Cerpen

Suara Tokek

(Tribun Jabar, 19 April 2015)

-sumber gambar dari sini

SEMUA telah disumbangkan. Terakhir sekardus besar berisi pernak-pernik bersama sekantung baju Mandira kudonasikan ke panti asuhan. Buku-buku yang semula menumpuk di kamar Mandira kuserahkan perpustakaan. Benda-benda Mandira yang tersisa di rumah hanya akan membangkitkan kenangan akan dirinya, yang membuat suasana rumah semakin suram pasca kematiannya.

Seminggu lalu, Mandira kami kebumikan. Tentu bersama kesedihan dan genangan air mata yang seolah tidak kering terkuras. Kematian lebih dulu menghampiri di usianya yang baru delapan tahun. Mandira mendadak kehabisan napas pada saat pelajaran olahraga. Kami yang dikabari sesaat setelah Mandira diputuskan meninggal oleh dokter rumah sakit langsung syok. Seperti ada gada besar meluluhlantakkan perasaan. Lalita seketika pingsan. Aku terduduk lemas di kursi, mengelus dada, merapal doa, sambil mengingat pertemuan terakhir dengan Mandira saat kuantar ke sekolah.

Satu barang Mandira yang tidak boleh disumbangkan oleh Lalita, bahkan benda itu masih terpajang di atas televisi seperti posisi semula, sebuah lukisan tiga tangkai tulip dalam jambangan yang dibuat Mandira saat mengikuti lomba melukis. Lukisan itu tidak memenangkan perlombaan, tapi Lalita bersikeras membingkainya sebagai tanda kerja keras Mandira. Kata Lalita, biarlah lukisan itu tetap di rumah. Karena tidak ada yang mau menerima lukisan jelek. Andai disumbangkan, penerima hanya akan membuangnya atau tega merusak dan membakarnya.

“Hanya bapak ibunya yang menghargai lukisan amburadul Mandira,” kata Lalita dengan lelehan air mata kembali menggenang.

Jadilah lukisan Mandira tetap kami simpan. Meski kami sadar menyimpan kenangan masa lalu sama saja menyimpan sebuah belati yang siap kapan saja menikam hati. Tapi laiknya sebuah candu, makin menyiksa makin kami suka. Kenangan memang hal paling sulit untuk dihapuskan. Mungkin dia hanya mengerak di pojok pikiran dan ketika hujan datang bertubi-tubi, kenangan akan mengelupas dan kembali menghanyutkan.

***

Sore hari, aku bersantai di teras. Teh aroma vanila dan beberapa kerat bolu menemani. Aroma bubuk kayu manis di atas bolu menambah harum. Tiba-tiba Lalita menjerit kencang. Aku gegas menghampiri.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ada tokek mas!” Lalita menudingkan gagang sapu ke arah lukisan Mandira. Wajah Lalita kuyu, pasi karena ketakutan.

Kuraih gagang sapu dari tangan Lalita. Aku mendekati lukisan Mandira. Perlahan kusingkap lukisan. Terlihat seekor tokek cukup besar bersembunyi. Mata tokek bulat dan berkedip-kedip lurus menatapku. Seolah menantang duel. Lalita minta tokek itu ditangkap lalu dibuang. Kusingkap makin lebar untuk memudahkan menggebuknya. Namun gerakanku kalah cepat dengan polah tokek. Seketika tokek itu kabur ke plafon.

Lalita kembali menjerit. Khawatir tokek melompat ke wajahku dan mencakar atau menggigit sebagai bentuk perlawanan. Pun aku sempat kaget dan melonjak melihat gerakan tokek cepat dan seolah hendak menerkamku.

“Dia lari ke atas,” kututup kembali lukisan dan kubenarkan posisinya agar tidak miring dan sedap dipandang.

“Aku sedang mengelap lukisan, ujug-ujug ada suara tokek. Kaget,” Lalita tersenyum mengingat kekonyolannya. Aku membalasnya dengan cubitan kecil di pipinya. Ini adalah senyuman pertama Lalita usai kejadian paling menghantam perasaannya.

“Tokek itu mau mampir,” aku meletakkan sapu ke dekat pintu.

“Apa tokek itu tidak berbahaya, Mas?” tanya Lalita begitu polos.

“Setahuku, tokek tidak beracun. Wajahnya saja yang mengerikan,” kuseruput teh hangat. Kehangatan tiba-tiba menjalar ke dalam tubuhku, terlebih menyaksikan pasuryan (mimik muka) Lalita yang kembali cerah. Mandira akan tetap di hati kami, tetapi bukan untuk selamanya diratapi.

“Mandiralah yang berani memukul hewan-hewan begitu,” seekor tokek ternyata menarik Lalita ke dalam pusara kenangan.

“Dia sudah tenang di alamnya. Kita tidak perlu terus-terusan bersedih,” kuelus kepala Lalita. Rambutnya yang ikal kembang jagung halus di telapak tangan.

“Aku tidak sedih. Hanya saja, ingat Mandira yang seolah urat takutnya putus,” Lalita meraih gelasku dan diseruputnya.

Aku mengangguk membenarkan. Meski masih belia, tapi tidak ada yang ditakuti Mandira. Kalau Lalita akan menjerit bila melihat kecoak di lubang kloset, Mandira sebaliknya. Dia dengan tidak ada rasa jijik, memegang sungut kecoak dan melemparnya ke kawanan ayam di kadang belakang rumah. Dalam pikiran Mandira mungkin hewan menjengkelkan itu adalah sebutir kelereng yang bisa dimainkan. Lalita akan menjerit-jerit memerintahkan Mandira untuk lekas mencuci tangan dengan sabun.

Tekek…tekek…tekek…. Tokek itu bersuara lagi. Lalita menggenggam tanganku. Bunyi tokek itu seperti dendang kemenangannya karena berhasil lolos dari usahaku menangkap.

“Konon suara tokek mendatangkan rejeki,” candaku.

“Rejeki? Ngeri iya!” sergah Mandira. “Ditangkap saja atau diusir!”

Tapi bagaimana kutangkap kalau tokek lihai bersembunyi. Suaranya saja yang bisa kami terka. Sedangkan bisa jadi si tokek sedang meringkuk di atas plafon, sela-sela genteng, atau bahkan bersembunyi di dalam pipa air.

“Suaranya menggema seperti pakai echo!” aku melempar guyonan.

***

Semakin hari suara tokek makin menjengkelkan. Bergema tanpa bisa dikendalikan. Kadang saat pagi teduh usai subuh atau di sore romantis berhiasi siluet lembayung senja. Namun lebih sering suara tokek mengganggu tidur malam kami. Menggema dan seolah meneriakkan kesepian paling dalam. Kesunyian yang disampaikan tokek diterjemahkan Lalita sebagai sebentuk teror kematian.

“Kamu berlebihan, Lalita!” aku menampiknya.

“Katanya begitu di internet,” Lalita menghela napas. Meski usia tidak lagi muda, wajah Lalita tampak manis di antara kerut-kerut. Apalagi ditambah tingkah konyolnya.

Kadang terpikir tokek itu berusaha meramaikan rumah kami yang semenjak ditinggal Mandira menjelma sepi. Hanya ada aku dan Lalita. Tiap pagi kami sama-sama pergi kerja. Aku ke kantor, sedang Lalita mengajar di sekolah. Rumah sunyi tidak lagi ada suara-suara keributan seperti yang biasa dulu Mandira ciptakan.

“Atau sebaliknya? Tokek itu ingin meramaikan rumah kita,” aku membalik teori Lalita.

“Ha?” tanya Mandira kebingungan.

“Rumah ini sepi, jadi Tuhan memerintahkan tokek untuk meramaikan. Kan tokek hewan pembawa rejeki,” aku menguatkan argumen.

Mandira terdiam sebentar memikirkan logis atau tidak teoriku. “Bisa jadi, apalagi tokek itu muncul pasca kepergian Mandira dan bersembunyi di belakang lukisan Mandira.”

Aku mengangguk. Lantas kami terbahak bersama menertawakan kesimpulan paling konyol yang pernah kami buat. Kami yakin tidak ada pemberian Tuhan yang sia-sia. Kematian Mandira semula mengagetkan kami. Tapi semakin lama, kami sadar bahwa kematian itu hak prerogatif Tuhan. Mungkin demikian pula kehadiran tokek yang mendadak di rumah kami. Keyakinan orang Jawa bahwa tokek mendatangkan rejeki bisa terjadi di rumah kami. Suaranya yang bising, ramai, dan bergema sudah menjadi sumber keceriaan kami.

Apalagi tokek itu selalu kami saksikan bersembunyi di belakang lukisan Mandira. Padahal banyak tempat bersembunyi lain, tapi tokek itu merasa nyaman dan hangat di belakang lukisan Mandira tepat di atas televisi. Semakin kuatlah keyakinan kami.

“Sudah nggak takut lagi sama tokek?” tanyaku kepada Lalita sambil menggoda.

Lalita menjawabnya dengan cengengesan. Kami berpikir positif suara tokek sedang mencoba mengusir kesunyian kami.

***

Suatu siang di hari Minggu, seorang pemburu tokek mendatangi rumah kami. Katanya dia bisa menangkap tokek liar dan menghargainya cukup tinggi. Lalita menjawab sedikit bercanda, “Ada seekor di rumah. Tapi liar. Coba saja kalau bisa menangkapnya.” Lalita mengizinkannya karena yakin tidak ada yang bisa menangkap tokek itu. Tubuh tokek yang kecil, hingga mampu bergerak cepat dan bersembunyi di sela-sela sempit dan tidak terlihat. Lebih dari itu, kami mulai terbiasa dengan suara tokek dan tidak lagi merasakan kelengangan rumah.

Pemburu tokek akhirnya masuk. Dipersiapkannya sebuah jaring kecil. Tangannya dibungkus dengan sarung tangan. Muka ditutupi kerodong hitam. Mungkin demikian standar penangkapan seekor tokek liar. Meski tidak buas, tokek di rumah kami tetaplah hewan liar. Dia masih punya tangan yang bisa mencakar, punya rahang yang cukup membuat kulit robek.

“Biasanya tokek itu bersembunyi di belakang lukisan,” aku menunjuk lukisan Mandira di atas televisi.

Lalita sedang sibuk di belakang membuat minuman dan menyiapkan kudapan ringan.

Pemburu tokek bersijingkat mendekati lukisan Mandira. Dibukanya perlahan lukisan Mandira. Dan benar! Tokek yang selama ini membuat rumah kami ramai berdiam di sana. Pemburu itu meletakkan lukisan dengan hati-hati agar tokek itu tidak terkagetkan. Secepat kilat, pemburu itu menangkap dengan tangan kanan. Begitu profesional. Kemudian tokek itu dielus-elus untuk mengurangi ketegangan. Lantas dimasukkan ke dalam keranjang kotak dari kawat berongga.

“Hebat, Pak!” aku memujinya. “Kami sudah berusaha menangkap dan mengusirnya, tapi tokek itu selalu berhasil menghindar.”

Pemburu itu membuka topeng dan melepas sarung tangan. Kusaksikan totol-totol kuning dan merah yang mewarnai sekujur tubuh tokek. Indah memang. Wajahnya hampir didominasi oleh bundar mata yang besar. Tubuhnya pun semakin gemuk, dibandingkan pertama kali kulihat.

“Saya berani membelinya sejuta, Pak.”

Aku dan Lalita saling pandang. Kamu heran bagaimana seekor tokek yang tidak pernah kami beri makan bisa dihargai dengan begitu mahal.

“Bagaimana?” pemburu tokek itu kembali bertanya menunggu jawaban kami.

“Silakan,” Lalita menjawab tanpa pernah kuduga.

Tokek itu kami lepas dengan setumpuk uang.

Selepas pemburu itu pergi, kutanya mengapa Lalita rela menjualnya. Padahal dia berkeyakinan itu adalah tokek yang dihadiahkan Tuhan sebagai pengganti keceriaan Lalita.

“Mas lupa, kalau tokek itu pembawa rejeki?”

Aku masih diam.

“Ini yang rejeki tokek bawa untuk kita,” Lalita tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam dompet.

“Katanya suara tokek menggembirakan?” Apa Lalita lupa bahwa suara tokek sudah menyemarakkan rumah?

Lalita terdiam. Aku tidak lagi menimpali. Seketika seekor prenjak hinggap di jendela rumah kita. Dia berkicau lebih riang daripada suara tokek.

“Itu!” Lalita menunjuk ke arah jendela dengan wajah lebih gembira.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s