Resensi

Menelisik Sejarah Melalui Komik Cantik

(Radar Surabaya, 12 Oktober 2014)
rampokan jawa

Siapa yang tidak menyukai komik? Seni gambar yang mengandung alur cerita ini hampir disukai oleh kebanyakan orang, anak-anak, remaja, bahkan tidak jarang orang dewasa duduk khusyuk menikmati gambar-gambar yang bercerita dalam kotak panel. Sepertinya klausa inilah yang membuat penulis, Peter van Dongen menyajikan komik dengan rasa yang berbeda. Kalau biasanya komik berkisah tentang superhero yang menyelamatkan dunia dengan kekuatan magik, di komik dengan judul “Rampokan Jawa dan Selebes” bertutur tentang sejarah Hindia Belanda. Sebuah usaha menarik untuk mendekatkan pembaca pada wacana sejarah.

Komik ini sejadinya adalah gabungan antara dua komik yang sudah terbit sebelumnya, yaitu  Rampokan Java (1998) &  Rampokan Celebes (2004) yang terbit di Belanda. Bagi penikmat komik di Indonesia, nama Peter van Dongen sudah tidak asing lagi. Komikus kenamaan asli Belanda yang memiliki darah Makasar ini dikenal publik dengan goresan komik yang detail dan fokus latar penceritaan adalah Java (Jawa) dan Selebes (Sulawesi).

Dalam sebuah kesempatan wawancara penulis memberi alasan bahwa ketertarikan menjadikan Jawa dan Sulawesi sebagai latar cerita komiknya adalah keterikatan dengan masa lalu dirinya. Menurutnya Jawa adalah pusat dari pemerintahan Hindia Belanda di masa penjajahan dan aneka perang kemerdekaan Indonesia terjadi di Jawa. Jawa adalah jantung Indonesia. Sedangkan Sulawesi dipilih karena keterikatan emosional dan kuatnya kenangan. Ibunya pernah tinggal di Makasar dan ketertarikan Peter van Dongen pada Kapten Westerling yang bertanggung jawab atas berbagai aksi militer yang menewaskan banyak warga Sulawesi.

Komik ini berkisah tentang seorang relawan Belanda, bernama John Knevel yang ke Indonesia bersama kapal tentara Belanda pada tahun 1946. Kedatangannya ke Indonesia juga bermaksud untuk napak tilas masa kecil bersama pengasuhnya yang asli Indonesia, bernama Ninih. Dalam perjalanannya menuju Pulau Jawa, John tanpa sengaja membunuh Erik Verhagen berkebangsaan Belanda dan berhaluan komunis. Kontan rasa bersalah terus mengganggu pikiran John.

Sesampainya di Tajung Priok, John kemudian ditugaskan ke Bandung. Aneka peristiwa, terutawa gesekan antara tentara Belanda dan Indonesia dihadapi oleh John yang sudah berganti identitas menjadi Erik Verhagen. Kondisi semakin buruk memaksanya berpindah ke Makassar. Kepergian ke Makassar juga bermaksud melakukan pencarian Ninih si pengasuh masa kecilnya. Sayang keputusannya memakai identitas Erik menjadi penghambat dalam napak tilas masa kecil John. Sebab John memakai identitas Erik yang komunis membuatnya menjadi buronan tentara Belanda.

Dalam komik ini, penulis begitu indah menuangkan kondisi Indonesia pada awal-awal kemerdekaan dalam gambar visual. Sehingga pembaca tanpa harus mengerutkan dahi dalam membayangkan adegan per adegan yang disajikan dalam novel ini. goresan-goresan, detail suasana, dan bagaimana rupa manusia Indonesia masa itu jelas tergambar dalam komik ini. Benar kata orang bijak bahwa gambar bisa berkisah melebihi 1000 kata.

Selain itu, dalam komik ini juga kita dapat melihat sejarah-sejarah lain yang terjadi di negeri ini. Misalnya suasana Indonesia pasca kejatuhan Jepang di Perang Dunia II, reaksi bangsa Indonesia saat menyambut kedatangan Belanda di tahun 1946, juga bagaimana relasi pedagang peranakan China dengan orang-orang Belanda maupun pribumi, juga peran orang China dalam kemerdekaan negara Indonesia. Hal menarik selanjutnya adalah bagaimana penulis, yang berdarah Makassar-Belanda mengambil sudut pandang netral ketika Jepang kalah dan itu menjadi awal kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Peter van Dongen dalam penulisan ini bertugas layaknya seorang wartawan yang menangkap fenomena di seluruh Hindia Belanda.

Dalam komik ini pula, disinggung budaya Rampok Macan yang kondang pada abad ke-19 di daerah Kediri. Rampok Macan kegiatan budaya dimana seekor macan hasil buruan dikepung oleh prajurit Kerajaan Majapahit yang berlapis-lapis untuk dibunuh beramai-ramai. Harimau hasil tangkapan itu harus berhasil dibunuh oleh prajurit kerajaan. Dalam kepercayaan masa itu, apabila seekor macan berhasil meloloskan diri maka akan terjadi bencana besar. Ini juga menjadi simbol yang menarik dalam keseluruhan komik.

John bisa diartikan sebagai seekor macan yang lepas dari buronan tentara Belanda. Dalam arti sesungguhnya karena John benar-benar berhasil lolos dari kejaran tentara Belanda. Seekor macan lepas dalam rampokan macan dan John berhasil lolos dari kepungan tentara selama pelarian di Jawa dan Makassar. Makna selanjutnya yang bisa ditafsirkan adalah lolosnya John menjadi penanda akan muncul sebuah kejadian buruk besar bagi Kerajaan Belanda. Dan bencana besar bagi Belanda itu adalah kemerdekaan bagi Indonesia.

Peter van Dongen benar-benar membuktikan bahwa gambar bisa berkisah melebihi seribu kata. Semua latar di tiap panel baik persawahan, hutan, kampung, kuburan, pelabuhan, situasi kota (Jakarta, Bandung, Makasar) dengan bangunan-bangunan yang beberapa masih berdiri hingga kini, pecinan, dll tersaji sempurna dalam hitam-putih dan sephia. Selain suasana pasar, bongkar muat di pelabuhan, adu ayam, becak, tukang cukur di bawah pohon, penjual jamu gendongan, dapat dideskripsikan baik walau tanpa satu kalimat pun. Hingga kisah sejarah menjadi apik dan menarik untuk dinikmati. Selepas membaca novel grafis atau komik ini, terbersit pertanyaan apakah sejarah lain di negeri ini bisa dilukiskan dalam komik? G30S? Serangan Umum 11 Maret? Dekrit Presiden? Atau bahkan kisruhnya sidang DPR?(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s