang namun lupa jalan dan tersesat. Tiba-tiba ruangan tengah menjadi lebih lengang dan sepi. Suara meong manjanya -padahal Si Belang seekor kucing jantan- tak lagi terdengar di seantero rumah. Tak kutemui lagi bulu-bulunya yang rontok di sofa, di karpet depan televisi, dan di bantal kamar. Semua bersih dari bulu lembutnya yang tanggal. Tidak ada suara gedebukan Si Belang lari mengejar curut atau tikus di plafon atau gudang dekat mesin cuci.

Tiba-tiba rasa kesepian menyergapku lebih tajam, menghunjam lebih jahanam. Aku sudah terbiasa hidup sendirian dalam rumah kontrakan sejak bekerja di kota dan berpisah dari orang tua tujuh tahun lalu. Namun semuanya berubah setelah Si Belang berseliweran di rumahku. Kehadiran Si Belang belakangan membuat tidak benar-benar seperti angka satu, sendirian berkawan Tuhan dan Malaikat pencatat amal. Hilangnya Si Belang menjadikanku kehilangan teman yang bisa kuelus-elus saat dia mendusal-dusal di pangkuan. Selain membuatku punya teman lain di rumah, Si Belang juga berhasil mengusir curut-curut yang suka menggondol persediaan makananku.

Sore itu, aku pulang dari kantor menjelang gelap. Jalanan kota selalu bertumpuk kendaraan jikalau jam pulang kantor hingga malam. Kubuka pintu dan aroma sitrus yang kupasang sebagai pengharum ruangan menerpa lubang hidungku. Tumben Si Belang tidak berlari mengampiriku seperti biasa. Tapi seketika itu aku tidak berpikir kalau Si Belang menghilang. Dalam pikiranku, mungkin dia sedang lelap tidur sore di depan televisi atau di kardus parsel lebaran yang sengaja kusulap menjadi ranjang tidur Si Belang. Atau kalau tidak, mungkin Si Belang sedang berjalan-jalan keliling kompleks atau bertengger di atas genteng tetangga, seperti biasa. Beberapa minggu terakhir Si Belang memang sedang mengencani kucing milik tetangga. Meski aku kurang setuju, tapi apa boleh buat Si Belang bukanlah anakku yang bisa didikte.

Keletihan lantaran persoalan kantor menjeratku lebih erat dan membuatku lupa kehadiran Si Belang. Lelah dan mengantuk seperti dijatuhkan begitu saja ke badanku. Aku tertidur di sofa ruang tamu dengan setelan kantor, dasi masih melingkari leher, dan lupa mengunci pintu. Aku juga lupa Si Belang.

Menjelang pukul delapan, aku terbangun karena perut keroncongan minta diisi. Aku ke dapur, membuka kulkas dan mengecek sesuatu yang bisa kumakan. Saat aku merebus mi instan dengan menambahkan dua butir telur ayam dan beberapa lembar sawi untuk makan malam, aku teringat kalau Si Belang belum kukasih makan. Aku memanggil-manggilnya.

“Pus..pus…, Lang..Belang…, sambil menjentik-jentikkan jemari.

“Belang, Belang…!” sekali lagi dan terus kuulangi.

Aku melentik-lentikkan telunjuk dengan jari tengah sambil membawa makanan Si Belang dalam mangkok seperti biasa. Berulang kali kupanggil tapi Si Belang tak juga menampakkan diri atau mengeong manja. Aku menuju kardus tempat dia biasa tergeletak melepas lelah. Tidak ada. Aku menuju plafon, dia tidak sedang mengintai sarang curut. Kuulangi hingga tiga kali lagi, sebelum aku teringat akan mi instanku yang mungkin sudah terlalu lembek di atas panci.

***

Karibku yang pecinta sekaligus penangkar kucing peranakan menawarkan seekor anak kucing untuk kuadopsi.

“Kenapa harus diadopsikan? Kan kamu bisa menjualnya?” tanyaku waktu itu lewat telepon.

“Aku lebih ikhlas bila diadopsi daripada harus dijual masih bayi. Aku sudah terlalu banyak kucing di rumah.”

“Sebenarnya aku tidak ingin punya peliharaan. Lebih tepatnya belum pernah. Hewan peliharaan katanya bikin capek. Aku belum pernah memelihara kucing,” jawabku jujur saja.

“Dicoba dulu. Nanti kalau suka boleh dilanjut. Tapi kujamin pasti kamu menyukai anak kucing yang ini.”

Percakapan tanpa sengaja malam itu diakhiri dengan janjinya mengantar bayi kucing persia usia sebulan keesokan harinya. Lalu bertambahlah penghuni rumahku dengan seekor kucing belang tiga. Warna dasarnya putih, lalu ditambah bentol-bentol hitam dan sedikit cokelat. Dari warna belang itulah aku menamainya Si Belang. Bulunya lembut dan lebat. Meski indah, bulu panjang itu mudah sekali rontok. Aku yang semula tidak ingin memelihara kucing, tiba-tiba iba dan jatuh cinta pada wajahnya yang comel.

Aku ikuti semua saran temanku: memberinya vaksin, membawa ke salon untuk membersihkan kutu dua bulan sekali, dan memberi makanan bergizi. Si Belang membutuhkan perawatan khusus, tidak seperti kucing kampung. Melihat tubuh Si Belang yang ringkih dan lemah, terlebih sekecil itu harus dipisahkan dengan induknya, membuatku terenyuh dan tidak tegaan.

Si Belang tumbuh besar. Si Belang mulai bertingkah manja, seperti seorang anak kecil yang selalu minta keloni sebelum tidur. Menghampiriku di depan pintu saat aku pulang, layaknya perlakuan seorang istri kepada suaminya yang baru pulang kerja. Aku semakin sayang dan tidak mengacuhkan pada pengeluaran besar untuk memelihara Si Belang. Rasanya mendapatkan perhatian, meski dari seekor kucing belang, itu luar biasa.

Pagi hari, ketika aku membuka pintu rumah hendak menghentikan gerobak bubur ayam, Si Belang mengekor di belakang. Saat aku di rumah, Si Belang memang tidak mau pisah denganku. Aku mengetuk-ketuk mangkok dengan sendok sambil menunggu gerobak warna hijau tiba di depan rumah. Tiba-tiba Si Belang membuat gerakan terburu-buru. Lalu berlari menuju pojok teras. Si Belang berlarian. Aku terhenyak menyaksikan perubahan sikap Si Belang yang mendadak. Ternyata Si Belang berusaha mengejar seekor curut yang keluar dari tong sampah. Berulang kali curut kecil itu hampir bisa diterkam Si Belang. Tapi Si Belang masih muda dan minim pengalaman berburu tak mampu mengejar kegesitan si hewan pengerat menjijikan itu. Aku tertawa sendiri menyaksikan kegagalan Si Belang.

“Memang kamu bisa menangkapnya?” aku bertanya seolah Si Belang memahami semua perkataanku. Si Belang mengeong dan menatapku nanar. Kepalanya dimiringkan dan membuat lonceng kecil di lehernya berdenting nyaring.

“Hewan itu kotor. Kamu tidak boleh memakannya.” Melihat curut itu keluar dari bak sampah saja membuat perutku mual. “Nanti kuberi makanan yang bersih.” Si Belang kembali mengeong seolah mengiyakan usulku.

Si Belang memburu curut itu bukan hendak dimakan, tapi memuaskan nafsu kehewanannya. Kejadian pagi itu membuatku tersadar bahwa Si Belang tetaplah seekor kucing, hewan bertaring yang diciptakan sebagai predator. Naluri berburu Si Belang tidak akan hilang begitu saja, meski kusediakan segala kebutuhannya. Musuh utama Si Belang tetaplah tikus atau curut yang suka menggondol persediaan sosis atau menumpahkan sampah basah di dapur. Meski darah Si Belang campuran, dia tetap punya naluri hayawaniyah pada umumnya. Keyakinanku tersebut semakin bertambah ketika suatu sore, saat aku baru saja menempatkan sepatu di rak, Si Belang mendekatiku dengan seekor curut dalam cengkeraman mulutnya. Sepertinya Si Belang ingin menunjukkan bahwa kali ini dia berhasil memburu hewan pengerat yang suka berak di sembarang tempat itu.

“Kamu memburunya?” aku bertanya dan Si Belang selalu nanar ketika kuajak bicara. “Bagus. Tapi kamu tidak boleh memakannya. Kotor.” Si Belang menjawab dengan meong lalu memuntahkan bangkai curut. Upahnya kuberi makanan yang lebih sehat dan banyak.

Sejak itu, Si Belang terus mengejar tikus dan curut di rumahku meski tidak pernah sekalipun memakan hasil buruan. Hingga kini, rumahku bersih dari tikus dan curut. Bukan karena dimakan Si Belang, tapi mereka takut dibunuh Si Belang.

Seberapa ketat aku menjaga Si Belang, tetaplah kucing akan memburu curut dan tikus pencuri. Seyogyanya kelompok berseragam mengincar kaum berndal dan kriminal.

***

Malam ini aku membatalkan makan mi instan.

Aku ingin mencari keberadaan Si Belang. Meski seekor kucing, tetaplah dia kawanku berbagi dan membantu mengusir para curut dan tikus. Aku menggeledah penjuru rumah mencari Si Belang. Tetap tidak kutemukan Si Belang. Kutelisik hingga got depan rumah, rimbun kenikir di pekarangan dan kuteriaki namanya di jalanan kompleks yang mulai sepi. Si Belang tak juga menampakkan diri.

Aku kembali ke dalam rumah. Serta merta aku merasakan kehilangan yang memaha. Hanya seekor kucing. Tapi bersama sejak kecil, membuatku menganggapnya sebagai teman sejati. Kesedihan jatuh menjadi kantuk.

Aku tertidur di sofa dan lupa mengunci pintu. Dalam tidurku, aku melihat Si Belang pulang. Aku gembira. Tapi sesaat kemudian berubah menjadi nestapa, karena bersamanya juga datang kucing kampung betina yang bulunya kasar dan penuh kutu. Si Belang bernafsu dengan kucing jelek itu. Saat Si Belang berkelamin dengan kucing jorok itu, ribuan tikus dan curut menyerang. Si Belang terkepung dan meronta. Aku menyaksikannya dan tidak bisa apa-apa. Kesaktian Si Belang tiba-tiba lenyap oleh serangan dadakan para tikus yang hendak membalas dendam. Kucing mati menyisakan pertanyaan, mengapa para tikus bisa begitu kekal menyimpan dendam? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s